Kumparan Logo

Sinergi SMV Kemenkeu Dorong Kemiri NTB Tembus Pasar Global

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
LPEI dorong kemiri NTB tembus pasar global. Foto: Dok. LPEI
zoom-in-whitePerbesar
LPEI dorong kemiri NTB tembus pasar global. Foto: Dok. LPEI

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus mendorong optimalisasi peran Special Mission Vehicle (SMV) sebagai bagian dari kekayaan negara untuk memberikan nilai tambah bagi perekonomian dan masyarakat.

Sejak 2022, DJKN menginisiasi agar seluruh SMV bersinergi melaksanakan TJSL sebagai upaya mengoptimalkan peran dan kompetensi masing-masing dalam memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Sinergi SMV Kementerian Keuangan Tahun 2026 bertajuk “Pemberdayaan Komoditas Desa Devisa Kemiri Nusa Tenggara Barat yang Berkelanjutan dan Berorientasi Ekspor”, yang diluncurkan di Mataram, Kamis (24/9).

Program ini menjangkau 40 desa dan 350 petani binaan dengan cakupan lahan sekitar 7.836 hektare dan produksi sekitar 120 ton kemiri per tahun. Intervensi dilakukan secara terintegrasi, mulai dari penanaman bibit dan peningkatan kapasitas petani, pembangunan sentra produksi, modernisasi pascapanen, pemanfaatan energi surya, hingga pengembangan produk turunan seperti minyak kemiri dan briket.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, pengembangan potensi daerah menjadi bagian penting dalam memperluas sumber pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah Pusat berperan sebagai enabler untuk mendorong potensi ekonomi daerah agar berkembang lebih cepat sehingga daerah tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan.

“Saya senang melihat semangat sinergi yang sangat kuat di NTB. Semangat ini sejalan dengan visi pembangunan NTB, yaitu ‘Bangkit Bersama Menuju NTB Provinsi Kepulauan yang Makmur dan Mendunia’. SMV hadir untuk menginisiasi, memperkuat kapasitas, membangun ekosistem, dan membuka akses. Setelah modelnya terbentuk dan kegiatan ekonominya berjalan, Pemerintah Daerah bersama masyarakat dan pelaku usaha diharapkan dapat melanjutkan dan memperbesar skalanya,” kata Suahasil dalam sambutan yang dibacakan oleh Staf Ahli Menteri Keuangan, Dwi Teguh Wibowo.

Delapan SMV mengambil peran sesuai dengan mandat dan kompetensinya. LPEI atau Indonesia Eximbank mendukung pengolahan pasca panen dan penyediaan alat penunjang produk kemiri; PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII) memperkuat kapasitas petani di Lombok, Sumbawa, dan Bima; sedangkan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) mendukung penanaman bibit kemiri.

PT Sarana Multigriya Finansial (PT SMF) mendukung pembangunan sentra produksi, PT Geo Dipa Energi (PT GDE) memasang panel surya, dan PT Karabha Digdaya mendukung pengelolaan pasca panen. Sementara itu, Indonesia Infrastructure Finance (IIF) dan PT Sejahtera Eka Graha mengembangkan produk turunan berupa briket dan minyak kemiri.

Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

“Kemiri adalah salah satu potensi NTB yang dapat kita tingkatkan nilai tambahnya. Kolaborasi ini penting agar pengembangannya tidak berhenti pada produksi, tetapi terhubung dari hulu hingga hilir dan mampu menjangkau pasar global. Kami berharap manfaat akhirnya kembali kepada masyarakat melalui peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan tumbuhnya kegiatan ekonomi di daerah,” ujar Iqbal.

LPEI dorong kemiri NTB tembus pasar global. Foto: Dok. LPEI

Direktur Eksekutif LPEI Sukatmo Padmosukarso mengatakan, sinergi SMV diharapkan dapat membangun ekosistem kemiri NTB yang semakin kuat, mulai dari peningkatan kapasitas produksi hingga membuka akses ke pasar global. Sebagai lembaga yang memiliki mandat mendorong ekspor nasional, LPEI berperan memperkuat kesiapan produk dan pelaku usaha agar mampu memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

“Kemiri NTB memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditas ekspor bernilai tambah. Tantangannya adalah bagaimana kita menghubungkan potensi di tingkat petani dengan standar kualitas, pengolahan, dan akses pasar global. Melalui sinergi SMV, kami ingin membangun rantai nilai yang lebih kuat sehingga manfaat ekspor tidak hanya terlihat dari peningkatan transaksi, tetapi juga dirasakan oleh petani dan masyarakat di daerah,” ujar Sukatmo.

Berdasarkan kajian dan asesmen lapangan Yayasan Insan Bumi Mandiri, program ini diharapkan meningkatkan jumlah petani yang terlibat di Lombok, Sumbawa, dan Bima menjadi 550–720 orang dan produksi secara bertahap menjadi 2.400–3.600 ton per tahun.

Pendapatan petani ditargetkan meningkat 20–25 persen dan efisiensi produksi 60–70 persen. Program juga diharapkan menambah 3–6 negara tujuan ekspor serta meningkatkan nilai ekonomi lokal sekitar Rp30 miliar–Rp40 miliar per tahun.

Rangkaian peluncuran juga diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman antara LPEI dan Pemerintah Provinsi NTB mengenai pengembangan kapasitas UMKM berorientasi ekspor. LPEI turut menyerahkan Buku Potensi Ekspor NTB yang memuat kajian komoditas unggulan daerah untuk dikembangkan ke pasar global.

Kegiatan ditandai pula dengan simbolisasi penyerahan bibit kemiri & pelepasan ekspor komoditas unggulan NTB berupa kemiri tujuan Jepang dengan potensi pasar Singapura serta vanilla tujuan Amerika Serikat sebanyak 1,4 ton dengan nilai Rp 3,8 miliar, dan showcase produk unggulan dari 16 pelaku usaha binaan SMV di NTB.

Pada kesempatan tersebut, LPEI juga menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai upaya memperkuat daya saing ekspor daerah. Nota Kesepahaman tersebut mencakup komitmen kerja sama dan sinergi antara LPEI dan Pemerintah Provinsi NTB dalam pengembangan kapasitas usaha kecil dan menengah (UKM), koperasi, serta badan usaha milik desa (BUM Desa) yang berorientasi ekspor di NTB.

Peluang Pasar Ekspor Masih Terbuka

Kajian IEB Institute mencatat nilai ekspor kemiri Indonesia mencapai USD 9,58 juta pada Januari–September 2025. Pada 2024, Indonesia berada di peringkat ke-13 eksportir kemiri dunia dengan pangsa sekitar 0,5 persen dari ekspor global. Bangladesh dan Malaysia menjadi dua pasar utama dengan pangsa gabungan 64 persen.

Di sisi lain, peluang perluasan pasar masih terbuka. Tiongkok, Amerika Serikat, Vietnam, Jerman, dan Belanda teridentifikasi sebagai pasar dengan potensi ekspor yang belum tergarap. Karena itu, peningkatan kualitas, konsistensi produk, modernisasi pengolahan, dan penguatan akses pasar menjadi bagian penting dalam pengembangan kemiri NTB.

Pengembangan ekspor kemiri NTB dapat diarahkan pada peningkatan nilai tambah, penguatan mutu, dan perluasan akses pasar. Kemiri memiliki potensi sebagai komoditas rempah dan bahan baku industri pangan, terutama untuk produk bumbu, saus, makanan olahan, dan minyak nabati. Namun, agar dapat masuk ke pasar ekspor secara lebih kompetitif, kemiri NTB tidak cukup hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi perlu dikembangkan menjadi produk yang lebih siap industri sepertikemiri kupas, kemiri sangrai, kemiri bubuk, pasta bumbu, dan minyak kemiri.