Konten dari Pengguna

Memahami Makna Maaf dalam Pemulihan Trauma Pasca Kekerasan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mom Journal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memahami Makna Maaf dalam Pemulihan Trauma Pasca Kekerasan
zoom-in-whitePerbesar

Bagi banyak penyintas kekerasan dalam rumah tangga, tuntutan sosial untuk segera memaafkan pelaku sering kali menjadi beban psikologis yang berat. Banyak pihak, termasuk lingkungan keagamaan atau kerabat, kerap menekan penyintas dengan argumen bahwa memaafkan adalah kunci untuk melangkah maju. Namun, terapis trauma Kaytee Gillis, LCSW, mengingatkan bahwa memaafkan sebelum waktunya justru bisa menjadi penghalang proses pemulihan yang sesungguhnya. Sebelum mencapai titik maaf, setiap penyintas perlu melewati fase berduka atas kehilangan martabat, rasa aman, serta ekspektasi yang sempat hancur selama masa hubungan tersebut.

Menempatkan Proses Berduka di Garis Depan

Banyak penyintas terjebak dalam fase penyangkalan yang berkepanjangan dengan meyakinkan diri bahwa mereka telah memaafkan pelaku. Padahal, tanpa proses berduka yang tuntas, rasa sakit akan terus muncul kembali di kemudian hari. Menurut Gillis, penyintas sering kali mengabaikan duka atas hilangnya harga diri dan kebanggaan diri mereka sendiri. Ia menekankan bahwa “Proses berduka harus dilakukan pasca trauma, karena memaafkan pelaku tanpa memproses duka justru berisiko menghentikan penyembuhan yang mendalam.”

Prioritas Utama adalah Memaafkan Diri Sendiri

Salah satu langkah krusial dalam pemulihan trauma adalah memberikan maaf kepada diri sendiri atas segala rasa bersalah yang tidak seharusnya dipikul. Sering kali, penyintas menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu mendeteksi tanda bahaya lebih awal atau merasa bertanggung jawab atas tindakan kejam pasangan. Penting bagi Moms untuk memahami bahwa terdapat perbedaan besar antara kekurangan personal dalam hubungan dengan tindakan kekerasan yang disengaja oleh pihak lain. Berhentilah menghakimi diri sendiri atas situasi yang di luar kendali dan fokuslah pada pemulihan kesehatan mental pribadi.

Meneguhkan Hak untuk Dicintai dan Terus Melangkah

Bagi individu dari komunitas marginal, trauma sering kali diperburuk oleh stigma sosial atau nilai tradisional yang menyalahkan identitas mereka sebagai penyebab kekerasan. Dalam praktiknya, penyintas perlu menyadari bahwa setiap individu berhak atas cinta dan kasih sayang tanpa perlu merasa harus dihukum. Pemulihan ini dimulai dengan penerimaan diri yang utuh. Selain itu, penggunaan jurnal harian menjadi instrumen efektif untuk mendokumentasikan progres emosional. Menulis secara rutin dapat memberikan bukti nyata bahwa Moms telah berhasil menempuh perjalanan jauh dari rasa takut dan nyeri di masa lalu.

Memaafkan Bukanlah Kewajiban Penyembuhan

Pada akhirnya, memaafkan adalah pilihan personal yang harus lahir dari keikhlasan, bukan karena tuntutan pihak luar. Jika di masa depan proses memaafkan itu hadir, pastikan hal tersebut murni berasal dari ketenangan jiwa, bukan karena tekanan orang lain. Sampai saat itu tiba, berikan izin bagi diri sendiri untuk berduka dan memulihkan kondisi dengan kecepatan yang sesuai. Ingatlah bahwa proses pemulihan bersifat non-linear; ada hari-hari baik dan buruk, namun setiap langkah yang diambil adalah upaya berharga menuju keutuhan diri kembali.