Alun- Alun Jember: Antara Estetika, Ekonomi, dan Kesadaran Masyarakat

Mahasiswa Universitas Jember
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari riofirman07 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alun-Alun Jember, yang terletak di jantung Kabupaten Jember, tepatnya di Jalan PB Sudirman, telah mengalami transformasi besar-besaran melalui proyek renovasi yang ambisius dan menyeluruh. Kawasan yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas masyarakat ini kini disulap menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang lebih tertata, modern, dan representatif. Pembangunan tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menyediakan ruang publik yang nyaman, fungsional, sekaligus mampu menunjang sektor pariwisata daerah. Namun, di balik kemegahan dan tujuan estetis yang diusung, proyek ini tidak lepas dari kontroversi serta perdebatan publik yang cukup tajam, terutama dari kalangan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Pedagang Kaki Lima (PKL) yang terdampak langsung oleh perubahan tersebut.
Mengutip pernyataan Ketua Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII) Jember, Hadinuddin, dalam laporan beritajatim.com, ia menyuarakan keberatannya atas penggusuran PKL dari area alun-alun. Menurutnya, pembangunan yang mengedepankan estetika dan keindahan tidak boleh menyingkirkan aspek kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya dari berjualan di sekitar alun-alun, dan relokasi atau pengusiran tanpa solusi konkret sama saja dengan merampas mata pencaharian warga kecil. Kritik ini mencerminkan kegelisahan yang dirasakan sebagian masyarakat, khususnya para pedagang informal, yang selama ini mengandalkan keramaian alun-alun untuk menopang ekonomi keluarga mereka.
Sementara itu, menurut laporan radarjember.jawapos.com, pemerintah daerah menjelaskan bahwa tujuan utama renovasi alun-alun adalah untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup melalui penyediaan RTH yang layak. RTH memiliki peran vital dalam menciptakan lingkungan yang seimbang secara ekologi, menyediakan tempat rekreasi terbuka, serta menambah daya tarik wisata lokal. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat masih kurang menyadari pentingnya keberadaan ruang hijau. Banyak yang lebih menitikberatkan pada aspek ekonomi jangka pendek ketimbang manfaat jangka panjang yang ditawarkan oleh pengembangan ruang publik ini. Renovasi alun-alun tetap berlanjut hingga selesai dan akhirnya diresmikan dengan penuh kemeriahan pada hari Sabtu, 14 Desember 2024.
Hasil renovasi menampilkan wajah baru Alun-Alun Jember yang lebih modern dan lengkap. Sejumlah fasilitas publik kini tersedia dan bisa digunakan oleh masyarakat, antara lain videotron berukuran besar, jalur pedestrian yang ramah pejalan kaki, jogging track, serta area bernama "kepak sayap Garuda" yang menjadi ikon baru kawasan ini.
Di sisi barat alun-alun, dibangun fasilitas olahraga berupa lapangan basket dan voli. Tak hanya itu, area tersebut juga dilengkapi dengan air mancur hias, patung Garuda, replika Plengkung Argopuro, landmark Jember Seribu Gumuk, serta Tugu Adipura sebagai simbol prestasi kebersihan kota. Fasilitas pendukung lain seperti toilet umum permanen juga telah dibangun untuk mendukung kenyamanan pengunjung.
Renovasi ini menelan anggaran cukup besar, dengan total biaya mencapai sekitar Rp 24 miliar. Rinciannya, sebesar Rp 17,4 miliar dialokasikan untuk penataan landscape atau tata ruang alun-alun, Rp 6,5 miliar untuk pembangunan struktur videotron, dan Rp 459 juta digunakan untuk merevitalisasi menara air.
Selama proses pembangunan berlangsung, para pedagang kaki lima yang sebelumnya berjualan di area alun-alun dipindahkan ke Jalan Kartini. Namun, tidak semua pihak menyambut baik kebijakan ini. Banyak PKL menyatakan keberatan karena lokasi baru dianggap kurang strategis dan tidak seramai kawasan alun-alun.
Meskipun hasil renovasi mendapat sambutan hangat dari masyarakat, terutama generasi muda dan wisatawan lokal yang antusias mengunjungi alun-alun yang baru, permasalahan muncul pasca peresmian. Salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga dan merawat fasilitas umum yang telah dibangun dengan biaya fantastis tersebut. Aksi vandalisme, seperti coret-coret dinding, pencurian komponen lampu, dan perilaku membuang sampah sembarangan masih sering ditemukan di area alun-alun. Hal ini menjadi cerminan bahwa sumber daya manusia (SDM) di Jember masih perlu ditingkatkan, khususnya dalam hal kepedulian terhadap fasilitas publik.
Tak berhenti di situ, sejumlah pedagang kembali nekat berjualan di area dalam alun-alun meskipun sudah ada papan larangan dan petugas yang berjaga. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Bambang, mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan operasi penertiban secara rutin. Dalam salah satu pernyataannya pada 23 April 2025, ia menyebut bahwa meskipun jumlah PKL yang melanggar semakin berkurang, masih ada saja yang tetap membandel dan berjualan di tempat yang tidak semestinya. Ia menegaskan bahwa ketegasan hukum dan pengawasan berkelanjutan perlu diterapkan agar aturan dapat ditegakkan secara konsisten.
Sebagai bagian dari pengembangan berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Jember juga telah merencanakan pembangunan fasilitas tambahan berupa taman bermain anak di dua lokasi strategis alun-alun, yaitu di sisi timur dan barat. Kepala Dinas Cipta Karya, Rahman Anda, menjelaskan bahwa proyek ini telah dianggarkan dalam APBD 2025 dengan nilai sekitar Rp 200 juta. Ia menambahkan bahwa meskipun anggarannya terbatas, pihaknya akan mengusahakan fasilitas yang aman, berkualitas, dan layak untuk anak-anak. Proyek ini dijadwalkan mulai pada bulan April atau Mei 2025, dengan tahap awal berupa pengadaan peralatan dan instalasi taman bermain.
Dalam kunjungannya ke alun-alun pada pertengahan Maret 2025, Bupati Jember, Muhammad Fawait, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga fasilitas yang telah dibangun. Ia menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih, tertib, dan nyaman. Sebagai bentuk keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi publik, Bupati juga mempersilakan masyarakat untuk menyampaikan kritik, saran, atau keluhan melalui kanal resmi Wadul Guse, yang dirancang sebagai sarana komunikasi dua arah antara warga dan pemerintah daerah.
Transformasi Alun-Alun Jember menjadi simbol dari tantangan klasik dalam pembangunan: bagaimana menyeimbangkan antara kebutuhan estetika, ekonomi masyarakat kecil, dan kesadaran kolektif terhadap pemeliharaan fasilitas umum. Tanpa partisipasi aktif dan kesadaran bersama, seindah apapun infrastruktur yang dibangun, tidak akan mampu memberikan manfaat maksimal bagi seluruh lapisan masyarakat.
