Banyak Karyawan Tidak Lagi Mau “Kerja Lebih”? Membaca Fenomena Quiet Quitting
Tulisan dari Mohamad Husen Al Buqori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa tahun terakhir, istilah quiet quitting semakin sering muncul dalam berbagai diskusi mengenai dunia kerja. Meskipun mengandung kata quitting yang berarti mengundurkan diri, fenomena ini sebenarnya tidak merujuk pada keputusan seseorang untuk meninggalkan pekerjaannya. Sebaliknya, quiet quitting menggambarkan kondisi ketika karyawan memilih bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang tercantum dalam pekerjaannya tanpa memberikan usaha tambahan di luar itu. Fenomena ini memunculkan berbagai reaksi. Sebagian pihak menilai quiet quitting sebagai bentuk menurunnya etos kerja dan loyalitas karyawan. Namun, tidak sedikit pula yang melihatnya sebagai respons terhadap budaya kerja yang selama ini menuntut pekerja untuk selalu memberikan lebih banyak waktu, tenaga, dan pikiran tanpa penghargaan yang sepadan.
Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa quiet quitting bukan sekadar persoalan individu yang malas bekerja. Fenomena ini justru membuka ruang diskusi mengenai hubungan antara karyawan dan organisasi di era modern.
Ketika Kesibukan Menjadi Tolok Ukur Dedikasi
Dalam banyak organisasi, karyawan yang sering lembur, selalu siap dihubungi di luar jam kerja, atau bersedia mengambil tugas tambahan sering kali dianggap lebih berdedikasi dibandingkan rekan kerja lainnya. Tanpa disadari, budaya tersebut menciptakan anggapan bahwa bekerja sesuai jam kerja saja belum cukup untuk dianggap sebagai karyawan yang baik.
Padahal, setiap pekerjaan memiliki batasan peran dan tanggung jawab yang telah disepakati sejak awal. Ketika tuntutan organisasi terus bertambah tanpa diimbangi dengan penghargaan yang sesuai, sebagian karyawan mulai mempertanyakan kembali hubungan timbal balik yang mereka terima dari tempat kerja.
Dari sinilah quiet quitting mulai berkembang. Karyawan tetap menjalankan pekerjaannya dengan baik, tetapi menolak memberikan energi lebih untuk tuntutan yang berada di luar kewajiban mereka.
Perspektif Perilaku Organisasi
Dalam kajian perilaku organisasi, motivasi kerja menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi perilaku karyawan. Seseorang yang merasa dihargai, mendapatkan kesempatan berkembang, serta bekerja dalam lingkungan yang sehat cenderung memiliki tingkat keterlibatan yang lebih tinggi terhadap organisasi.
Sebaliknya, ketika karyawan merasa kontribusinya tidak diakui atau keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan terganggu, motivasi kerja dapat menurun. Kondisi tersebut tidak selalu membuat seseorang langsung mengundurkan diri. Banyak yang memilih bertahan, tetapi hanya memberikan kontribusi sesuai dengan kewajiban formalnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku karyawan sering kali merupakan refleksi dari kondisi organisasi itu sendiri. Apa yang terlihat sebagai kurangnya antusiasme bisa jadi merupakan respons terhadap pengalaman kerja yang kurang memuaskan.
Generasi Muda dan Perubahan Cara Pandang terhadap Pekerjaan
Fenomena quiet quitting juga sering dikaitkan dengan generasi muda, khususnya Generasi Z. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung mengutamakan stabilitas pekerjaan, banyak pekerja muda saat ini menempatkan keseimbangan hidup sebagai prioritas utama.
Bagi mereka, pekerjaan memang penting, tetapi bukan satu-satunya aspek yang menentukan kualitas hidup. Waktu bersama keluarga, kesehatan mental, pengembangan diri, dan aktivitas di luar pekerjaan dianggap memiliki nilai yang sama pentingnya.
Perubahan cara pandang ini membuat banyak pekerja muda lebih berani menetapkan batasan terhadap pekerjaan. Mereka tidak lagi menganggap lembur berlebihan atau selalu tersedia selama 24 jam sebagai simbol keberhasilan profesional.
Tantangan bagi Organisasi
Bagi perusahaan, fenomena quiet quitting dapat menjadi sinyal bahwa terdapat aspek organisasi yang perlu dievaluasi. Fokus utama seharusnya bukan pada bagaimana memaksa karyawan bekerja lebih keras, melainkan bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang mampu meningkatkan keterlibatan dan kepuasan kerja.
Komunikasi yang terbuka, sistem penghargaan yang adil, peluang pengembangan karier, serta kepemimpinan yang suportif merupakan beberapa faktor yang dapat meningkatkan komitmen karyawan terhadap organisasi.
Pada akhirnya, loyalitas tidak dapat dibangun hanya melalui tuntutan. Loyalitas tumbuh ketika karyawan merasa dihargai sebagai individu yang memiliki kebutuhan, aspirasi, dan kehidupan di luar pekerjaannya.
Antara Profesionalisme dan Keseimbangan Hidup
Fenomena quiet quitting menunjukkan bahwa dunia kerja sedang mengalami perubahan. Jika pada masa lalu karyawan sering diukur dari seberapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk bekerja, kini semakin banyak orang yang menilai keberhasilan dari kemampuan menjaga keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi mengapa karyawan memilih bekerja secukupnya. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah organisasi telah menciptakan lingkungan yang membuat karyawan ingin memberikan yang terbaik dari dirinya.

