Konten dari Pengguna

Mengapa Sejarah Tidak Boleh Dilupakan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rusdy Latuconsina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengenal Masa Lalu untuk Menata Masa Depan Bangsa

Oleh: Rusdy Latuconsina

"Bangsa yang mengenal sejarahnya akan melangkah dengan percaya diri. Bangsa yang melupakan sejarahnya akan kehilangan arah di tengah perubahan zaman."

— Kapata Mataruma

Ilustrasi Gedung Sejarah Gedung Sate Foto: Alfadillah

Di era digital, kita dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain hanya dalam hitungan detik. Ironisnya, banyak di antara kita justru tidak mengenal sejarah kampung halaman sendiri. Kita mengenal tokoh-tokoh dunia, tetapi belum tentu mengetahui siapa yang berjasa membangun negeri tempat kita dilahirkan. Kita memahami sejarah bangsa lain, tetapi belum mengenal perjalanan desa, pulau, atau daerah yang membentuk identitas kita.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan kurangnya pengetahuan.

Rusdy Latuconsina - Pendiri Mataruma Nusantara

Ini adalah persoalan identitas.

Sejarah bukan kumpulan kisah lama yang selesai dibaca, melainkan ingatan kolektif yang membantu sebuah bangsa memahami siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia hendak melangkah. Ketika sejarah mulai dilupakan, sebuah bangsa perlahan kehilangan pijakan untuk menghadapi perubahan zaman.

Sejarah Adalah Cermin Sebuah Bangsa

Setiap manusia memiliki kenangan. Dari kenangan itulah seseorang memahami perjalanan hidupnya. Demikian pula sebuah bangsa.

Sejarah menyimpan cerita tentang perjuangan, pengorbanan, keberhasilan, kegagalan, dan berbagai pelajaran yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dari sejarah kita belajar bahwa kemerdekaan tidak diperoleh secara instan, persatuan dibangun melalui proses panjang, dan kemajuan selalu lahir dari kerja keras serta keberanian menghadapi tantangan.

Karena itu, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi cermin yang membantu kita memahami masa kini dan mempersiapkan masa depan.

Belajar dari Masa Lalu untuk Menata Masa Depan

Sebagian orang beranggapan bahwa mempelajari sejarah berarti terus menoleh ke belakang. Pandangan ini kurang tepat.

Sejarah tidak mengajak kita hidup di masa lalu, tetapi mengajarkan kita agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Setiap keberhasilan menyimpan strategi yang dapat diteladani, sementara setiap kegagalan menghadirkan pelajaran yang harus dipahami.

Sejarah adalah guru yang jujur. Ia tidak memihak, tidak melebih-lebihkan, dan tidak mengurangi kenyataan. Ia hanya menyampaikan pengalaman agar manusia dapat mengambil hikmah darinya.

Maluku dan Jejak Peradaban Dunia

Sebagai anak negeri Maluku, saya memandang sejarah bukan sekadar cerita masa lampau, melainkan identitas yang masih hidup hingga hari ini.

Kepulauan Maluku pernah menjadi pusat perdagangan rempah dunia. Dari Banda, pala dan fuli berlayar menuju Asia, Timur Tengah, hingga Eropa. Laut Maluku menjadi ruang perjumpaan berbagai bangsa, bahasa, agama, dan kebudayaan.

Namun, kekayaan Maluku tidak hanya terletak pada rempah-rempahnya. Nilai-nilai persaudaraan seperti Pela dan Gandong, tradisi lisan melalui kapata, rumah adat, tarian, musik, bahasa daerah, serta kearifan masyarakat pesisir merupakan bagian dari warisan peradaban yang masih hidup dan layak dijaga.

Semua itu adalah identitas yang tidak boleh hilang ditelan zaman.

Ancaman Terbesar: Ketika Sejarah Tidak Lagi Didokumentasikan

Banyak sejarah lokal masih hidup dalam ingatan para tetua. Banyak manuskrip mulai rapuh dimakan usia. Foto-foto lama kehilangan cerita karena tidak lagi diketahui siapa orang-orang di dalamnya. Situs-situs bersejarah belum seluruhnya tercatat dan diteliti.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, kita tidak hanya kehilangan dokumen. Kita kehilangan sebagian identitas sebagai sebuah bangsa.

Karena itu, mendokumentasikan sejarah bukan hanya tugas sejarawan. Menulis, merekam, memotret, mewawancarai para tetua, menyimpan arsip keluarga, hingga memperkenalkan sejarah lokal kepada anak-anak merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga memori kolektif bangsa.

Generasi Muda adalah Penjaga Warisan

Generasi muda sering disebut sebagai pemimpin masa depan. Namun, sebelum memimpin masa depan, mereka perlu mengenal warisan masa lalu.

Anak-anak yang memahami sejarah daerahnya akan tumbuh dengan rasa bangga terhadap identitasnya. Pemuda yang mengenal perjuangan para pendahulunya akan lebih menghargai arti pengabdian dan persatuan. Masyarakat yang memahami sejarahnya akan lebih percaya diri menghadapi perubahan global tanpa kehilangan jati dirinya.

Mataruma Nusantara dan Gerakan Merawat Ingatan

Melalui Mataruma Nusantara, kami berupaya menjadikan sejarah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya melalui buku, tetapi juga lewat media digital, video, podcast, dokumentasi, penelitian, diskusi, hingga berbagai kegiatan edukasi yang dapat menjangkau generasi muda.

Kami percaya sejarah tidak seharusnya menjadi hafalan, melainkan sumber inspirasi.

Kami ingin setiap keluarga mulai mendokumentasikan kisah orang tua dan leluhurnya. Kami ingin setiap anak muda mengetahui bahwa daerahnya memiliki sejarah besar yang layak dibanggakan. Sebab, sejarah yang ditulis hari ini akan menjadi warisan bagi generasi esok.

Menjaga Ingatan, Menjaga Masa Depan

Peradaban besar selalu menghargai arsip, manuskrip, dan peninggalan sejarahnya. Mereka memahami bahwa masa depan yang kuat dibangun di atas ingatan yang terjaga.

Sejarah bukan untuk disembah, tetapi untuk dipelajari. Bukan untuk ditangisi, tetapi untuk dijadikan pelajaran agar kita mampu membangun masa depan yang lebih baik.

Mungkin di rumah kita masih tersimpan foto lama, surat keluarga, naskah kuno, atau cerita dari orang tua yang belum pernah ditulis. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai menyimpannya, mendokumentasikannya, dan mewariskannya kepada anak cucu.

Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun masa depan, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga ingatan tentang perjalanan yang membawanya sampai ke hari ini.

Rusdy Latuconsina

- Pendiri Mataruma Nusantara

Penulis Jurnal Menuju Mataruma 2026 | Edisi JM/005/2026

"Merawat Akar, Menumbuhkan Masa Depan."