Bagaimana Trauma Masa Kecil Memengaruhi Pernikahan Saat Dewasa

Bagaimana Trauma Masa Kecil Memengaruhi Pernikahan Saat Dewasa
zoom-in-whitePerbesar

Masa kecil yang dipenuhi konflik orang tua, pengabaian, atau kekerasan emosional sering kali meninggalkan luka mendalam yang tidak kasat mata. Tanpa disadari, luka masa lalu ini kerap terbawa hingga seseorang membangun rumah tangga sendiri di masa dewasa. Sebuah penelitian terbaru menyoroti bagaimana unresolved trauma atau trauma keluarga masa kecil yang belum tuntas dapat membentuk pola interaksi dalam pernikahan. Namun, kabar baiknya, riset ini juga memetakan langkah nyata bagi pasangan untuk memutus rantai disfungsi tersebut demi masa depan keluarga yang lebih sehat.

Gema Emosional dari Masa Lalu yang Membayangi Keintiman

Hubungan pernikahan yang harmonis membutuhkan rasa aman dan saling percaya. Sayangnya, bagi individu yang tumbuh dalam keluarga disfungsional, rasa aman adalah kemewahan yang sulit dipahami. Dalam studi yang dipublikasikan oleh psikolog Mehdi Rostami dan Shokouh Navabinejad dari KMAN Research Institute di Kanada, terungkap bahwa trauma masa kecil menciptakan gema emosional negatif yang sangat kuat di masa dewasa. Penelitian yang melibatkan 22 partisipan berusia 28 hingga 55 tahun ini mendapati adanya rasa bersalah dan malu yang mendalam (internalized shame) yang terus menghantui para penyintas.

Akibat luka pengabaian di masa lalu, banyak dari mereka merasa tidak layak untuk dicintai. Salah satu partisipan mengungkapkan kesedihannya dengan berkata, “Saya merasa terlalu hancur untuk bisa dicintai dengan cara yang benar.” Perasaan tidak berharga ini kemudian memicu sikap terlalu waspada (hypervigilance) terhadap pasangan, ketakutan ekstrem akan ditinggalkan, hingga kesulitan mempercayai komitmen pasangan. Di sisi lain, ketika konflik memuncak, penyintas trauma cenderung menarik diri secara emosional demi melindungi diri mereka sendiri. “Ketika situasi menjadi terlalu intens, saya langsung menarik diri. Suami saya mengira saya tidak peduli, padahal saya hanya tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaan ini,” aku partisipan lainnya.

Pola Konflik Orang Tua yang Tanpa Sadar Terulang

Tak banyak yang tahu bahwa manusia cenderung meniru apa yang mereka saksikan selama masa tumbuh kembang. Fenomena penularan disfungsi antargenerasi (intergenerational transmission of dysfunction) ini membuat anak-anak yang terbiasa melihat pertengkaran toxic orang tua tumbuh menjadi orang dewasa yang menyelesaikan masalah dengan cara serupa. Mulai dari berteriak, bersikap pasif-agresif, hingga melakukan mekanisme koping yang merusak diri sendiri seperti menenggelamkan diri dalam pekerjaan secara berlebihan.

Seorang istri dalam studi tersebut merefleksikan, “Ketika keadaan menjadi sulit, saya menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Begitulah cara saya bertahan hidup dari kekacauan terus-menerus orang tua saya dahulu.” Selain koping yang keliru, proyeksi emosi juga sering terjadi, di mana pasangan hidup kerap disamakan dengan sosok orang tua yang traumatis di masa lalu. “Jika dia marah, saya melihat sosok ibu saya pada dirinya. Bahkan ketika dia bersikap adil, saya tetap bereaksi seperti anak usia 12 tahun,” papar seorang partisipan. Sikap protektif yang berlebihan ini sering kali merusak model keintiman yang sehat, bahkan memicu tindakan “menguji” pasangan secara tidak sehat, seperti penuturan seorang suami: “Saya menjauhkannya hanya untuk melihat apakah dia akan kembali, karena jauh di lubuk hati, saya tidak percaya ada orang yang mau bertahan.”

Memutus Rantai Trauma demi Membangun Ketahanan Keluarga

Meskipun bayang-bayang masa lalu terasa begitu berat, penelitian ini membawa pesan harapan yang kuat bagi Moms dan keluarga di rumah. Banyak penyintas trauma yang secara sadar berupaya memutus rantai disfungsi ini agar tidak diwariskan kepada anak-anak mereka. Upaya sadar (conscious pattern breaking) ini dilakukan dengan menjalani terapi profesional, menulis jurnal, menetapkan batasan emosi yang sehat, serta mengenali pemicu trauma (triggers) secara aktif.

Langkah krusial lainnya adalah meningkatkan literasi emosional, yaitu belajar mengenali, menamai, dan mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat tanpa menyakiti pasangan. Komitmen untuk berubah ini tercermin dari penuturan salah satu partisipan yang bertekad membangun pernikahan yang berbeda dari orang tuanya: “Saya membuat aturan untuk tidak pernah tidur dalam keadaan marah. Orang tua saya sering melakukannya, dan itu menghancurkan hubungan mereka. Saya tidak ingin mengulangi hal itu.” Dengan bimbingan profesional dan keterbukaan bersama pasangan, luka masa kecil yang mendalam sekalipun dapat disembuhkan, membuka jalan bagi terciptanya hubungan pernikahan yang penuh kasih, aman, dan kokoh.