Kumparan Logo

Trump Kenakan Tarif 15 Persen untuk Bahan Baku Panel Surya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden AS Donald Trump berbicara di sebuah rapat umum Hari Kemerdekaan, menandai peringatan 250 tahun kemerdekaan AS, di National Mall di Washington, D.C., AS, Sabtu (4/7/2026). Foto: Evan Vucci/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Donald Trump berbicara di sebuah rapat umum Hari Kemerdekaan, menandai peringatan 250 tahun kemerdekaan AS, di National Mall di Washington, D.C., AS, Sabtu (4/7/2026). Foto: Evan Vucci/REUTERS

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menerapkan tarif sebesar 15 persen dan harga minimum impor terhadap polisilikon. Bahan tersebut adalah bahan baku panel surya sampai microchip yang sebagian besar diproduksi oleh China.

Dikutip dari Reuters, keputusan itu diterapkan melalui Section 232 Trade Expansion Act of 1962 yang bertujuan mendukung rantai pasok chip dan energi surya domestik yang dibutuhkan AS untuk bersaing dengan Beijing dalam bidang kecerdasan buatan dan energi.

Gedung Putih menyebut perdagangan tersebut akan mulai berlaku pada 4 Desember. Keputusan tersebut juga memberikan kewenangan kepada Departemen Perdagangan AS untuk membuat program insentif bagi perusahaan yang berinvestasi dalam pembangunan pabrik untuk memproduksi polisilikon atau produk turunannya.

Menurut dokumen Gedung Putih, Trump menetapkan harga minimum impor sebesar USD 21 per kilogram untuk polisilikon, USD 100 per kilogram untuk ingot dan wafer polisilikon, USD 0,22 per watt untuk sel surya, USD 0,38 per watt untuk modul atau panel surya.

"Rencana tindakan dalam keputusan ini antara lain akan membantu memastikan kelayakan komersial produksi polisilikon dan turunannya di Amerika Serikat yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan keamanan nasional Amerika Serikat," tulis pengumuman tersebut, Jumat (7/8).

Selama satu dekade terakhir, pabrik-pabrik panel surya AS menuduh pesaing dari China melakukan praktik dumping, menerima subsidi pemerintah yang tidak adil, serta memindahkan kegiatan produksi ke negara lain untuk menghindari tarif AS.

Di AS sendiri saat ini terdapat dua pabrik polisilikon. Pertama, Hemlock Semiconductor yang mengoperasikan pabrik di Michigan yang juga merupakan perusahaan patungan antara Corning dan Shin-Etsu Handotai dari Jepang. Kedua, perusahaan asal Munich Wacker Chemie mengoperasikan pabrik di Tennessee.

"Keputusan hari ini mendorong kelanjutan investasi dalam kapasitas produksi AS dan mendukung daya saing Amerika Serikat dalam jangka panjang," kata juru bicara Corning.

Sementara Wacker mengatakan mereka masih meninjau kebijakan tersebut untuk memahami dampaknya secara menyeluruh.

"Kami menghargai keterlibatan berkelanjutan pemerintah dalam isu ini mengingat dampaknya terhadap ketahanan rantai pasok semikonduktor, infrastruktur komputasi canggih, serta kepentingan pertahanan dan keamanan AS yang lebih luas," kata perusahaan tersebut dalam sebuah pernyataan.

Sedangkan, sejumlah perusahaan yang memiliki pabrik panel surya di AS termasuk T1 Energy, First Solar, dan Qcells yang merupakan unit energi surya AS milik Hanwha dari Korea Selatan menyambut baik kebijakan Trump tersebut.

"Ini merupakan kemenangan menentukan bagi manufaktur maju Amerika dan investasi dalam rantai pasok energi domestik," kata CEO T1 Energy, Dan Barcelo dalam sebuah pernyataan.