Konten dari Pengguna

Gagal Ke Piala Dunia 2026 : Harus Ada Sinergi Antara Pemain Keturunan dan Abroad

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohammad Haryo Bimo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dibuat Oleh Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat Oleh Gemini AI

Kegagalan timnas Indonesia untuk melaju ke piala dunia 2026 masih cukup meninggalkan kekecewaan di kalangan penikmat sepakbola tanah air. Setelah membuat Sejarah dengan menembus putaran ketiga hingga pada akhirnya mencapai pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia Zona Asia, harapan untuk tampil pada panggung sepakbola terbesar pada akhirnya harus pupus. Namun, dibalik kegagalan menembus panggung dunia tersebut, Indonesia sesungguhnya telah menunjukan bahwa jarak kekuatan sepakbola dengan negara-negara elite Asia semakin mengecil. Persoalannya bukan lagi perihal bagaimana untuk bisa untuk lolos ke piala dunia, melainkan bagaimana untuk bisa membangun tim nasional yang mampu bersaing secara konsisten pada level tertinggi.

Selama beberapa tahun terakhir, public menyaksikan perkembangan yang signifikan dalam melihat performa Timnas Indonesia. Peringkat FIFA meningkat, kualitas permainan membaik, dan mampu mulai untuk bersaing dengan negara-negara yang sebelumnya masih menjadi momok di Asia. Berbagai kebijakan mulai dari pembiaan usia muda melalui kompetisi Elite Pro Academy (EPA), peningkatan kualitas kompetisi liga 1 dan 2 dengan penambahan kuota pemain asing, hingga program naturalisasi pemain berdarah Indonesia, telah memberikan dampak positif terhadap daya saing tim nasional Indonesia.

Namun, kenyataannya pada lapangan menunjukan bahwasanya Indonesia masih memiliki gap dengan negara-negara terbaik di Asia. Ketika menghadapi pertandingan dengan tempo yang tinggi serta intensitas fisik yang konsisten selama 90 menit seringkali Timnas Indonesia kehilangan momentum. Perbedaan tersebut bukan hanya perihal persoalan kualitas individu pemain, tetapi juga lingkungan kompetisi yang membentuk karakter para pemain setiap pekannya.

Disinilah satu persoalan mendasar sepak bola Indonesia muncul. Terlalu sedikit pemain Indonesia yang mendapat pengalaman bermain di luar negeri ditambah dengan pemain-pemain abroad naturalisasi yang belakangan ini justru malah bermain di kompetisi liga 1. Bukan mendiskreditkan kompetisi domestik, namun memang kenyataannya dalam sepak bola modern, kualitas pemain sangat dipengaruhi oleh kualitas dari kompetisi yang ia Jalani setiap harinya.

Bermain di luar negeri seringkali dipandang hanya sebagai simbol yang seolah-olah seorang pemain dianggap berhasil ketika mampu menembus klub-klub luar negeri. Pandangan tersebut sesungguhnya terlalu implisit. Abroad bukanlah merupakan tujuan akhir, melainkan sebuah proses pembelajaran yang mempercepat perkembangan seorang pemain sepak bola.

Liga-liga yang lebih maju menawarkan sesuatu yang belum sepenuhnya dimiliki kompetisi domestik memiliki intensitas pertandingan yang tinggi, pendekatan taktik yang kompleks, sport science yang terintegrasi, budaya profesional yang kuat, serta persaingan yang memaksa pemain berkembang setiap hari. Pemain dituntut menjaga kondisi fisik, disiplin dalam latihan, memahami berbagai skema permainan, dan mengambil keputusan dalam tekanan tinggi. Semua pengalaman itu membentuk karakter pemain yang sulit diperoleh apabila hanya bermain di lingkungan yang sama sepanjang kariernya.

Hal ini dapat dilihat dari negara-negara Asia yang kini menjadi langganan di piala dunia. Jepang merupakan contoh paling nyata. Kesuksesan mereka bukan hanya lahir dari akademi yang baik, tetapi juga dari keberhasilan mendorong pemain-pemain terbaiknya untuk berkarir di level kompetisi tertinggi di Eropa. Nama-nama seperti Takefusa Kubu, Kaoru Mitoma, Wataru Endo, hingga Daichi Kamada berkembang karena setiap pekan menghadapi pemain-pemain terbaik di dunia. Ketika mereka Kembali membela tim nasional, membuat standar permainan Jepang juga ikut meningkat.

Korea Selatan dan Australia juga menempuh jalur yang sama. Son Heung Min dan Matthew Ryan menjadi contoh bagaimana pengalaman bertahun-tahun di liga Inggris membentuk kualitas individu yang kemudian menjadi motor permainan di timnas nya. Bahkan Uzbekistan, yang kini berkembang menjadi salah satu kekuatan baru di Asia, mulai menikmati hasil investasi jangka panjang melalui pemain yang berkiprah di berbagai liga luar negeri seperti Abdukodir Khusanov.

Indonesia sebenarnya telah mulai merasakan manfaat tersebut. Beberapa pemain keturunan yang berkarier di luar negeri menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan, baik dari aspek teknik, kecepatan membaca permainan, maupun kedewasaan dalam mengambil keputusan. Mereka membawa standar latihan dan budaya profesional yang berbeda ke dalam skuad Garuda. Efek positifnya tidak hanya terlihat pada performa individu, tetapi juga memengaruhi ritme permainan tim secara keseluruhan.

Sayangnya, jumlah pemain Indonesia yang benar-benar mendapatkan menit bermain reguler di kompetisi luar negeri masih sangat terbatas. Sebagian besar talenta terbaik masih menghabiskan seluruh kariernya di kompetisi domestik. Padahal, jika Indonesia ingin menjadi peserta tetap Piala Dunia di masa depan, pengalaman internasional tidak boleh lagi menjadi pengecualian, melainkan harus menjadi bagian dari sistem pembinaan.

Bukan berarti Liga 1 Indonesia tidak memiliki peran penting. Sebaliknya, liga domestik tetap harus menjadi fondasi pembinaan pemain nasional. Akan tetapi, liga nasional seharusnya menjadi batu loncatan menuju level kompetisi yang lebih tinggi. Keberhasilan sebuah klub tidak hanya diukur dari prestasi di dalam negeri, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan pemain yang mampu bersaing di panggung internasional.

Karena itu, para pemain muda Indonesia harus berani keluar dari zona nyaman. Tidak semua perjalanan abroad harus dimulai dari klub besar. Banyak pemain dunia memulai karier mereka dari kasta kedua atau ketiga sebelum akhirnya mencapai level tertinggi. Yang terpenting adalah kesempatan bermain secara reguler dan berada di lingkungan yang mampu mempercepat proses perkembangan mereka.

Di sisi lain PSSI selaku pemangku kebijakan perlu memiliki perspektif yang sama. PSSI dapat memperluas kerja sama dengan federasi dan klub luar negeri untuk membuka lebih banyak jalur bagi pemain muda Indonesia. Klub-klub Liga 1 juga perlu memandang transfer pemain ke luar negeri sebagai keberhasilan pembinaan, bukan semata kehilangan aset. Akademi sepak bola harus mulai menyesuaikan kurikulum pembinaan dengan standar internasional agar lulusannya siap bersaing di berbagai kompetisi dunia.

Kegagalan Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 memang menyakitkan. Namun, kegagalan akan menjadi sia-sia apabila hanya berhenti pada rasa kecewa. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun strategi jangka panjang yang lebih visioner. Indonesia tidak boleh hanya berambisi lolos ke satu edisi Piala Dunia, tetapi harus membangun fondasi agar mampu menjadi peserta tetap dalam setiap edisi berikutnya.

Pada akhirnya, semakin banyak pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri bukan hanya akan meningkatkan kualitas individu mereka, tetapi juga akan meningkatkan standar sepak bola nasional secara keseluruhan. Pengalaman yang mereka bawa dari berbagai kompetisi dunia akan memperkaya kualitas Tim Nasional Indonesia. Jika ingin melihat Garuda benar-benar terbang tinggi di panggung dunia, maka mendorong lebih banyak pemain untuk berani merantau bukan lagi sekadar pilihan. Itu adalah sebuah kebutuhan.

#TimnasIndonesia #PemainKeturunan #Abroad