Media Sosial: Pengganggu atau Pendukung?
Tulisan dari Mohamad Husen Al Buqori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hampir setiap hari siswa berhadapan dengan media sosial. Membuka ponsel untuk melihat pesan, menonton video singkat, mencari informasi, mengikuti tren, atau sekadar mengisi waktu luang sudah menjadi bagian dari keseharian. Di satu sisi, media sosial memberikan banyak kemudahan. Namun di sisi lain, penggunaan yang tidak terencana dapat membuat waktu berlalu tanpa terasa.
Persoalannya kemudian bukan lagi tentang apakah siswa boleh menggunakan media sosial atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana media sosial digunakan tanpa membuat aktivitas yang seharusnya menjadi prioritas justru terabaikan.
Dari sinilah gagasan mengenai manajemen bermedia sosial menjadi penting. Media sosial tidak harus dijauhkan dari kehidupan siswa. Justru, siswa perlu dibekali kemampuan untuk mengelola penggunaannya agar teknologi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas belajar dan pengembangan diri.
Media Sosial Bukan Sekadar Hiburan
Media sosial sering kali lebih mudah dipahami sebagai tempat mencari hiburan. Padahal, penggunaannya jauh lebih luas. Siswa dapat memanfaatkannya untuk mencari materi pelajaran, berdiskusi, menemukan informasi, mengikuti konten edukatif, bahkan mengembangkan kreativitas.
Artinya, masalahnya bukan semata-mata terletak pada keberadaan media sosial. Platform yang sama dapat memberikan manfaat yang berbeda tergantung bagaimana seseorang menggunakannya.
Sebuah video pendek, misalnya, bisa menjadi hiburan ketika ditonton tanpa tujuan. Namun konten yang sama dapat menjadi sumber informasi ketika digunakan untuk mempelajari sesuatu. Begitu juga dengan media sosial yang dapat menjadi sarana komunikasi dan pembelajaran ketika digunakan secara tepat.
Penelitian mengenai penggunaan media sosial pada siswa juga menunjukkan adanya konteks yang perlu diperhatikan. Media sosial dapat menjadi sumber distraksi ketika penggunaannya tidak terkontrol, tetapi juga memiliki potensi sebagai sarana pembelajaran dan komunikasi.
Karena itu, menganggap seluruh penggunaan media sosial sebagai sesuatu yang negatif justru membuat persoalan menjadi terlalu sederhana.
Ketika Waktu Produktif Tergeser
Salah satu persoalan yang muncul adalah ketika penggunaan media sosial mulai mengambil waktu yang seharusnya digunakan untuk aktivitas lain.
Awalnya mungkin hanya ingin melihat satu video. Kemudian muncul video berikutnya, lalu video berikutnya lagi. Tanpa terasa, waktu yang awalnya hanya ingin digunakan beberapa menit menjadi jauh lebih lama.
Hal seperti ini bukan hanya berkaitan dengan durasi, tetapi juga dengan kemampuan seseorang menentukan prioritas. Ketika membuka media sosial dilakukan di tengah mengerjakan tugas, perhatian dapat berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan justru tertunda.
Penelitian tahun 2026 terhadap siswa SMK di Jakarta juga menemukan adanya hubungan antara intensitas penggunaan media sosial, manajemen waktu, dan prokrastinasi akademik. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan waktu menjadi bagian penting ketika membicarakan penggunaan media sosial siswa.
Namun, hal ini bukan berarti semakin sedikit menggunakan media sosial pasti membuat seseorang semakin produktif. Produktivitas tidak hanya ditentukan oleh berapa lama seseorang menggunakan media sosial, tetapi juga bagaimana waktu dan perhatian tersebut dikelola.
Produktif Bukan Berarti Selalu Sibuk
Kata “produktif” sering kali disalahartikan sebagai harus terus belajar, terus mengerjakan tugas, atau selalu melakukan sesuatu. Padahal, produktivitas lebih dekat dengan kemampuan menggunakan waktu dan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan.
Karena itu, seorang siswa yang mampu menyelesaikan tugas tepat waktu, belajar sesuai kebutuhan, beristirahat dengan cukup, dan tetap memiliki waktu untuk bersosialisasi tidak bisa dikatakan tidak produktif hanya karena menggunakan media sosial.
Sebaliknya, seseorang juga bisa terlihat sibuk tetapi belum tentu produktif apabila banyak waktunya habis untuk aktivitas yang tidak memiliki tujuan yang jelas.
Di sinilah manajemen bermedia sosial menjadi relevan. Siswa tidak hanya perlu mengetahui apa yang mereka lakukan di media sosial, tetapi juga memahami kapan, untuk apa, dan seberapa lama mereka menggunakannya.
Menggunakan Media Sosial dengan Rencana
Manajemen bermedia sosial pada dasarnya dapat dimulai dari hal sederhana. Sebelum membuka sebuah platform, seseorang dapat menentukan terlebih dahulu tujuannya.
Apakah ingin mencari informasi? Berkomunikasi? Mencari materi pembelajaran? Atau memang sedang memiliki waktu luang untuk hiburan?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang lebih sadar terhadap aktivitas yang sedang dilakukan. Setelah itu, penggunaan media sosial dapat disesuaikan dengan prioritas yang dimiliki.
Misalnya, seorang siswa memiliki tugas yang harus diselesaikan pada hari itu. Ia dapat menentukan waktu untuk menyelesaikan tugas terlebih dahulu sebelum menggunakan media sosial untuk hiburan. Ketika membuka media sosial untuk mencari materi, ia juga dapat berusaha tetap berada pada tujuan awal agar tidak mudah terdistraksi oleh konten lain.
Kebiasaan seperti ini terlihat sederhana, tetapi justru dari kebiasaan kecil seseorang mulai belajar mengatur dirinya sendiri.
Dari Pengguna Menjadi Pengelola
Pada akhirnya, tujuan dari manajemen bermedia sosial bukan membuat siswa berhenti menggunakan media sosial. Tujuannya adalah membuat siswa lebih sadar terhadap cara mereka menggunakannya.
Media sosial akan terus menjadi bagian dari kehidupan generasi muda. Karena itu, kemampuan yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan mengelola penggunaannya.
Siswa perlu memahami bahwa mereka memiliki pilihan terhadap apa yang dikonsumsi, kapan menggunakannya, dan untuk tujuan apa media sosial tersebut digunakan. Dengan begitu, siswa tidak hanya menjadi pengguna yang mengikuti arus konten, tetapi juga mampu menentukan bagaimana teknologi tersebut mendukung aktivitas mereka.
Gagasan inilah yang menjadi dasar dalam perancangan kegiatan pengabdian yang mengangkat tema optimalisasi produktivitas siswa melalui manajemen bermedia sosial yang terencana dan efektif.
Sebab, berbicara tentang produktivitas di era digital tidak cukup dengan mengatakan bahwa siswa harus mengurangi media sosial. Yang lebih penting adalah membantu mereka memahami cara menggunakannya secara lebih terarah.
Media sosial bukan sesuatu yang harus selalu dihindari. Ia adalah alat. Dan seperti alat lainnya, manfaatnya sangat bergantung pada bagaimana seseorang menggunakannya.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi, “Berapa lama siswa menggunakan media sosial?” tetapi, “Untuk apa waktu tersebut digunakan?”

