Sebagai Penyuluh Perindustrian, Biarkan Kubercerita tentang Pengabdian

Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan, Pemerintah Kota Prabumulih. Universitas Sriwijaya 2018
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Moh Ikhwan Alkahfi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Industri pengolahan mengambil peran terbesar dalam perekonomian Indonesia, 19,07% PDB di tahun 2025. Dengan pencapaiannya, ia mampu menegaskan pentingnya peran perindustrian dalam menopang keberlangsungan hidup negara Indonesia.-
Layaknya atom, pencapaian besar itu sebenarnya tersusun atas banyak pihak yang nampak kecil. Namun jika dikumpulkan ternyata menjadi penopang utama angka yang besar. Salah satu sektor perindustrian, Industri Kecil Menengah (IKM) membentuk 99,7% dari usaha industri Indonesia dengan jumlah sekitar 4,19 juta unit usaha.
Pencapaian ini tentu bukan hanya sekadar angka. Angka ini juga membuktikan adanya multiplier effect di perekonomian masyarakat. Terbukti, IKM memboyong 65,52% tenaga kerja industri nasional dan berkontribusi sekitar 21,44% total nilai output industri.
Di balik layar, ada tangan-tangan yang turut mendorong para IKM ini agar semakin maju dan berdaya. Merekalah Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan (Penyuluh Perindag), sekelompok ASN dengan tugas utama sebagai pembina dan pembimbing pelaku IKM dalam tingkat daerah masing-masing.
Di sinilah, cerita pengabdian kami, sebagai abdi negara berjuluk Penyuluh Perindag, kepada perekonomian bangsa dimulai. Cerita pengabdian ini bukan hanya tentang menjalankan tugas dan fungsi jabatan saja. Melainkan bagaimana kami menautkan kompetensi teknis, wawasan, dan empati dalam satu paket layanan pengabdian.
Mengabdi bukan hanya sebatas keinginan dan omongan. Mengabdi harus diiringi dengan tindakan untuk mencapai tujuan. Namun tindakan tidak seperti jalan bebas hambatan yang selalu mulus. Tantangan dan rintangan selalu siap menunggu kami di setiap persimpangan jalan. Tetapi kami pastikan itu tidak akan membuat kami berputar balik. Tantangan dan rintangan akan menjadi teman setia kami untuk memberi warna perjalanan pengabdian kami sebagai Penyuluh Perindag hingga mencapai tujuan core value BerAKHLAK.
Era dunia yang semakin dinamis ini, perubahan semakin acap terjadi. Memaksa pemangku kepentingan menyesuaikan kebijakan dan tanggapan yang ada dengan desakan perkembangan zaman. Melalui mulut dan tangan Penyuluh Perindag inilah, informasi kebijakan yang terkait Industri Kecil Menengah pada akhirnya sampai ke telinga dan mata para pelaku usaha.
Menggandeng tangan mereka untuk menyongsong perubahan dan era digital. Mengubah pandangan atas perubahan yang nampak seperti momok, namun sebenarnya sangat mengasyikkan jika kita mengetahui cara mainnya. Kalau sudah mengenal dengan baik, semua masyarakat akan sadar bahwa perubahan lah yang mengajak mereka berlayar menuju samudera peluang yang lebih luas.
Tidak sedikit pelaku usaha IKM yang berusia sepuh. Meskipun dengan sedikit tertatih-tatih dalam mengoperasikan gadget, semangat untuk menjalankan usaha tetap membara dengan jiwa mudanya.
Kami bukanlah robot. Kami tetaplah manusia yang penuh rasa empati. Dengan sabar kami membimbing para pelaku usaha layaknya membimbing orang tua masing-masing. Sesekali, dari mulut mereka keluar cerita-cerita nostalgia tentang masa lalu. Entah berkaitan dengan pengalaman mereka menjalankan usaha ataupun tidak. Seringkali tidak ada kaitannya dengan kegiatan usaha, seperti cerita tentang kesuksesan anak mereka hingga masa
Kami mendengarkan dengan rasa cinta, menyadurnya lewat tangan dan mulut yang senantiasa membimbing mereka menjalankan usaha. Dengan harapan, agar rasa cinta itu kembali ke sang pelaku usaha dan menyebar di setiap urat nadi kegiatan usaha mereka. Pada akhirnya, cinta itu akan sampai ke setiap masyarakat yang berhubungan dengan usaha mereka. Itulah salah satu muara aliran cinta pengabdian dari kami.
Tak jarang, spontan dari mulut mereka keluar keluhan terkait usaha mereka. Mengeluh itu manusiawi, karena kita adalah makhluk emosional. Apa yang bisa dibantu sesuai wewenang kami, akan kami bantu dan berikan saran. Apabila di luar wewenang, kami tetap berperan layaknya burung merpati sebagai pengantar pesan kepada pejabat yang lebih berwenang. Kami juga dapat berperan seperti Mama Dedeh, yang cukup mendengarkan curhatan mereka namun tanpa diperlukan untuk memberi saran.
“Terima kasih ya nak sudah membantu.” Sepatah kalimat terima kasih dari pelaku usaha IKM yang kedengarannya sederhana. Namun bagi kami itu bisa menjadi bahan bakar untuk meningkatkan performa kerja dan semakin bersemangat memberikan pelayanan kepada yang lain.
Kurang rasanya jika hanya membimbing dan membina pelaku usaha IKM terkait usahanya. Agar semakin berdaya saing, perlu untuk memperkenalkan produk-produk mereka ke luar daerah. Di sini Penyuluh Perindag tidak hanya beroperasi di dalam saja. Kami juga bergerak dan menyebar keluar daerah untuk memperkenalkan produk kerajinan daerah ke luar.
Dalam wadah Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), kami juga menjadi ujung tombak yang mengantarkan produk kerajinan khas daerah dari pelaku usaha IKM di berbagai event skala provinsi hingga nasional. Tak jarang juga para pelaku usaha IKM ini juga diikutsertakan, agar mereka turut menyaksikan produk mereka telah beredar luas di kalangan orang luar.
Mengabdi kepada negara bagi ASN dengan Jabatan Fungsional Penyuluh Perindag bukan hanya tentang membimbing dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat semata. Namun ini juga adalah tentang berkontribusi atas perekonomian nasional yang mayoritas ditopang oleh perindustrian, khususnya Industri Kecil Menengah (IKM).
Rasa kebanggaan itu terbayar sudah ketika melihat kondisi perekonomian dan kualitas hidup masyarakat semakin meningkat karena ditopang oleh bidang perindustrian nasional. Setidaknya, melihat mereka mampu mandiri dan berdaya saing di kancah nasional maupun global, itu sudah bisa membuat kami bangga dan bahagia. Inilah kerja kami untuk perindustrian Indonesia yang lebih maju di masa depan. Penyuluh Perindag, Berdaya dan Memberdayakan!
