Ketika Obsesi Makan Sehat Justru Mengancam Kesehatan Mental Remaja

Ilustrasi almonds, nuts, roasted. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi almonds, nuts, roasted. Foto: Pixabay

Di era digital saat ini, media sosial dipenuhi oleh berbagai tren kesehatan, mulai dari tips olahraga hingga panduan diet ketat. Bagi para orang tua, melihat anak remaja mereka menunjukkan ketertarikan pada pola hidup sehat tentu mendatangkan rasa lega. Namun, di balik konten makanan estetik dan kampanye gaya hidup bersih yang berseliweran di layar ponsel, terdapat ancaman psikologis yang perlahan mulai mengintai generasi muda.

Sebuah penelitian terbaru memperingatkan bahwa antusiasme berlebih untuk mengonsumsi makanan sehat dapat bergeser menjadi sebuah gangguan mental yang serius. Ketika dorongan untuk mengonsumsi makanan organik dan murni berubah menjadi sebuah obsesi yang kaku, kondisi ini tidak lagi menyehatkan, melainkan menjadi awal dari gangguan perilaku makan yang dikenal sebagai Orthorexia Nervosa.

Mengenal Orthorexia Nervosa dan Dampaknya pada Psikologis Anak

Berbeda dengan gangguan makan seperti anorexia nervosa yang berfokus pada penurunan berat badan atau perubahan penampilan fisik, Orthorexia Nervosa menitikberatkan perhatian pada kualitas dan kemurnian makanan yang dikonsumsi. Seseorang yang mengalami kondisi ini akan memiliki standar diet yang sangat perfeksionis dan hanya mau mengonsumsi makanan yang mereka anggap benar-benar bersih, bebas bahan kimia, atau tidak diproses.

Meski tujuannya terdengar positif, obsesi ekstrem ini justru dapat merusak kualitas hidup anak secara keseluruhan. Secara psikologis, anak akan mengalami kecemasan yang luar biasa jika terpaksa mengonsumsi makanan yang tidak memenuhi standar ketat mereka. Akibatnya, mereka cenderung menarik diri dari pergaulan sosial, menghindari acara makan bersama keluarga, hingga mengalami malnutrisi akibat pilihan jenis makanan yang terlalu dibatasi.

Bagaimana Visual Media Sosial Memperburuk Obsesi Makan Sehat

Kaitan erat antara media sosial dan gangguan makan ini diungkap dalam sebuah ulasan sistematis yang dipimpin oleh Emmanuelle Awad, seorang peneliti dari Maastricht University bersama rekan-rekannya dari Lebanese American University. Dalam penelitian yang membedah 31 studi ilmiah tersebut, ditemukan bahwa platform visual seperti TikTok, Instagram, dan YouTube memiliki pengaruh yang jauh lebih kuat dalam memicu gejala Orthorexia Nervosa dibandingkan dengan platform berbasis teks seperti X atau Reddit.

Konten visual yang dikemas dengan sangat menarik, seperti video bertajuk What I Eat in a Day atau foto-foto makanan sehat yang ditata sempurna, menciptakan standar ideal yang tidak realistis tentang arti hidup sehat. Berdasarkan temuan para peneliti, “Tinjauan kami menunjukkan bahwa lebih banyak waktu yang dihabiskan di media sosial, terutama pada platform visual dan saat terlibat dengan konten terkait kesehatan dan kebugaran, berhubungan dengan tingkat Orthorexia Nervosa yang lebih tinggi.” Celakanya, algoritma platform digital dirancang untuk terus menyajikan konten serupa sehingga remaja terus dibombardir oleh kampanye diet ketat secara berulang.

Kelompok Paling Rentan dan Panduan Bijak untuk Orang Tua

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE ini juga menyoroti bahwa remaja perempuan dan dewasa muda merupakan kelompok yang paling rentan terhadap paparan konten ini karena adanya tekanan sosial yang tinggi terkait citra tubuh. Selain itu, anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan aturan diet yang sangat ketat atau memiliki kepribadian yang perfeksionis juga menunjukkan risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami Orthorexia Nervosa.

Menghadapi fenomena ini, orang tua memegang peran kunci dalam menjaga keseimbangan kesehatan mental dan fisik anak. Alih-alih melarang anak menggunakan media sosial secara total, langkah terbaik adalah melatih kemampuan berpikir kritis mereka saat mengonsumsi konten digital. Orang tua perlu mengajak anak berdiskusi bahwa apa yang ditampilkan di layar ponsel sering kali telah dikurasi sedemikian rupa dan tidak selalu mencerminkan realitas kehidupan yang sehat secara utuh. Dengan begitu, anak dapat memahami bahwa gaya hidup sehat yang sesungguhnya adalah tentang keseimbangan, fleksibilitas, dan kebahagiaan, bukan aturan kaku yang menyiksa diri.