Kumparan Logo

Zulhas Sebut Harga Beras Bisa Rp 20.000 per Kg Jika RI Terus Bergantung Impor

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026).  Foto: Widya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026). Foto: Widya/kumparan

Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan harga beras di Indonesia bisa mencapai Rp 20.000 per kilogram (kg) jika Indonesia bergantung pada beras impor.

Dia juga menyebut kebergantungan beras impor dapat mendorong masyarakat beralih mengonsumsi gandum. Sebab, komoditas ini harganya lebih murah.

“Kalau kita terus tidak mau tahu juga, nanti harga beras kita bisa sampai Rp 16.000, Rp 20.000, sementara harga harga-harga gandum akan murah. Orang akan pindah makannya,” kata Zulhas dalam gelaran peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9).

Zulhas juga mengungkapkan konsumsi gandum Indonesia meningkat signifikan dibandingkan pada 2004. Saat itu, kata Zulhas, konsumsi gandum Indonesia masih sekitar 3-4 juta ton, sedangkan kini mencapai 13 juta ton.

“Karena beras kita mahal, gandumnya murah, pindah. Dia enggak makan nasi goreng, makan roti, karena lebih murah, gitu. Nanti terus akan begitu. Kalau seperti itu, kita akan sangat tergantung, ya pasti enggak merdeka, enggak bisa begini,” ujar Zulhas..

Zulhas menekankan kondisi itu yang membuat swasembada pangan menjadi salah satu faktor penting bagi kemajuan suatu negara. Zulhas mengatakan Presiden Prabowo Subianto juga memandang swasembada pangan sebagai bagian dari kehormatan negara.

“(Swasembada pangan) ini yang akan menentukan masa depan kita. Pelan tapi pasti, gitu ya. Itu kira-kira. Jadi ini yang akan menentukan masa depan kita. Pelan tapi pasti,” ungkap Zulhas.

Zulhas Ungkap Biaya Produksi Beras RI 3 Kali Lipat dari Thailand dan Vietnam

Beras yang dijajakan di Pasar Klender SS, Minggu (14/6/2026). Foto: Widya/kumparan

Zulhas mengungkapkan biaya produksi beras di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Vietnam. Menurutnya, untuk menghasilkan 1 kilogram (kg) beras, biaya produksi di Indonesia disebut mencapai Rp 12.000 per kg, sementara Thailand dan Vietnam hanya sekitar Rp 3.800 per kg.

“Negara tetangga kita dekat, Thailand, Vietnam itu, untuk dapat 1 kilo beras, ya, dia hanya mengeluarkan biaya Rp 3.800 (per kg). Kita untuk 1 kg beras, itu perlu biaya Rp 12.000. Betapa kita kalah jauh tertinggal,” kata Zulhas.

Zulhas menilai tingginya biaya produksi tersebut membuat Indonesia tertinggal dibandingkan negara lain. Dia melihat penyebab ketertinggalan tersebut adalah dari sisi teknologi, penggunaan varietas baru, hingga manajemen pengolahan sawah.

Biaya Produksi Tebu RI Rp 14.000 per Kg, India-Brasil Tak Sampai Rp 4.000

Dalam kesempatan yang sama, Zulhas juga mengungkapkan tingginya biaya produksi tebu di Indonesia. Dia menyebut biaya untuk menghasilkan 1 kg tebu di Lumajang mencapai sekitar Rp 14.000.

“India sama Brasil itu ongkosnya kira-kira enggak sampai Rp 4.000 untuk dapat 1 kg. Kalau seperti itu, kita kan akan tertinggal terus,” terang Zulhas.

Zulhas juga menyoroti kesenjangan harga pangan antarwilayah di Indonesia. Salah satunya terlihat dari harga telur yang berbeda jauh antara Jakarta dan wilayah timur Indonesia.

Dia menyebut harga telur di Jakarta berada di kisaran Rp 26.000 hingga Rp 28.000 per kg. Sementara di Maluku dan Papua, harga telur bisa mencapai Rp 60.000 per kg.

“Kalau di Jakarta, kita makan pagi, ada telur, kita mungkin dapat harga Rp 28.000 1 kg, Rp 26.000 1 kg. Tapi saudara kita yang di Maluku, yang di Papua, itu bisa dapat harga Rp 60.000,” ungkap Zulhas.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi persoalan karena masyarakat di Papua dan NTT justru memiliki daya beli yang lebih rendah, tetapi harus membayar pangan dengan harga lebih mahal.

“Nah oleh karena itu tadi, berbasis wilayah itu harus swasembada. Oleh karena itu kita bangun di Perintah Pak Prabowo, kita harus membuat Papua itu mandiri. Maka kita bangun Wanam di sana,” tutur Zulhas.