Teknologi Membuat Pekerjaan Lebih Mudah, Tapi Apakah Selalu Lebih Efisien?
Tulisan dari Mohamad Husen Al Buqori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teknologi Makin Cepat, Tapi Apakah Makin Efisien?
Perhatikanlah sekitar kita. Hampir semua perusahaan sekarang berlomba-lomba untuk memakai sistem digital, aplikasi kerja, sampai otomatisasi berbasis AI. Laporan atau tugas yang tadinya butuh berjam-jam sekarang selesai dalam hitungan menit. Customer service yang tadinya berisi tim dengan banyak orang di dalamnya sekarang digantikan oleh satu chatbot. Semua serba cepat dan hemat. Tapi pertanyaannya, apakah cepat dan hemat itu otomatis berarti lebih efisien? Ternyata jawabannya tidak sesederhana itu.
Kita sering keliru menyamakan efisien dan efektif. Efisien itu soal seberapa cepat dan murah sebuah proses bisa terselesaikan, sedangkan efektif itu soal apakah hasil akhirnya benar-benar membawa perusahaan ke tujuan yang lebih baik. Kedua hal ini kelihatan mirip, tapi sebenarnya bisa berjalan berlawanan arah.
Sebuah sistem informasi bisa saja bikin proses kerja jauh lebih cepat, tapi di saat bersamaan mengorbankan kualitas pelayanan, pengalaman pelanggan, bahkan kesehatan karyawan di baliknya. Kalau cuma dilihat dari statistik kecepatan dan biaya, semua ini kelihatan sehat dan sukses. Tapi kalau dilihat dari gambaran yang lebih luas, belum tentu.
Ketika Semua Perusahaan Ikut Mengotomatisasi
Topik ini dibahas dengan cukup tajam dalam jurnal ekonomi terbaru berjudul The AI Layoff Trap yang ditulis oleh Brett Hemenway Falk dan Gerry Tsoukalas (2026). Mereka membangun model sederhana untuk menjelaskan kenapa perusahaan cenderung terus mendorong otomatisasi meski tahu risikonya.
Logikanya begini: setiap perusahaan yang mengotomatisasi memang menikmati penuh penghematan biaya dari cara ini. Tapi ongkos yang muncul, yaitu berkurangnya daya beli konsumen karena banyak orang digantikan AI dan teknologi yang kehilangan penghasilan, sebagian besar justru ditanggung oleh perusahaan lain di pasar yang sama, bukan oleh yang mengotomatisasi.
Karena itu, keputusan yang kelihatan rasional dan efisien di level satu perusahaan bisa berujung merugikan semua pihak kalau dilakukan serentak oleh banyak perusahaan sekaligus. Falk dan Tsoukalas bahkan menunjukkan bahwa makin banyak pesaing di sebuah industri, gap antara yang “efisien buat saya sendiri” dengan “efektif buat semua” ini justru semakin lebar, bukan makin kecil.
Hal tersebut menunjukkan bahwa keputusan perusahaan tidak selalu bisa dilihat hanya dari keuntungan yang diperoleh perusahaan itu sendiri. Ketika keputusan yang sama dilakukan oleh banyak perusahaan secara bersamaan, dampaknya dapat meluas ke pekerja, konsumen, hingga perusahaan lain.
Efisiensi yang Tidak Terlihat dalam Angka
Logika yang sama bisa dipakai dalam penerapan SIM di banyak perusahaan sekarang. Metrik keberhasilan sebuah sistem biasanya sempit banget, semacam berapa detik proses selesai, seberapa besar biaya operasional yang bisa dipangkas, atau berapa banyak transaksi yang bisa ditangani per jam.
Tapi metrik sempit itu jarang menangkap dampak yang sebenarnya lebih menentukan jangka panjang, seperti hilangnya pekerjaan, turunnya kepercayaan pelanggan, atau menurunnya moral tim karena terus merasa digantikan. Semua ini biaya nyata, cuma tidak muncul secara langsung.
Jadi, teknologi memang benar bisa membuat pekerjaan lebih mudah dan cepat. Tapi mudah dan cepat itu baru separuh cerita saja. Sistem informasi yang baik harusnya tidak cuma dirancang untuk mengoptimalkan satu variabel sempit seperti biaya dan kecepatan, tapi juga mempertimbangkan dampak yang lebih luas terhadap kualitas pekerjaan, hubungan dengan customer, dan keberlanjutan organisasi atau perusahaan itu sendiri.
Kalau tidak, kita bisa terjebak pada situasi persis yang digambarkan Falk dan Tsoukalas: sekumpulan keputusan yang masing-masing kelihatan efisien, tapi kalau dijumlah justru memperburuk keadaan semua pihak. Permintaan akan sedikit karena masyarakat kehilangan pekerjaan mereka dan tidak bisa membeli apa pun, dan perusahaan juga kehilangan pembeli karena tidak ada siapa pun yang memiliki uang.
AI Seharusnya Membantu, Bukan Sekadar Menggantikan
Kalau begitu, masalahnya mungkin bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada bagaimana perusahaan menggunakan teknologi tersebut. AI pada dasarnya hanyalah alat. Ia bisa membantu perusahaan mengolah data, menyelesaikan pekerjaan berulang, sampai memberikan informasi yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan. Yang menentukan apakah teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat adalah cara perusahaan mengelolanya.
Dalam Sistem Informasi Manajemen, teknologi seharusnya membantu perusahaan mendapatkan informasi yang lebih cepat dan akurat untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi. Artinya, perusahaan tidak cukup hanya melihat apakah sebuah sistem bisa bekerja lebih cepat dari manusia. Perusahaan juga perlu melihat apakah sistem tersebut menghasilkan keputusan dan pekerjaan yang lebih baik.
Misalnya, AI digunakan untuk membantu customer service menjawab pertanyaan pelanggan. Dari sisi efisiensi, penggunaan chatbot memang terlihat menguntungkan karena perusahaan bisa melayani banyak pertanyaan dalam waktu yang bersamaan. Namun, tidak semua masalah pelanggan memiliki pola yang sama. Ada situasi tertentu yang membutuhkan empati, pemahaman konteks, dan komunikasi manusia.
Kalau seluruh pelayanan dipaksa menggunakan sistem otomatis, perusahaan mungkin menghemat biaya, tetapi justru kehilangan kualitas hubungan dengan pelanggan.
Hal yang sama juga berlaku terhadap karyawan. Ketika AI mengambil alih pekerjaan yang bersifat repetitif, perusahaan sebenarnya memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan karyawannya ke pekerjaan yang lebih kompleks. Karyawan bisa diarahkan untuk melakukan analisis, membuat strategi, berkomunikasi dengan pelanggan, atau mengerjakan hal-hal yang membutuhkan kreativitas dan pertimbangan manusia.
Karena itu, penerapan teknologi seharusnya tidak langsung diikuti dengan pertanyaan, “Berapa banyak pekerjaan yang bisa digantikan?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Pekerjaan seperti apa yang bisa dibantu agar manusia dapat bekerja lebih baik?”
Peran Manajemen dalam Menggunakan AI
Cara pandang tersebut membuat teknologi menjadi bagian dari strategi perusahaan, bukan sekadar alat untuk mengurangi biaya. Perusahaan tetap bisa mendapatkan manfaat dari otomatisasi, tetapi pada saat yang sama juga memberikan kesempatan kepada karyawan untuk beradaptasi melalui pelatihan atau peningkatan keterampilan.
Di sinilah manajemen memiliki peran penting. Keputusan untuk menggunakan AI bukan hanya keputusan bagian IT. Manajemen perlu menentukan pekerjaan mana yang memang cocok diotomatisasi, bagaimana hasil AI diperiksa, siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan, dan bagaimana nasib karyawan yang pekerjaannya berubah karena teknologi.
Keputusan tersebut juga perlu didasarkan pada kebutuhan perusahaan, bukan sekadar mengikuti tren. Jika suatu pekerjaan dapat diselesaikan lebih baik dengan bantuan AI, teknologi tentu dapat menjadi pilihan. Namun, jika penggunaan AI justru membuat proses lebih rumit atau menurunkan kualitas pelayanan, perusahaan juga perlu mengevaluasi kembali keputusan tersebut.
Dengan kata lain, manajemen perlu mengetahui kapan AI harus digunakan dan kapan manusia tetap harus mengambil peran utama.
Efisiensi Bukan Cuma Soal Hemat Biaya
Dengan begitu, keberhasilan sebuah sistem informasi tidak hanya dilihat dari berapa banyak waktu atau biaya yang berhasil dihemat. Keberhasilannya juga dapat dilihat dari apakah sistem tersebut membantu perusahaan mengambil keputusan dengan lebih baik, meningkatkan kualitas pelayanan, dan membuat karyawan mampu bekerja lebih produktif.
Hal ini penting karena perusahaan tidak bekerja hanya dengan angka. Di balik angka produktivitas terdapat karyawan yang menjalankan proses, pelanggan yang menggunakan layanan, dan manajemen yang mengambil keputusan.
Jika salah satu bagian tersebut diabaikan, teknologi yang awalnya dibuat untuk meningkatkan efisiensi justru dapat menciptakan masalah baru.
Teknologi dan Manusia Harus Berjalan Bersama
Pada akhirnya, teknologi memang bisa membuat pekerjaan menjadi jauh lebih mudah. Namun, kemudahan tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk membuat manusia bekerja lebih baik, bukan sekadar alasan untuk menghilangkan peran manusia.
AI dapat digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang berulang, membantu mengolah informasi, dan mendukung keputusan. Sementara itu, manusia tetap dibutuhkan untuk memberikan pertimbangan, kreativitas, pengalaman, dan tanggung jawab.
Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “Apakah perusahaan harus menggunakan AI?”, tetapi “Untuk apa AI digunakan dan bagaimana perusahaan menggunakannya?”
Karena teknologi yang sama dapat memberikan hasil yang berbeda tergantung pada keputusan manajemen di baliknya. Teknologi memang membuat pekerjaan lebih mudah, tetapi mudah belum tentu selalu berarti lebih efisien.

