Kumparan Logo

Zulhas Ungkap Produktivitas Kedelai RI 1 Ton per Ha, di Negara Maju Bisa 10 Ton

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menceritakan isi buku saat Peluncuran Buku Pangan Indonesia di Jakarta, Jumat (4/9/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menceritakan isi buku saat Peluncuran Buku Pangan Indonesia di Jakarta, Jumat (4/9/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkapkan produktivitas kedelai di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara maju.

Dia membeberkan saat ini produktivitas kedelai di Tanah Air hanya sekitar 1 ton per hektare, sementara di negara maju bisa mencapai 10 ton per hektare.

“Kita mulai kalah setelah negara-negara maju mengembangkan apa namanya tuh rekayasa genetik, ya. Jadi kalau kita tanam kedelai di sini, dengan bibit kita itu, ya, itu 1 hektare 1 ton. Sementara dia, 1 hektare bisa sampai 10 ton, gitu loh, jauh sekali,” kata Zulhas dalam peluncuran buku Pangan Indonesia: dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9).

Pekerja menunjukan kacang kedelai di salah satu distributor kedelai di Cibuntu, Bandung, Jawa Barat, Rabu (10/6/2026). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Menurut Zulhas, kesenjangan produktivitas tersebut membuat harga kedelai yang diproduksi di dalam negeri menjadi lebih mahal dan membuat sulit bersaing dengan kedelai dari negara lain.

“Jadi kalau kita tanam kedelai kita itu, harga kita bisa 3-4 kali lipat, gitu. Ah itu yang enggak sanggup, enggak bisa beli itu, anu, enggak, enggak makan tempe kita kalau begitu. Oleh karena itu, tidak semua kita lakukan sekaligus,” ujar Zulhas.

Meski begitu, Zulhas menekankan pemerintah tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan pangan secara sekaligus. Sehingga program swasembada pangan dijalankan secara bertahap, dimulai dari sejumlah komoditas strategis.

“Kita bertahap, sekarang beras, jagung, ya, kemudian ini kita akan berkembang ke gula, sama garam, terus ikan, daging belakangan, enggak mudah juga daging itu. Tapi kalau ikan kita bisa,” tutur Zulhas.