Ragam Hoaks Corona, Akademisi Ajak Masyarakat Melek Informasi Kesehatan

Dosen Ilmu Komunikasi di President University, Cikarang.
Tulisan dari Mohammad Shihab tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ragam hoaks corona telah banyak beredar di kalangan masyarakat. Bila tidak hati-hati, masyarakat akan mendapatkan informasi yang kurang valid dan bahkan tidak menyehatkan. Hal ini membuat literasi media dan kesehatan menjadi isu penting yang perlu disadari oleh masyarakat. Isu ini menjadi salah satu topik yang hangat dibicarakan dalam konferensi Dynamic Media, Communication, and Culture (DiMCC) yang digelar oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi President University secara virtual pada Kamis (15/4/2021).
Salah satu pembicara kunci, Dr. Puji Lestari, dalam presentasinya merasa prihatin dengan ragam hoaks corona dan informasi kesehatan yang tidak valid beredar di kalangan masyakat. Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak ikut menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
"Di masa pandemi ini, justru kita harus lebih aware terhadap hoax. Tidak hanya menjadi hoax fighter, namun pastikan juga kalau kita tidak menjadi salah satu penyebar hoax tersebut. Maka dari itu, penting untuk mengonfirmasi data dari sebuah berita sebelum di-share ke orang lain, agar apabila berita tersebut ternyata hoax, dapat berhenti di kita," tutur Puji Lestari.
Untuk itu, Puji mengajak masyarakat untuk proaktif memeriksa informasi yang beredar di media sosial lewat media massa yang kredibel, website resmi, dan juga aplikasi-aplikasi pencari fakta.
Selain Dr. Puji Lestari, pembicara kunci yang juga turut berpartisipasi adalah Dr. Ulani Yunus, Dr. Dadang Rahmat Hidayat, Dr. Rustono Farady Marta, Prof. Wang Changsong, dan Nicholas Charah, Ph.D.
Konferensi DiMCC kedua ini mengangkat tema "Message, Meaning, Media in 2021: From COVID-19 Pandemic to Society 5.0". Kegiatan ini dihadiri lebih dari 200 peserta secara virtual dan diikuti oleh 70 pemakalah dari kalangan mahasiswa dan akademisi dari berbagai universitas di Indonesia, Malaysia, dan Australia.
