Wall Street Melemah, Investor Tunggu Laporan Keuangan Perusahaan di AS

Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (17/8), di tengah sikap hati-hati investor yang menanti laporan keuangan sejumlah peritel besar Amerika Serikat (AS). Di sisi lain, harga minyak mentah melonjak lebih dari USD 2 per barel karena investor menilai belum ada kemajuan berarti dalam upaya diplomasi antara AS dan Iran.
Dikutip dari reuters, Selasa (18/8), indeks energi menjadi satu-satunya dari 11 sektor utama S&P 500 yang menguat, yakni 0,87 persen. Sementara itu, sektor jasa komunikasi dan kebutuhan pokok konsumen masing-masing turun sekitar 1,5 persen. Sektor keuangan dan barang konsumsi diskresioner juga melemah lebih dari 1 persen.
Pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average (DJI) turun 272,63 poin atau 0,51 persen menjadi 53.459,78. S&P 500 melemah 40,70 poin atau 0,52 persen ke level 7.745,06, sedangkan Nasdaq Composite turun 84,25 poin atau 0,31 persen menjadi 26.644,91.
Kepala strategi pasar Osaic Wealth, Phil Blancato menilai investor kini menunggu laporan keuangan perusahaan ritel besar untuk mencari petunjuk mengenai kondisi konsumen AS. Home Depot dijadwalkan melaporkan kinerja pada Selasa, sementara Walmart akan menyampaikan laporan keuangannya pada Kamis.
"Pasar sedikit lesu dan menunggu laporan ritel untuk menentukan arah," kata Phil Blancato, kepala strategi pasar Osaic Wealth.
Menurutnya, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh data ekonomi AS terbaru yang menunjukkan pelemahan penjualan ritel dan pasar tenaga kerja. Aktivitas perdagangan pada Agustus juga cenderung lebih sepi karena banyak investor mengambil libur musim panas.
Saham Teknologi Jadi Perhatian
Pergerakan saham teknologi juga menjadi perhatian investor, terutama terkait besarnya investasi perusahaan dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan pertanyaan mengenai seberapa besar investasi tersebut akan menghasilkan keuntungan.
Sektor teknologi S&P 500 turun hampir 0,2 persen setelah bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan. Saham perusahaan semikonduktor justru menguat, dengan indeks PHLX Semiconductor naik 1,6persem. Sebaliknya, indeks Software & Services S&P 500 turun 2,8 persen.
Microsoft dan Meta Platforms menjadi pemberat terbesar bagi S&P 500 setelah masing-masing turun lebih dari 3 persen. Di sisi lain, saham semikonduktor memberikan dorongan terbesar terhadap indeks. Micron Technology naik 4 persen, sedangkan Applied Materials melonjak 5,5 persen.
Investor juga menantikan laporan keuangan Nvidia yang akan dirilis pekan depan. Nvidia menjadi salah satu perusahaan yang paling diperhatikan pasar seiring tingginya ekspektasi terhadap pertumbuhan bisnis AI.
Pergerakan saham Nvidia dan perusahaan teknologi besar lainnya akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat apakah reli saham berbasis AI masih memiliki ruang untuk berlanjut.
Sementara itu, harga minyak mentah naik lebih dari USD 2 per barel. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran investor bahwa belum adanya kesepakatan antara AS dan Iran dapat memperbesar risiko gangguan pasokan minyak global.
Kondisi tersebut membuat saham perusahaan energi menjadi satu-satunya sektor utama S&P 500 yang berhasil mencatat kenaikan pada perdagangan Senin.
Secara keseluruhan, saham yang melemah mendominasi perdagangan. Di New York Stock Exchange (NYSE), saham yang turun berbanding saham yang naik dengan rasio 1,76:1. Sementara di Nasdaq, sebanyak 3.106 saham turun dibandingkan 1.848 saham yang menguat.
S&P 500 mencatat 19 saham yang mencapai level tertinggi dalam 52 minggu terakhir dan empat saham mencatat level terendah baru. Di Nasdaq, terdapat 88 saham yang mencetak rekor tertinggi baru, sementara 113 saham mencapai level terendah baru.
Total volume perdagangan di bursa AS mencapai 14,74 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 hari terakhir yang berada di 16,95 miliar saham selama 20 sesi terakhir.
