Kumparan Logo

Wall Street Menguat Ditopang Saham Sektor Kesehatan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street menguat pada perdagangan Rabu (19/8). Kenaikan terjadi setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS turun, sehingga investor kembali berani membeli aset berisiko. Kenaikan juga ditopang reli saham sektor kesehatan, terutama Moderna yang melonjak hampir 177 persen.

Dikutip dari Reuters, Kamis (20/8), indeks Dow Jones tercatat naik 119,65 poin atau 0,22 persen ke 53.463,05. S&P 500 bertambah 16,22 poin atau 0,21 persen menjadi 7.707,98, sedangkan Nasdaq naik 41,38 poin atau 0,16 persen ke 26.331,09.

Penguatan bursa terjadi setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury turun. Sehari sebelumnya, imbal hasil Treasury bertenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007.

Penurunan imbal hasil terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menggandakan nilai pembelian kembali obligasi pemerintah AS dengan jangka waktu panjang. Langkah ini membantu menambah likuiditas di pasar dan meredakan kekhawatiran investor terhadap kenaikan suku bunga.

"Perdagangan aset berisiko kembali mendapat dorongan setelah kebijakan yang diumumkan Menteri Keuangan Bessent membantu meredakan tekanan dari kenaikan yield obligasi," ujar Carol Schleif, Chief Market Strategist BMO Private Wealth.

Sebelumnya, kenaikan imbal hasil obligasi membuat saham teknologi, terutama perusahaan besar yang banyak mengeluarkan dana untuk membangun pusat data kecerdasan buatan (AI), ikut tertekan. Biaya pinjaman yang lebih tinggi dinilai dapat membuat perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membiayai ekspansi.

Chief Investment Officer Plante Moran Financial Advisors Jim Baird mengatakan, investor kemungkinan mengambil keuntungan setelah indeks saham menguat pada awal perdagangan. Menurutnya, langkah pemerintah AS belum menghilangkan persoalan kenaikan suku bunga dalam jangka panjang.

Di pasar saham, Moderna menjadi perhatian utama setelah saham perusahaan bioteknologi tersebut melonjak hampir 177 persen. Kenaikan ini menjadi rekor penguatan harian Moderna setelah perusahaan mengumumkan hasil uji klinis tahap akhir terapi kanker berbasis mRNA yang dikembangkan bersama Merck. Saham Merck melonjak 12,6 persen. Saham Novavax juga naik 10,8 persen, sementara saham BioNTech yang diperdagangkan di AS melonjak 22 persen.

Kinerja saham-saham tersebut membuat indeks sektor kesehatan S&P 500 naik 3,5 persen. Ini menjadi kenaikan harian terbesar sektor tersebut sejak April 2025 sekaligus membawa sektor kesehatan ke rekor tertinggi.

Sektor barang konsumsi nonprimer juga menguat 2 persen. Sebaliknya, sektor industri turun 0,9 persen, sedangkan sektor teknologi informasi melemah 0,7 persen karena saham perusahaan chip tertekan.

Meski sektor teknologi secara umum melemah, saham Marvell Technology justru melonjak 9,9 persen. Kenaikan terjadi setelah perusahaan mengumumkan kerja sama dengan Google untuk mengembangkan chip khusus. Marvell juga memberikan hak kepada Google untuk membeli saham perusahaan dengan nilai potensial mencapai USD 12,2 miliar.

Dari sisi kinerja perusahaan, saham Target naik 4,3 persen setelah peritel tersebut menaikkan target penjualan tahunannya. Saham Lowe's juga menguat 2 persen meski perusahaan memangkas perkiraan pertumbuhan penjualan tahunannya.

Sementara itu, saham perusahaan kosmetik Estée Lauder melonjak 16,3 persen setelah memperkirakan laba tahunan yang lebih tinggi dari perkiraan analis.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent juga naik. Investor masih mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran serta kondisi Selat Hormuz. Secara keseluruhan, 2.855 saham di Nasdaq menguat, sementara 1.967 saham melemah. Di Bursa New York (NYSE), saham yang naik juga lebih banyak dibandingkan saham yang turun dengan rasio 1,9 banding 1.

Total transaksi saham di bursa AS mencapai sekitar 16,92 miliar saham. Angka tersebut sedikit di bawah rata-rata perdagangan selama 20 hari terakhir yang mencapai 16,96 miliar saham.