Konten dari Pengguna

Ambisi Tanpa Arah: Mengapa Kita Terus Berlari Tanpa Benar-Benar Tahu Tujuannya?

Mohamad Husen Al Buqori

Mohamad Husen Al Buqori

Saya seorang Mahasiswa yang sedang menempuh studi Manajemen di Universitas Pamulang. Memiliki minat besar pada pengembangan diri. Melalui Kumparan, saya berbagi catatan perjalanan, pengalaman organisasi, serta wawasan yang bermanfaat bagi pembaca.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Husen Al Buqori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lorong ambisi. Sumber: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lorong ambisi. Sumber: Unsplash.

Ada fase dalam hidup ketika kita tidak sedang terpuruk, tetapi juga tidak benar-benar tenang. Kita sibuk, produktif, dan terlihat baik-baik saja. Jadwal penuh, agenda padat, notifikasi tak pernah benar-benar diam. Anehnya, kita menikmatinya.

Saya sedang berada di fase itu.

Sebagai mahasiswa yang juga menjalani pekerjaan part-time, hari-hari terasa seperti rangkaian tanggung jawab yang tidak pernah selesai. Pagi untuk kuliah, siang hingga malam untuk bekerja, lalu kembali ke tugas dan deadline yang menunggu. Jika ditanya apakah saya menikmati semuanya, jawabannya iya. Saya senang merasa berkembang. Saya senang merasa mandiri. Saya senang merasa waktu saya tidak terbuang sia-sia.

Namun belakangan saya menyadari sesuatu: menikmati kesibukan tidak selalu berarti kita mengelolanya dengan benar.

Saya mulai merasa “crowded”. Bukan karena saya dipaksa, bukan karena saya tertekan oleh orang lain, tetapi karena saya terlalu percaya bahwa selama saya kuat secara mental, semuanya akan baik-baik saja. Saya berpikir selama saya masih bisa bangun pagi, masih bisa menyelesaikan tugas, masih bisa masuk kerja tepat waktu, berarti saya baik-baik saja.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Masalahnya bukan pada pilihan untuk kuliah sambil bekerja. Banyak orang melakukannya, dan itu bukan hal yang salah. Masalahnya adalah strategi. Produktif tanpa strategi hanyalah keberanian yang belum terukur. Dan ketika keberanian itu tidak dibarengi dengan pengelolaan energi yang sehat, dampaknya tidak langsung terasa sampai tubuh dan pikiran mulai memberi sinyal.

Sinyal itu datang dalam bentuk yang sederhana: lelah berkepanjangan, fokus yang menurun, emosi yang lebih mudah tersulut, dan akhirnya sakit. Ironisnya, usaha untuk terus produktif justru membuat saya harus berhenti total sementara waktu. Semua yang sudah dirancang rapi menjadi berantakan hanya karena saya mengabaikan batas diri.

Dari pengalaman ini, saya mencoba merefleksikan beberapa kesalahan umum yang sering terjadi pada mahasiswa yang menjalani banyak peran sekaligus.

Kesalahan yang Sering Tidak Disadari

1. Menganggap sibuk sebagai ukuran keberhasilan

Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa berkata, “Aku lagi sibuk banget.” Seolah-olah sibuk adalah bukti bahwa kita sedang berkembang. Padahal sibuk dan produktif adalah dua hal yang berbeda. Sibuk berarti melakukan banyak hal. Produktif berarti melakukan hal yang tepat dengan energi yang terukur.

Ketika semua jam kosong diisi aktivitas, saya merasa hebat. Namun saya lupa bertanya: apakah semua ini benar-benar perlu, atau saya hanya takut terlihat tidak cukup ambisius?

2. Terlalu fokus pada manajemen waktu, lupa manajemen energi

Saya membuat jadwal, to-do list, dan perencanaan mingguan. Semua terlihat rapi. Tetapi manusia bukan mesin. Kita punya batas fokus dan stamina. Saya mengatur waktu dengan detail, tetapi tidak mengatur energi. Saya tidak mempertimbangkan kapan tubuh mulai lelah atau kapan pikiran sudah jenuh.

Hasilnya, jadwal terpenuhi, tetapi kualitas diri menurun.

3. Meremehkan istirahat

Ada anggapan diam-diam bahwa istirahat adalah kemewahan. Kalau masih kuat, lanjut saja. Kalau masih bisa bangun pagi, berarti tidak apa-apa. Padahal istirahat adalah kebutuhan dasar, bukan hadiah.

Beberapa kali saya memaksakan diri menyelesaikan tugas larut malam setelah pulang kerja. Secara mental saya merasa bertanggung jawab. Namun beberapa hari setelahnya, tubuh menagih dengan cara yang tidak bisa diabaikan.

4. Terlalu banyak mengatakan “iya”

Kesempatan datang dalam berbagai bentuk: proyek tambahan, shift ekstra, tanggung jawab organisasi. Rasanya sulit menolak. Ada ketakutan tertinggal, ada dorongan untuk terus berkembang.

Namun mengatakan “iya” pada terlalu banyak hal sering kali berarti mengatakan “tidak” pada kesehatan dan keseimbangan diri sendiri.

5. Mengabaikan sinyal tubuh

Tubuh selalu berbicara lebih jujur daripada ambisi kita. Ketika kepala terasa berat, konsentrasi menurun, dan emosi tidak stabil, itu bukan sekadar lelah biasa. Itu peringatan.

Saya belajar bahwa tubuh bukan musuh yang harus dilawan, melainkan sistem peringatan yang harus didengar.

Di tengah semua refleksi itu, muncul satu pertanyaan yang lebih besar: “Sebenarnya kita sedang mengejar apa?”

Apakah kita mengejar uang? Pengalaman? Validasi? Atau sekadar ingin merasa tidak tertinggal?

Kita hidup di era di mana produktivitas hampir menjadi identitas. Media sosial penuh dengan cerita tentang pencapaian di usia muda. Tanpa sadar, kita ikut bergerak. Bukan selalu karena iri, tetapi karena takut tertinggal.

Saya menyadari bahwa sebagian dari dorongan saya untuk terus sibuk bukan hanya karena kebutuhan, tetapi karena keinginan untuk tetap relevan. Tetap merasa cukup. Tetap merasa bahwa saya tidak menyia-nyiakan waktu.

Padahal jika ditarik lebih dalam, yang sebenarnya saya inginkan sederhana: saya ingin bertumbuh tanpa kehilangan diri sendiri.

Masalahnya, ketika kita terlalu fokus mengejar pertumbuhan eksternal nilai, pengalaman kerja, relasi, portofolio kita sering lupa mengevaluasi kondisi internal.

Apakah saya masih sehat? Apakah saya masih menikmati prosesnya? Apakah saya masih punya ruang untuk bernapas?

Pertanyaan “kita mengejar apa?” menjadi penting karena tanpa arah yang jelas, kesibukan hanya akan menjadi lingkaran tanpa ujung. Kita berlari, tetapi tidak benar-benar tahu tujuan akhirnya. Kita bergerak cepat, tetapi tidak pernah berhenti untuk memastikan apakah jalurnya benar.

Ambisi itu baik. Ia mendorong kita berkembang. Tetapi ambisi tanpa arah bisa berubah menjadi tekanan yang kita ciptakan sendiri. Kita menjadi keras pada diri sendiri, menuntut konsistensi tanpa toleransi terhadap batas manusiawi.

Saya tidak menyesal menjalani fase ini. Justru saya bersyukur bisa belajar tentang batas diri secara langsung. Saya belajar bahwa produktivitas yang sehat bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita kerjakan dalam sehari, tetapi tentang seberapa lama kita bisa menjaga diri tetap stabil dalam jangka panjang.

Hidup bukan sprint, melainkan maraton. Dalam maraton, yang menentukan bukan siapa yang paling cepat di awal, tetapi siapa yang mampu menjaga ritme sampai akhir.

Mungkin yang sebenarnya perlu kita kejar bukan hanya pencapaian, tetapi keberlanjutan. Bukan hanya validasi luar, tetapi ketenangan dalam. Bukan hanya bergerak cepat, tetapi bergerak dengan arah.

Karena pada akhirnya, apa gunanya sampai lebih cepat jika kita tiba dalam keadaan tumbang?

Ambisi itu penting. Tetapi mengenali batas diri jauh lebih penting. Dan di antara produktivitas serta tekanan sosial, mungkin yang paling berharga adalah kemampuan untuk berhenti sejenak, bertanya pada diri sendiri, dan memastikan bahwa kita tidak sedang kehilangan arah.