Konten dari Pengguna

Piala Dunia dan Etalase Pangan Lokal

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Ikhsan Shiddieqy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Trofi FIFA World Cup 2026 diperlihatkan kepada media saat Trophy Tour by Coca-Cola di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Trofi FIFA World Cup 2026 diperlihatkan kepada media saat Trophy Tour by Coca-Cola di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Carne Asada merupakan daging panggang khas Monterrey, Meksiko. Makanan ini adalah salah satu daya tarik alternatif dari kota yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 tersebut. Carne Asada menjadi identitas lokal yang juga bisa dinikmati ribuan fans tim yang bertanding di sana.

Di sekitar New Jersey Stadium, Amerika Serikat, juga dijajakan Ripper Hot Dog yang digoreng hingga kulitnya robek itu. Bahkan, pangan lokal khas New Jersey ini diberi sentuhan pineapple salsa dan saus mayo untuk pendukung negara Amerika Latin yang timnya bermain di kota tersebut.

Pemandangan serupa juga mungkin tampak di 16 kota tuan rumah di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat, yang menggelar 104 pertandingan selama 34 hari. Sebagian besar kota itu menjajakan pangan lokal khas daerahnya dengan menggunakan Piala Dunia sebagai etalasenya.

FIFA melaporkan 1.309.652 penonton hadir dalam enam hari pertama, dengan rata-rata 65.483 penonton per pertandingan. Pada 16 Juni saja, ada 281.223 penonton di empat pertandingan, rekor harian baru Piala Dunia yang pertama kali diikuti oleh 48 negara.

Makanan adalah salah satu bentuk belanja langsung dari penonton. Bayangkan, rata-rata 65 ribu penonton per laga dan setiap penonton akan membeli satu porsi makanan. Satu hari dengan empat laga bisa berarti ratusan ribu transaksi pangan dan ratusan ton pangan yang dikonsumsi.

Di balik tersajinya setiap porsi pangan lokal di kota tuan rumah Piala Dunia ini, banyak pihak mendapat nilai tambah. Mulai dari petani, pemasok bahan baku, dan usaha kecil lokal lainnya. Indonesia perlu belajar banyak dari pemanfaatan pangan dari bahan baku lokal ini.

Rantai pangan

Pangan lokal yang mengangkat ekonomi lokal itu hal wajar dan logis. Makna lain yang kadang luput dari perhatian adalah terpotongnya rantai pangan yang panjang dan rumit. Dengan kata lain, konsumsi pangan lokal berarti mencegah datangnya bahan baku pangan dari tempat jauh.

Makanan yang ada di atas piring kita terdiri dari bahan pangan yang telah menempuh perjalanan berbeda. Bahkan, setiap jenis bumbu yang digunakan juga bukan tidak mungkin berasal dari tempat yang beragam. Masing-masing punya cerita berbeda hingga tiba di atas piring kita.

Dalam semangkuk tongseng sapi, misalnya, banyak negara dan manusia terlibat di dalamnya. Daging bisa saja berasal dari bakalan sapi potong yang berasal dari Australia. Sayur kol mungkin ditanam di Wonosobo atau Malang. Bawang putih bukan tidak mungkin berasal dari Tiongkok.

Susanne Freidberg dalam bukunya Fresh, A Perishable History (2009) mengingatkan, pangan yang segar dan sehat itu keinginan semua orang, namun mata rantai panjang membuat itu menjadi sulit. Tantangan besar dalam mata rantai pangan adalah menjaga pangan tetap segar dan sehat.

Lantas, manfaat apa yang kita peroleh ketika makanan kita berasal dari sumber lokal? Yang paling dirasakan konsumen tentu harga yang lebih murah karena rantai distribusi lebih pendek. Manfaat berikutnya adalah kondisi pangan lebih segar karena waktu tempuh distribusi lebih singkat.

Pangan lokal memiliki food miles yang lebih singkat dibanding pangan lainnya. Food miles yaitu jarak yang ditempuh oleh produk pangan dari tempat dia ditanam hingga tempat dia dimakan (from farm to fork). Food miles tidak hanya mempengaruhi kualitas pangan, namun juga harga dan dampak lingkungan

Semakin jauh asal pangan, semakin tinggi pula kemungkin emisi yang dihasilkan. Emisi transportasi yang dihasilkan untuk membawa pangan dari satu negara ke negara lain tentu tidak sedikut. Jalur darat distribusi pangan dalam satu negara juga tidak kalah kompleks.

Dukungan pasar

Pangan lokal yang unjuk gigi di Piala Dunia membawa makna penting bagi Indonesia, yakni pangan dan bahan baku lokal perlu mendapat ruang dalam pasar. Sekaligus mendapat dukungan melalui penerimaan publik dan kebijakan pemerintah beserta infrastruktur pendukungnya.

Keberpihakan ini penting karena produsen pangan dan bahan baku lokal di Indonesia rentan terhadap ketimpangan akses. Mulai dari akses pasar, distribusi, hingga pembiayaan. Singkatnya, dukungan terhadap pangan lokal harus diberikan dari hulu hingga hilir.

Pangan lokal tidak dapat dipahami hanya sebagai makanan khas sebuah tempat. Ia juga harus dibaca dari mata rantai pangannya. Makanan yang dijual di stadion, restoran, atau gerai waralaba tetap dapat memberi manfaat bagi ekonomi lokal apabila bahannya dipasok produsen setempat.

Dengan demikian, pangan dan bahan baku lokal di Indonesia perlu diperlakukan bukan sebagai alternatif kelas dua. Keberpihakan pada sumber lokal berarti memberi ruang bagi produsen kecil untuk masuk ke rantai nilai lebih adil. Juga memberi konsumen pilihan pangan yang lebih dekat.

Di sejumlah negara, konsumsi pangan lokal dikampanyekan secara masif karena dianggap lebih sehat, ramah lingkungan, dan memberdayakan ekonomi lokal. Gerakan ini muncul di berbagai negara dan organisasi dengan nama beragam, misalnya Eat What We Grow atau Local Food Initiatives.

Jaga kualitas

Perlu diingat, hukum rasionalitas konsumen tetap berlaku. Alasan kedekatan geografis tidak mempan untuk semua konsumen, khususnya Indonesia. Mereka pakai logika sederhana, yakni mendapat barang bagus dengan harga murah. Maksimisasi utilitas, begitu kata para ekonom.

Pesan utamanya hanya satu. Pangan lokal juga perlu kualitas dan harga yang bersaing. Jangan berlindung di balik ajakan moral untuk membeli pangan ramah lingkungan untuk mendorong ekonomi lokal. Artinya, pangan lokal perlu diberi panggung dan kemampuan bersaing.

Dalam konteks Piala Dunia 2026, tim nasional Norwegia membawa sendiri sebagian bahan pangan mereka ke Amerika Serikat. Mereka mendatangkan ratusan kilogram ikan salmon, keju brunost, dan jeruk langsung dari Norwegia untuk menjaga untuk memastikan kualitas dan standar nutrisi.

Norwegia bahkan mendatangkan chef terkenal dari negaranya sendiri, Aron Espeland, untuk memasak bagi Erling Haaland dan rekan setimnya. Ini menunjukkan bahwa dalam urusan pangan, kepercayaan terhadap kualitas sangat menentukan pilihan konsumen.

Agaknya sah-sah saja jika disebut bahwa pangan lokal bukan sekadar tentang dari mana makanan berasal. Ia juga tentang kepada siapa nilai tambah mengalir, seberapa pendek rantai pasok dibangun, dan seberapa besar kepercayaan konsumen dapat dijaga.