Konten dari Pengguna

Mengapa Minyak Goreng Bisa Langka di Negeri Penghasil Sawit?

Muchammad Arjun Fulan Tsani

Muchammad Arjun Fulan Tsani

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muchammad Arjun Fulan Tsani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi kelangkaan minyak goreng (Sumber: shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi kelangkaan minyak goreng (Sumber: shutterstock)

Minyak goreng merupakan bahan pokok yang paling sering digunakan masyarakat Indonesia untuk kebutuhan sehari-hari. Banyak orang Indonesia beranggapan bahwa menggoreng masakan lebih nikmat rasanya daripada mengukusnya. Hal ini dikarenakan masakan yang digoreng lebih bertekstur gurih dan renyah. Berdasarkan data informasi yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS), dapat diketahui bahwa minyak goreng yang sering digunakan di Indonesia adalah minyak goreng yang terbuat dari kelapa sawit. Dari tahun 2015 hingga 2020, rata-rata konsumsi minyak goreng sawit tingkat rumah tangga Indonesia menunjukkan peningkatan tahunan sebesar 2,32%. Meskipun konsumsi minyak goreng meningkat, produksi minyak goreng dapat memenuhi permintaan konsumsi.

Akan tetapi, penggunaan minyak goreng dari kelapa sawit tengah mengalami penurunan sejak Januari 2022. Hal ini disebabkan oleh menurunnya produktivitas minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO). Pada saat itu, harga minyak goreng juga terus mengalami kenaikan menjadi Rp19.000 hingga Rp24.000 per liter, tergantung jenis kemasannya. Tentu saja masyarakat menjadi kesusahan karena kenaikan harga tersebut. Oleh sebab itu, pemerintah memutuskan untuk menerapkan kebijakan minyak goreng satu harga dan HET yang berhasil menekan harga minyak goreng.

Diduga bahwa penyebab kenaikan harga minyak goreng kelapa sawit terkait dengan praktik kartel minyak goreng. Hal ini diberitahukan oleh Tim Investigasi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang mendapat satu barang bukti saat kasus pidana terkait kartel. Kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng kelapa sawit disebabkan oleh adanya permainan mafia minyak goreng. Para mafia tersebut diduga memindahkan minyak subsidi ke minyak industri, lebih memilih melakukan ekspor minyak goreng ke luar negeri, dan membungkus ulang minyak goreng agar dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi daripada harga pasar.

Setelah berbagai upaya dilakukan, kelangkaan minyak goreng masih terus menerus terjadi sehingga membuat Presiden mencabut kebijakan HET dan mengambil langkah klasik dengan memberikan bantuan uang tunai untuk menyelesaikan masalah ini. Program BLT minyak goreng ini menandai upaya tak berkesudahan pemerintah mengatasi krisis minyak goreng. Menurut saya, solusi dari pemerintah dengan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebenarnya memang dapat membantu masyarakat. Akan tetapi, pemerintah harus bisa menemukan perencanaan dalam membentuk harga yang akurat untuk menetapkan subsidi. Tanpa hitungan tersebut, maka akan sulit menjamin harga minyak yang terjangkau sekaligus menjaga pasokan tetap tersedia di pasar.

Ditulis oleh: Muchammad Arjun Fulan Tsani (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga)