Konten dari Pengguna

Selamat Jalan Lord Didi, Karyamu Abadi

Moh Fajri

Moh Fajriverified-green

Editor kumparanBisnis

clock
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moh Fajri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nggak ngerti kalimat seperti apa yang pas digunakan untuk menggambarkan kehilangan Lord Didi Kempot. Kaget, ya sudah pasti. Sedih, ya mesti. Tapi, mau bagaimana lagi? 

Lord Didi telah pergi. Ini nyata, bukan mimpi. Kayak masih nggak percaya, tapi beneran terjadi. Ya, mau bagaimana lagi?

**

Menengok jauh ke belakang, aku jadi ingat, waktu kecil rambutku selalu dicukur gaya kuncung oleh bapakku. Tidak heran kalau lagu Lord Didi yang judulnya Kuncung itu sering banget dinyanyikan teman-temanku pas kecil. 

Tangkapan layar video klip Kuncung di youtube

Entah mereka sengaja nyanyi atau hanya untuk mengejek gaya rambutku. Aku nggak tahu. Hal yang pasti, rambut kuncungku bertahan sampai awal kuliah. Dan, lagu Kuncung juga dinyanyikan temanku kuliah tapi petikan liriknya diganti dengan kata yang patut saya sensor.

“Zaman ndisik durung usum sabun, Fajri arep ngl*** rodok bingung. Andukku mung cukup, anduk sarung. Dolananku montor cilik soko lempung,” Rendy yang sering ngubah lirik itu.

Secara tidak sadar ternyata lagu Lord Didi sudah akrab di telingaku sejak kecil. Waktu aku Ibtidaiyah atau setara SD, lagu Cucak Rowo benar-benar meledak di desaku. Sayangnya, dulu mana tahu kalau itu lagunya Lord Didi. Tahunya nyanyi, joget apalagi pas sampai liriknya di "Yen digoyang ser-ser aduh enak e.'

Saat itu belum ada pikiran juga kalau lagunya Lord Didi banyakan bertema patah hati, kenangan, nelangsa, sampai ditinggal lunga. Ya maklum, masa-masa itu aku mana tahu rasanya patah hati.

Aku baru mulai belajar memahami lagu-lagunya Lord Didi pas kuliah. 

Guntur, kawanku yang jago nyanyi, sering sekali pas manggung di acara-acara kampus bawain lagu Sewu Kutho. Padahal, dulu itu cah enom-enoman mana ada yang ngeh dengan lagu tersebut. Zamanku kuliah ngetrendnya ya JKT 48 atau Cherrybelle.

Tapi, Guntur tetap nyanyi Sewu Kutho dan aku tetap mendengarkan. Sesekali kami memang nyanyi lagu tersebut di tongkrongan.

“Selain Jamrud dan Nicky Astria, lagu-lagu Didi Kempot selalu disetel tiap minggu pagi di rumah. Bahkan ketika beberapa kali manggung, Sewu Kutho dan Layang Kangen sering saya bawakan, akustik. Saya tidak peduli penonton paham atau tidak. Saya hanya sedang napak tilas masa kecil,” tulis Guntur melalui status WhatsApp, tak lama setelah kabar kepergian Lord Didi.

Angkat gelas, kita minum sinom buatan ibukmu, Tur.

Menelisik lebih jauh, ternyata, aku pas kuliah juga pernah manggung bareng Bambang, Fatah, Alfan, Radit, dan Rendy bawain lagunya Lord Didi judulnya Tanjung Perak. Dulu mana peduli kalau itu lagunya Lord Didi. Pokoknya diaransemen gedebak-gedebuk beres. Untungnya liriknya nggak diganti kata-kata jorok sama Rendy.

Ini pas main lagu Tanjung Perak. Dok Istimewa

Iya, masa itu mungkin judul lagu-lagu Lord Didi lebih dikenal dibanding nama Lord Didi sendiri. Lagu Suket Teki, Kalung Emas, sampai Banyu Langit sering dibawakan Dek Via Vallen pas off air dari panggung ke panggung. Aku sempat khawatir ada Vyanisty newbie yang ngira itu lagunya Via Vallen. Untungnya kekhawatiranku tidak terjadi. 

Via Vallen juga sudah sudah pernah ngajak duet Lord Didi saat konsernya di salah satu stasiun televisi swasta. Mereka membawakan lagu Suket Teki dan itu pecah. Aku bayangin konser seperti itu ada lagi. Dan, aku ada di situ, di atas panggung walau cuman bagian nyolokin kabel.

Tangkapan layar dari youtube Indosiar.

Seiring berjalannya waktu, di usia yang tidak lagi muda, Lord Didi dan lagu-lagunya menggema di mana-mana. Sebuah kondisi yang sudah seharusnya seperti itu, dari dulu.

Konsernya selalu ramai dipadati anak muda yang lebih akrab disapa Sobat Ambyar. Mereka dengan bangga nyanyi bersama lagu-lagu bertema patah hati berbahasa jawa.

Tangkapan layar dari youtube viva.

Aku memang belum pantas menyandang gelar Sobat Ambyar garis keras, tapi setidaknya, bolehlah aku mengucapkan terima kasih kepada Lord Didi atas karya-karyanya yang melegenda. Lord Didi yang beberapa lagunya bisa membuat orang belum jatuh cinta tapi sudah bisa merasakan patah hati.

Lord Didi sering bilang kalau sedih, patah hati itu ndak usah ditangisi tapi dijogeti. Tampaknya wejangan itu sepertinya tidak berlaku untuk hari ini. 

Izinkan kalau ada Sobat Ambyar yang dadanya sesak atau sampai mbrebes mili gara-gara patah hati sampean tinggal, Lord. Ditinggal pergi itu memang berat. Apalagi sampean pergi untuk selamanya, Lord. 

Aku sebener e wes nduwe rencana sok mben ngajak bojoku nonton konsermu langsung, Lord. Tapi, arep kepiye maneh?

Tangkapan layar dari instagram kumparan.

Selamat jalan, Lord Didi. Karyamu abadi.