Mobil Listrik Makin Laris, tetapi Apakah Indonesia Benar-Benar Siap?
Tulisan dari Mohammad Aldi Afandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penjualan mobil listrik di Indonesia terus meningkat. Namun, pertumbuhan pasar belum cukup untuk memastikan keberhasilan transisi transportasi. Kesiapan infrastruktur pengisian daya, keterjangkauan harga, dan sumber listrik menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Data GAIKINDO yang diberitakan ANTARA menunjukkan penjualan mobil listrik berbasis baterai mencapai 103.931 unit sepanjang 2025, meningkat dari 43.188 unit pada 2024. Pertumbuhan ini menunjukkan penerimaan pasar yang semakin kuat, tetapi masih menyisakan tantangan dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang merata.
Infrastruktur Mobil Listrik Harus Siap
PLN melaporkan terdapat 4.655 mesin stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di 3.007 lokasi pada akhir 2025. Perkembangan ini menjadi langkah positif, tetapi pemerataan fasilitas tetap diperlukan, terutama di luar kota besar dan jalur utama.
Keberhasilan mobil listrik tidak hanya ditentukan oleh jumlah SPKLU, tetapi juga keandalan fasilitas, kemudahan pengisian, dan akses bagi masyarakat yang tidak memiliki tempat pengisian daya di rumah.
Mobil Listrik Harus Lebih Terjangkau
Harga masih menjadi pertimbangan penting bagi konsumen. International Energy Agency (IEA) dalam Global EV Outlook 2025 mencatat harga mobil listrik berbasis baterai di Indonesia pada 2024 rata-rata masih sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional.
Karena itu, kebijakan insentif perlu diiringi persaingan pasar yang sehat, layanan purnajual, kepastian garansi baterai, dan pembiayaan yang lebih mudah dijangkau. Biaya kepemilikan secara keseluruhan juga perlu diperhitungkan, bukan hanya harga pembelian.
Mobil Listrik Membutuhkan Energi yang Lebih Bersih
Kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang dari knalpot saat digunakan. Namun, manfaatnya terhadap pengurangan emisi juga dipengaruhi sumber listrik yang digunakan untuk mengisi baterai.
Kementerian ESDM mencatat bauran energi baru dan terbarukan dalam sektor ketenagalistrikan mencapai 16,3 persen pada 2025. Capaian ini menunjukkan kemajuan, tetapi pengembangan pembangkit energi bersih masih perlu dipercepat agar elektrifikasi transportasi memberikan manfaat lingkungan yang lebih besar.
Transisi Mobil Listrik Perlu Ukuran yang Lebih Luas
Peningkatan penjualan merupakan indikator penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pemerintah juga perlu mengevaluasi pemerataan SPKLU, keterjangkauan kendaraan, akses masyarakat, dan perkembangan bauran energi bersih.
Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam mengembangkan pasar kendaraan listrik. Tantangan berikutnya adalah memastikan manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Keberhasilan transisi mobil listrik pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak kendaraan yang terjual, melainkan juga tentang kemudahan akses, biaya yang terjangkau, dan energi yang semakin bersih.

