Bahaya Tersembunyi Dibalik Sikap Selalu Ingin Menyenangkan Orang Lain

Bahaya Tersembunyi Dibalik Sikap Selalu Ingin Menyenangkan Orang Lain
zoom-in-whitePerbesar

Pernahkah Moms merasa sering meminta maaf padahal kesalahan bukan datang dari pihak kita, atau memilih setuju dengan pendapat orang lain hanya agar konflik tidak membesar? Dalam psikologi, kecenderungan untuk terus-menerus mengecilkan diri demi menjaga harmoni disebut sebagai fawning. Meski terlihat seperti bentuk kasih sayang atau sifat rendah hati, perilaku ini sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan diri yang berakar dari rasa takut akan penolakan. Bagi Moms, memahami pola ini adalah langkah krusial agar tidak kehilangan jati diri di tengah upaya merawat keharmonisan keluarga.

Memahami Fawning sebagai Strategi Bertahan Hidup

Fawning adalah respons alami tubuh yang setara dengan konsep lawan, lari, atau diam saat menghadapi stres relasional. Menurut Tasha Seiter, MS, PhD, LMFT, perilaku ini dilakukan untuk mencari rasa aman dengan cara memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan sendiri. Secara evolusi, strategi ini sering kali terbentuk sejak masa kanak-kanak, terutama ketika seseorang tumbuh di lingkungan di mana keselamatan bergantung pada kemampuan untuk menenangkan orang dewasa yang temperamental.

Namun, masalah muncul ketika sistem saraf kita tetap menggunakan strategi ini bahkan saat ancaman masa lalu telah hilang. Seiter menjelaskan, “Fawning adalah strategi bertahan hidup yang berakar pada kebutuhan kita akan rasa aman dan koneksi.” Ketika Moms terjebak dalam pola ini, Moms menjadi sosok yang sangat fleksibel namun rentan dimanfaat oleh individu yang lebih kaku, sehingga tanpa disadari, Moms justru kehilangan kontak dengan emosi diri sendiri.

Dampak Emosional dari Menekan Perasaan Sendiri

Sering kali, mereka yang memiliki pola fawning dianggap sebagai pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri atau sangat penolong. Padahal, perilaku tersebut bisa jadi merupakan bentuk kewaspadaan berlebih atau hypervigilance. Moms berusaha memastikan semua orang dalam kondisi baik agar Moms akhirnya bisa merasa aman untuk bersantai. Namun, mengabaikan kebutuhan pribadi secara terus-menerus memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan mental.

Penelitian mengenai self-silencing atau kecenderungan membungkam perasaan sendiri, menunjukkan adanya kaitan erat dengan gejala depresi. Mengacu pada studi yang diterbitkan oleh Dill, Brown, dan Jack pada tahun 1992, menekan perasaan sendiri tidak akan membuat emosi tersebut hilang. Sebaliknya, riset dari Gross dan John pada tahun 2003 menekankan bahwa penekanan emosi justru menyebabkan peningkatan emosi negatif dan penurunan emosi positif dalam diri seseorang.

Menemukan Kembali Diri yang Autentik dalam Keluarga

Ketika Moms terus-menerus menyembunyikan kebutuhan dan perasaan, orang-orang terdekat justru kehilangan sinyal yang dibutuhkan untuk benar-benar memahami dan mendukung Moms. Akibatnya, hubungan menjadi kurang autentik dan terasa dingin. Penting bagi Moms untuk mulai merefleksikan diri: apakah perilaku mengalah yang selama ini dilakukan masih berfungsi menjaga keamanan, atau justru menjauhkan Moms secara emosional dari orang-orang tersayang?

Keluar dari jeratan fawning berarti belajar untuk berani mengekspresikan kebutuhan secara jujur, meski itu terasa tidak nyaman di awal. Mulailah dengan menyadari perasaan diri sendiri sebelum mencoba menenangkan situasi. Ingatlah bahwa hubungan yang sehat dibangun di atas kejujuran dan keberanian untuk menjadi diri sendiri, bukan dengan mengorbankan jati diri demi menciptakan kedamaian semu.