Konten dari Pengguna

Komunisme Dalam Dua Wajah : Persepsi Indonesia vs Realitas Kemajuan China

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Robertus Marco Moktar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semenjak fenomena G30SPKI yang terjadi di Indonesia, pandangan masyarakat Indonesia terhadap komunis dan China berubah menjadi apatis. Hal ini dikaitkan dengan kematian 6 Jenderal dan seorang perwira TNI yang terkubur di Lubang Buaya seolah segala yang berbau komunis menjadi sasaran empuk bagi pemerintahan saat itu untuk tidak segan-segan menembak mati atau menangkap orang-orang yang terindikasi anggota partai merah ataupun keluarga dan kerabat dari Partai Komunis itu tersendiri. Hal ini pernah terjadi di tahun 1965-1966 terjadi pembantain HAM yang besar di Indonesia yang menewaskan lebih kurang 1 juta penduduk yang terindikasi terikat dengan partai merah atau komunis tanpa bukti atau persidangan yang lebih lanjut.

Negara China Modern ( Sumber : https://www.pexels.com/photo/brown-and-red-temple-2915957/ )

Hal-hal mengenai komunis sebagian besar telah mengalami kesalahpahaman besar yang mengangaap bahwa komunis merupakan sebuah partai,pemahaman,dan rezim yang menganggap bahwa komunis adalah ketidakpercayaan kepada Tuhan atau secara kasar bisa disebut dengan ateis, sementara itu komunis menurut Karl Max (1848 ) adalah ideologi yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas sosial, dimana semua properti dan alat produksi dimiliki secara komunal. Pemahaman yang menganggap Komunisme sama dengan ateis tentu kita telah mengalami kesalahan logika berpikir, sebagai contoh untuk memahami apa yang menjadi penyebab kemajuan China kita harus melihat Komunisme dari sudut pandang yang berbeda.

Di Indonesia sendiri kesalahan pemikiran terhadap komunisme secara tidak langsung disebabkan oleh beberapa faktor utama Karl Max menyebutkan bahwa “ Agama adalah Candu Masyarakat “ , yang kedua komunisme di bentur-benturkan dengan propaganda politik yang terjadi di Indonesia selama bertahun-tahun menyebabkan pemikiran mengenai komunis ataupun semua hal yang berbau dan berkaitan dengan China adalah dilarang di Indonesia.

Komunisme yang diterapkan di China begitu sukses dan maju disebakan oleh langkah nyata yang dilakukan oleh Partai Komunis China (PKC) itu sendiri, para kader dan petinggi di PKC menyadari itu bersikap realistis dan adapatif terhadap kondisi ril China saat itu. Indonesia pada era 1948-1976 memiliki pendapatan per kapita atau PDB yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan China pada saat itu namun semua hal itu berubah ketika China mengalami reformasi besar dibidang ekonomi pasca Wafatnya Mau Zedong dan diangkatnya Deng XiaoPing. Reformasi Ekonomi yang mulai dilaksanakan oleh Deng XiaoPing membuat China mengalami pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang begitu pesat

Deng XiaoPing menyadari bahwa ideologi tidak akan membuat perut rakyat menjadi kenyang, terdapat satu kutipan terkenal dari Deng XiaoPing yang mengatakan “ Tidak peduli kucing hitam atau kucing putih yang terpenting bisa menangkap tikus “ maksud dari perkataan beliau adalah tidak peduli mau Kapitalis ataupun Komunis hal itulah hanyalah sebuah cara untuk memajukan ekonomi, jika suatu ideologi atau sistem ekonomi tidak berhasil disuatu tempat maka bisa digunakan cara lain untuk melakukan hal tersebut.

Deng XiaoPing juga menyadari bahwa dengan membuka reformasi ekonomi yang besar dan keterbukaan terhadap dunia barat, perlu adanya infilstrasi atau pengolahan lebih lanjut terhadap budaya China itu sendiri, Ilmu apapun atau ideologi apapun yang masuk ke China pada saat itu haruslah disesuaikan kembali agar sesuai dan dapat diterpakan sesuai dengan falsafah negara sendiri.

China secara ekonomi melaksanakan sistem kapitalis namun secara sistem politik melaksankan sistem komunis yang dimana hanya ada terdapat satu partai tunggal sebagai penguasa dalam pemerintahan, dibandingkan dengan sistem demokrasi liberal China lebih memilih sistem Meritokrasi yang berarti setiap pemimpin ataupun presiden yang memimpin China haruslah terlebih dahulu memiliki pengalaman ataupun jabatan sebelumnya di tingkat yang lebih rendah. Hal tersebut mengurangi terjadinya kecurangan dan miss kekuasaan dalam sistem politik sehingga pemimpin yang menduduki jabatan penting di China bukanlah pemimpin yang sembarangan.

Keunggulan dari sistem politik tersebut tidak adanya kompetisi atau persaingan antar partai yang bertujuan untuk memperebutkan jabatan politik di China tersebut, namun setiap golongan yang ada dimulai dari petani , seniman , media , olahragawan , hingga pembisnis besar memiliki perwakilan tersendiri di parlemen untuk memusyawarakan kepetingan mereka masing-masing tanpa perlu terjadi perdebatan. Dan tiap 5 tahun sekali mereka akan menggelar sidang paripurna untuk memilih pemimpin tertingginya .

Terkahir namun tidak kala penting yang menyebabkan kemajuan China saat ini ialah komitmen terhadap pemberantasan korupsi yang menjadi salah satu tonggak penting dalam kemajuan China saat ini. Korupsi akan menjadi penghambat dalam menggerakan atau memajukan sebuah negara, PKC berkotmitmen untuk tidak memberi ampun atau rasa kasihan sedikitpun terhadap siapapun pelaku korupsi yang merugikan negara. Sebab Presiden China saat ini Xi JinPing pernah berujar “ Harimau dan Lalat disikat secara bersamaan” maksud dari perkataan beliau adalah tidak peduli besar atau kecil jika seseorang melakukan korupsi maka ia pantas untuk dihukum.

Robertus Marco Moktar, Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Universitas Sriwijaya