Ketika Sertifikat Menjadi Tolok Ukur Kesuksesan Mahasiswa
Tulisan dari Mohamad Husen Al Buqori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa dan Budaya Mengejar Pencapaian
Menjadi mahasiswa saat ini seolah tidak cukup hanya dengan datang ke kelas, mengerjakan tugas, dan mendapatkan nilai yang baik. Di luar kegiatan akademik, mahasiswa juga sering didorong untuk mengikuti berbagai kegiatan seperti seminar, webinar, organisasi, kepanitiaan, kompetisi, hingga kegiatan sukarela. Hampir setiap kegiatan tersebut menawarkan satu hal yang terlihat menarik di akhir acara: sertifikat.
Tidak mengherankan jika sertifikat kemudian menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa. Sertifikat dikumpulkan untuk menambah isi portofolio, dilampirkan dalam berbagai keperluan administrasi, atau sekadar menjadi bukti bahwa seseorang pernah mengikuti sebuah kegiatan. Pada titik tertentu, muncul kebiasaan untuk mengejar sebanyak mungkin sertifikat karena adanya anggapan bahwa semakin banyak sertifikat, semakin aktif dan berprestasi seorang mahasiswa.
Padahal, banyaknya sertifikat belum tentu menggambarkan seberapa banyak kemampuan yang benar-benar berkembang.
Ketika Pengalaman Berubah Menjadi Angka
Sertifikat sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Mengikuti seminar, pelatihan, organisasi, atau kegiatan lainnya tentu dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan baru. Masalahnya muncul ketika sertifikat justru menjadi tujuan utama dari kegiatan tersebut.
Ada mahasiswa yang mengikuti webinar hanya karena membutuhkan sertifikat. Ada pula yang mendaftarkan diri pada berbagai kegiatan tanpa benar-benar mengikuti prosesnya secara serius. Akhirnya, pengalaman yang seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar berubah menjadi sekadar angka yang ditambahkan ke dalam daftar pencapaian.
Kondisi ini membuat kegiatan mahasiswa terkadang terasa seperti perlombaan mengumpulkan bukti. Siapa yang memiliki sertifikat paling banyak, siapa yang mengikuti organisasi paling banyak, atau siapa yang memiliki daftar kegiatan paling panjang. Tanpa disadari, mahasiswa dapat lebih sibuk membangun tampilan portofolio daripada memahami nilai dari pengalaman yang sedang dijalani.
Apakah Banyak Sertifikat Berarti Banyak Kompetensi?
Pertanyaan yang kemudian perlu diajukan adalah: apakah jumlah sertifikat benar-benar dapat menggambarkan kemampuan seseorang?
Sertifikat hanya menunjukkan bahwa seseorang pernah mengikuti atau menyelesaikan suatu kegiatan sesuai dengan ketentuan yang diberikan. Namun, sertifikat tidak selalu dapat menjelaskan seberapa jauh seseorang memahami materi, menerapkan keterampilan, atau berkembang setelah mengikuti kegiatan tersebut.
Dua mahasiswa bisa saja memiliki jumlah sertifikat yang sama, tetapi memperoleh pengalaman yang sangat berbeda. Satu orang mungkin hanya mengikuti kegiatan untuk mendapatkan sertifikat, sementara yang lain benar-benar aktif berdiskusi, mengerjakan tugas, membangun relasi, dan menerapkan ilmu yang diperoleh.
Karena itu, sertifikat seharusnya menjadi bukti pendukung, bukan satu-satunya ukuran kompetensi mahasiswa.
Ketika Mahasiswa Merasa Harus Selalu Punya Pencapaian
Budaya mengejar sertifikat juga tidak dapat dipisahkan dari tekanan untuk selalu produktif. Media sosial membuat pencapaian mahasiswa semakin mudah terlihat. Ada yang membagikan pengalaman magang, memenangkan lomba, menjadi pengurus organisasi, mengikuti konferensi, atau mendapatkan sertifikat baru.
Melihat pencapaian tersebut dapat memberikan motivasi, tetapi juga dapat menimbulkan perasaan tertinggal. Mahasiswa mulai bertanya apakah dirinya sudah cukup aktif atau apakah portofolionya sudah cukup bagus dibandingkan orang lain.
Padahal, perjalanan setiap mahasiswa tidak selalu sama. Ada yang memiliki kesempatan mengikuti banyak kegiatan, sementara yang lain harus membagi waktu dengan pekerjaan, keluarga, atau tanggung jawab lainnya. Memaksakan diri mengikuti berbagai kegiatan hanya karena takut tertinggal justru dapat membuat mahasiswa kehilangan fokus terhadap hal yang sebenarnya ingin dikembangkan.
Bukan Berhenti Mengumpulkan Sertifikat
Mengkritisi budaya sertifikat bukan berarti mahasiswa harus berhenti mengikuti kegiatan atau menganggap sertifikat tidak berguna. Sertifikat tetap memiliki fungsi sebagai dokumentasi dan bukti partisipasi dalam suatu kegiatan. Yang perlu diubah adalah cara memandangnya.
Daripada bertanya, “Berapa sertifikat yang sudah saya punya?”, mungkin mahasiswa perlu mulai bertanya, “Apa yang saya dapatkan dari kegiatan ini?”
Sebuah pelatihan akan lebih berarti jika keterampilan yang diperoleh benar-benar digunakan. Organisasi akan lebih bernilai jika memberikan pengalaman bekerja sama dan menyelesaikan masalah. Seminar akan lebih bermanfaat jika pengetahuan yang didapat membuat seseorang melihat suatu persoalan dari sudut pandang baru.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan mahasiswa tidak berhenti pada dokumen yang tersimpan di folder, tetapi terlihat dari kemampuan dan pengalaman yang terbentuk selama proses tersebut.
Membangun Portofolio yang Tidak Sekadar Penuh
Pada akhirnya, mahasiswa memang perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia setelah lulus. Namun, persiapan tersebut seharusnya tidak hanya berorientasi pada seberapa panjang daftar pencapaian yang dapat ditampilkan.
Portofolio yang baik bukan selalu portofolio yang paling banyak isinya, melainkan yang mampu menunjukkan perjalanan, kemampuan, dan kontribusi seseorang. Satu pengalaman yang benar-benar dijalani dengan serius bisa jadi jauh lebih bermakna daripada puluhan kegiatan yang hanya diikuti untuk mendapatkan sertifikat.
Sertifikat boleh menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa, tetapi jangan sampai menjadi tujuan utama. Sebab, pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya menghasilkan mahasiswa dengan folder sertifikat yang penuh, tetapi juga individu yang memiliki kemampuan, pengalaman, dan pemahaman untuk menghadapi dunia nyata.

