Menakar Dampak Perceraian Orang Tua pada Hubungan Kakak Adik

Perceraian tidak hanya mengubah struktur hubungan antara suami dan istri, melainkan juga merombak fondasi emosional anak-anak di dalam rumah. Ketika dinamika keluarga terguncang, perhatian publik kerap kali hanya tertuju pada bagaimana hubungan orang tua dan anak bertahan. Padahal, menurut psikolog klinis Ann Gold Buscho Ph.D., relasi antarsaudara kandung (kakak-adik) justru mengalami pergeseran paling radikal selama masa transisi ini. Bagi sebagian anak, badai perceraian dapat merekatkan ikatan persaudaraan menjadi pelindung utama satu sama lain. Namun bagi sebagian lainnya, krisis ini justru menorehkan jarak emosional yang sulit dijembatani hingga mereka dewasa.
Perekat atau Pemisah: Bagaimana Badai Perceraian Mengubah Peran Saudara Kandung
Ketika orang tua terlalu larut dalam emosi, konflik, atau kerumitan proses perceraian, anak-anak sering kali kehilangan pegangan emosional. Dalam kondisi yang tidak stabil ini, saudara kandung kerap menjadi figur lekat utama tempat mereka mencari perlindungan. Hubungan ini bisa berkembang menjadi sangat erat atau justru menjauh, tergantung pada temperamen masing-masing anak dan bagaimana mereka memaknai perceraian tersebut.
Hal senada diungkapkan oleh Jonah, seorang klien yang berbagi kisahnya kepada Buscho. “Saya rasa perceraian orang tua membuat saya dan kakak perempuan saya menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Kami saling menguatkan melewati tahun-tahun yang berat itu,” kenang Jonah. Ia menambahkan bahwa sang kakak selalu menjadi pelindung setianya ketika kondisi orang tua mereka sedang tidak stabil.
Namun, tidak semua anak beruntung mendapatkan dukungan tersebut. Klien lainnya yang bernama Frank menceritakan pengalaman emosional yang bertolak belakang. “Kakak laki-laki saya menarik diri dan menutup diri ketika saya membutuhkannya untuk bersandar. Dia mencari dukungan dari teman-temannya, sementara saya merasa tersesat tanpanya. Dia menjadi semakin jauh, dan hubungan kami tidak pernah pulih kembali,” ungkap Frank. Dua reaksi yang bertolak belakang ini menunjukkan betapa dahsyatnya dampak perceraian dalam memengaruhi ikatan persaudaraan.
Mengenal Pola Perilaku Kakak Adik Saat Menghadapi Perpisahan Orang Tua
Dari sudut pandang psikologi keluarga, ada beberapa pola adaptasi emosional yang kerap muncul di antara saudara kandung saat menghadapi perceraian orang tua. Pertama adalah dinamika pelindung dan yang dilindungi (protector/protected dynamic), di mana anak yang lebih tua cenderung mengorbankan masa kecilnya demi mengurus emosi adik-adiknya. Pola kedua adalah pembagian kubu emosional, di mana anak-anak memihak salah satu orang tua yang mereka anggap sebagai korban atau sosok yang lebih rapuh.
Tak banyak yang tahu, kondisi tertekan juga bisa memicu orang tua untuk melakukan kambing hitam atau pilih kasih (scapegoating/favoritism) secara tidak sadar. Hal ini memicu persaingan sengit dan kecemburuan yang mendalam di antara anak-anak. Di sisi lain, ada pula saudara kandung yang bersatu membentuk benteng pertahanan bersama (united front) demi mempertahankan rasa aman yang hilang karena runtuhnya struktur keluarga mereka.
Luka Masa Kecil yang Terbawa Hingga Usia Dewasa
Peran dan pola perilaku yang terbentuk selama masa perceraian ini tidak serta-merta luntur seiring bertambahnya usia. Dinamika tersebut sering kali menetap hingga mereka menginjak usia dewasa dan berkeluarga. Pertemuan keluarga besar, acara pernikahan, atau momen liburan dapat dengan mudah mengaktifkan kembali peran-peran masa kecil yang traumatis tersebut, seperti sosok pelindung, kambing hitam, atau anak yang terisolasi.
Lebih jauh lagi, masalah yang belum terselesaikan ini sering kali muncul kembali saat mereka harus bekerja sama dalam merawat orang tua yang mulai lanjut usia. Perbedaan cara pandang mengenai perceraian di masa lalu menciptakan jurang pemisah yang membuat komunikasi antar-saudara menjadi buntu, bahkan bisa memperburuk hubungan yang sejak awal sudah renggang.
Merajut Kembali Hubungan yang Renggang demi Masa Depan
Bagi Moms yang sedang mendampingi anak-anak melewati fase sulit, atau bagi Anda yang tumbuh dalam keluarga yang bercerai, pemulihan hubungan persaudaraan sangat penting untuk diupayakan. Langkah awal yang bisa diambil adalah membangun komunikasi yang jujur dan berempati. Sangat penting untuk menyadari bahwa setiap anak memiliki narasi dan memori yang berbeda tentang perceraian orang tua mereka, tergantung usia dan tingkat kedewasaan emosional mereka saat peristiwa itu terjadi.
Melalui percakapan yang terbuka dan bebas dari saling menyalahkan, saudara kandung dapat mendefinisikan kembali hubungan mereka sebagai orang dewasa. Memahami keterbatasan masing-masing di masa lalu akan membantu meruntuhkan dinding pertahanan diri, sehingga hubungan persaudaraan dapat kembali menjadi sistem pendukung yang kokoh dan penuh kasih sayang.

