Strategi Pembelajaran Role Play Sebagai Optimalisasi Pelajaran Sejarah

Mahasiswa Universitas Jember, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi Pendidikan Sejarah
Tulisan dari Mohamad Iko Edison tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam suatu lingkup pendidikan aktivitas belajar dan mengajar merupakan kegiatan utama. Dalam pembelajaran terdapat tiga unsur yang penting yaitu, tujuan pengajaran, pengalaman belajar dan hasil belajar. Untuk memaksimalkan hasil belajar, hal ini dapat diupayakan melalui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah proses belajar, antara lain cara pendidik mengajar, cara peserta didik belajar, dan estimasi waktu pembelajaran.
Salah satu tugas utama guru merupakan melakukan aktivitas pembelajaran kepada peserta didik. Diharapkan agar peserta didik aktif dalam proses pembelajaran yang sedang berjalan sehingga dapat mengembangkan potensi dirinya dengan optimal, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Untuk mendapatkan kemampuan potensi diri berkembang, tentu diperlukan suatu strategi dan teknik yang konkret agar tujuan tercapai secara optimal.
Strategi pembelajaran diperlukan agar dalam pembelajaran lebih menarik dan bervariasi sehingga peserta didik agar peserta didik terhindar dari rasa bosan serta menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Strategi ini memungkinkan peserta didik dapat menjadikan sebuah pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai langkah konkret yang diaplikasikan saat proses pembelajaran berlangsung.
Sejarah merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan masa lalu. Kekayaan nilai serta fakta sejarah yang apabila disampaikan dengan konkret dan sesuai dengan tingkat kompetensi peserta didik, akan mampu mengaktifkan pemahaman beserta kesadaran peserta didik terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam suatu peristiwa sejarah. Dalam pembelajaran sejarah kejenuhan seringkali menjadi faktor hambatan utama yang dihadapi seorang pendidik. Oleh karena itu, strategi pembelajaran diperlukan dalam pembelajaran sejarah ini agar meningkatan sebuah kreativitas dan mengurangi kejenuhan dalam pembelajaran.
Strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran sejarah, salah satunya adalah strategi pembelajaran role play (bermain peran). Strategi role play sangat efektif dalam dalam mengajarkan materi yang menekankan pada aspek afektif (pembentukan sikap, karakter dan kepribadian peserta didik). Dalam strategi ini perlu disiapkan scenario, peran dan setting cerita disesuaikan dengan materi. Dialog ini perlu dipersiapkan oleh siswa dengan cara menyesuaikan dengan alur cerita serta tema cerita.
Menurut (Jamil N.R : 2022) role play terbagi menjadi dua, yaitu role play modern dan role play tradisional. Role play modern merupakan sebuah permainan peran yang diperagakan dengan menggunakan dialog ataupun realitas yang sedang trending. Sedangkan role play tradisional merupakan sebuah permainan peran yang dialognya hanya berfokus untuk menggambarkan kejadian yang berada pada peristiwa yang menjadi tema pementasan.
Implementasi role play dalam pembelajaran sejarah dapat digunakan dalam mengajarkan materi tentang sejarah nasional, yaitu seperti terjadinya Sumpah Pemuda tahun 1928. Cara untuk menggunakan role play dalam hal ini adalah pertama, usahakan peserta didik untuk memahami alur cerita dengan membaca materi. Kedua, melakukan pembagian kelompok besar. Ketiga, peserta didik agar mempersiapkan skenario dan dialog cerita. Keempat, memerankan materi di depan kelas. Kelima, memberikan pertanyaan apa yang dirasakan terkait materi ataupun sikap dan komentar mereka terhadap tokoh yang diperankan. Keenam, membuat kesimpulan dengan peserta didik.
Strategi role play ini memungkinkan peserta didik untuk terhindar dari kejenuhan ketika belajar sejarah dan tentunya dapat meningkatkan kekreatifitasan seorang peserta didik. Strategi role play ini sangat tepat untuk pembelajaran sejarah, dikarenakan sejarah mempunyai peristiwa yang sangat menarik jika diperagakan kembali. Peserta didik dapat terjun langsung dalam alam pikiran pelaku sejarah pada saat itu dengan melakukan penghayatan peran, serta memberikan kesan terhadap peserta didik terasa lebih bermakna.
