Kumparan Logo

Subsidi Energi dan Nonenergi pada 2027 Dianggarkan Rp 387,9 Triliun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengendara motor antre untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di salah satu SPBU di Jakarta, Senin (18/11/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengendara motor antre untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di salah satu SPBU di Jakarta, Senin (18/11/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi sebesar Rp 387,88 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Anggaran tersebut terdiri atas subsidi energi Rp 272,9 triliun dan subsidi nonenergi Rp 114,9 triliun.

Berdasarkan Buku II Nota Keuangan RAPBN 2027, total anggaran subsidi tersebut meningkat dibandingkan outlook 2026. Kenaikan terutama berasal dari subsidi energi yang dipengaruhi meningkatnya kebutuhan subsidi BBM, LPG 3 kg, dan listrik.

Angka subsidi energi tahun depan itu naik 20,1 persen, dibandingkan outlook 2026 sebesar Rp 227,2 triliun. Dari total tersebut, pemerintah mengalokasikan Rp 142,8 triliun untuk subsidi jenis BBM Tertentu dan LPG tabung 3 kg. Anggaran ini meningkat 22,2 persen dibandingkan outlook 2026 sebesar Rp 116,8 triliun.

Pemerintah juga melanjutkan upaya memperbaiki ketepatan sasaran subsidi LPG 3 kg. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendata pengguna LPG 3 kg dengan memanfaatkan teknologi.

Dengan kebijakan subsidi energi dari Pemerintah, Pertamina memastikan LPG 3 Kg terdistribusi hingga ke pelosok melalui program OVOO, ke desa-desa dan kampung-kampung terpencil. Foto: Dok. Pertamina

Melalui kebijakan tersebut, LPG 3 kg secara bertahap diarahkan hanya untuk masyarakat yang telah terdata dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Pelaksanaannya tetap mempertimbangkan kesiapan data dan infrastruktur, serta kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Selain BBM dan LPG, pemerintah menyiapkan subsidi listrik Rp 130,1 triliun dalam RAPBN 2027. Anggaran tersebut naik 17,8 persen dibandingkan outlook 2026 sebesar Rp 110,4 triliun.

Kenaikan subsidi listrik terutama dipengaruhi oleh meningkatnya biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik dan volume listrik yang mendapatkan subsidi.

Peningkatan BPP antara lain dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, perubahan harga minyak mentah atau Indonesia Crude Price (ICP) akibat konflik geopolitik global, serta meningkatnya produksi listrik dari pembangkit berbahan bakar gas.

Subsidi Nonenergi Rp 114,9 Triliun

Pemerintah mengalokasikan subsidi nonenergi sebesar Rp 114,9 triliun dalam RAPBN 2027. Angka ini meningkat 4,6 persen dibandingkan outlook 2026 sebesar Rp 109,9 triliun.

Subsidi nonenergi tersebut terdiri atas subsidi pupuk Rp 48,2 triliun, subsidi Public Service Obligation (PSO) Rp 9,8 triliun, subsidi bunga kredit program Rp 46,5 triliun, dan subsidi Pajak Ditanggung Pemerintah (DTP) Rp 10,4 triliun.