Generasi Z di Dunia Kerja: Sulit Diatur atau Memang Punya Cara Pandang Berbeda?

Saya adalah seorang mahasiswa Manajemen SDM di Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Mohammad Satura Fery Fadilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Cara Pandang Karyawan dan Perusahaan Berbeda
Generasi Z semakin banyak memasuki dunia kerja. Namun, kehadiran mereka sering diikuti anggapan bahwa anak muda zaman sekarang sulit diatur, kurang tahan tekanan, dan mudah berpindah pekerjaan. Ketika seorang karyawan memilih resign karena merasa tidak cocok dengan lingkungan kerjanya, keputusan tersebut terkadang dianggap sebagai tanda kurangnya loyalitas.
Padahal, persoalannya tidak selalu sesederhana itu. Perbedaan cara pandang antara karyawan dan perusahaan bisa menjadi salah satu penyebab munculnya masalah di tempat kerja. Perusahaan mengharapkan karyawan disiplin dan mampu mencapai target, sedangkan karyawan juga menginginkan penghargaan yang layak, komunikasi yang baik, serta kesempatan untuk mengembangkan diri.
Bayangkan seorang karyawan baru yang selalu menyelesaikan tugas sesuai arahan, tetapi jarang mendapatkan umpan balik dari atasannya. Ketika melakukan kesalahan, ia langsung mendapat teguran. Namun, ketika berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tidak ada apresiasi atau penjelasan mengenai peluang pengembangan kariernya. Setelah beberapa bulan, ia mulai kehilangan motivasi dan mempertimbangkan pekerjaan lain.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa masalah di tempat kerja tidak selalu berasal dari sikap karyawan. Cara atasan berkomunikasi, sistem penghargaan, dan kesempatan berkembang juga dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk bertahan atau pergi.
Apa Kata Hasil Penelitian?
Gambaran tersebut sejalan dengan survei Deloitte dalam 2025 Gen Z and Millennial Survey. Penelitian ini melibatkan 23.482 responden dari 44 negara, termasuk Generasi Z dan milenial.
Hasilnya menunjukkan bahwa 89% responden Generasi Z menganggap tujuan atau makna pekerjaan penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka. Selain itu, 70% responden Generasi Z menyatakan bahwa mereka mengembangkan keterampilan untuk memajukan karier setidaknya sekali dalam seminggu. Temuan ini memperlihatkan bahwa anak muda tidak selalu menghindari tuntutan kerja. Mereka juga berusaha meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan masa depan kariernya.
Survei tersebut juga menemukan adanya kesenjangan antara harapan dan pengalaman karyawan. Sebanyak 42% responden Generasi Z menilai bahwa manajer bertanggung jawab membangun budaya kerja yang positif dan inklusif, tetapi hanya 22% yang merasa hal tersebut benar-benar terjadi di tempat kerja mereka.
Angka ini tidak berarti semua perusahaan memiliki masalah yang sama. Namun, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara atasan dan karyawan masih menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.
Strategi SDM Tidak Cukup Hanya Menuntut Kinerja
Dalam Manajemen Strategi SDM, perusahaan perlu menyelaraskan tujuan organisasi dengan kebutuhan karyawan. Target dan kedisiplinan tetap penting, tetapi keduanya perlu didukung oleh pengelolaan SDM yang tepat.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membangun komunikasi dua arah. Atasan perlu memberikan arahan dan evaluasi yang jelas, sementara karyawan diberi kesempatan menyampaikan kendala atau pendapatnya. Perusahaan juga dapat menyediakan pelatihan, pendampingan dari karyawan senior, jalur pengembangan karier, serta sistem kompensasi yang adil.
Strategi tersebut bukan berarti perusahaan harus selalu mengikuti keinginan karyawan. Karyawan tetap wajib memenuhi tanggung jawab, menjaga profesionalisme, dan menerima evaluasi atas hasil kerjanya. Sebaliknya, perusahaan perlu memastikan bahwa tuntutan pekerjaan sebanding dengan dukungan dan penghargaan yang diberikan.
Jika diterapkan secara konsisten, pendekatan ini berpotensi meningkatkan motivasi, memperbaiki hubungan kerja, dan mengurangi keinginan karyawan untuk mengundurkan diri. Perusahaan pun dapat mengurangi biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk terus merekrut serta melatih karyawan baru.
Bukan Saling Menyalahkan
Generasi Z memang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap pekerjaan, tetapi perbedaan tersebut tidak seharusnya langsung dianggap sebagai kelemahan. Mereka tetap perlu belajar mengenai disiplin dan tanggung jawab, sedangkan perusahaan perlu terbuka terhadap perubahan kebutuhan tenaga kerja.
Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan SDM bukan hanya dilihat dari kemampuan perusahaan merekrut karyawan berbakat, tetapi juga dari kemampuannya mengembangkan dan mempertahankan mereka. Pertanyaannya bukan semata-mata apakah Generasi Z sulit diatur, melainkan apakah perusahaan sudah memiliki strategi yang mampu membuat karyawan berkembang sekaligus mencapai tujuan organisasi.
Mohammad Satura Fery Fadilla, Mahasiswa Manajemen SDM Universitas Pamulang.
