Mengapa Kepercayaan Masyarakat terhadap Sains Sering Kali Terkikis

Dalam dunia yang kian kompleks, Moms mungkin sering bertanya-tanya mengapa konsensus ilmiah sering kali diabaikan, meski profesi ilmuwan secara statistik menempati posisi teratas sebagai profesi yang paling dipercaya. Faktanya, sebuah paradoks terjadi di tengah masyarakat; sementara 90 persen orang mengaku percaya pada sains, 40 persen di antaranya justru menyatakan hanya akan mempercayai sains yang sejalan dengan keyakinan pribadi mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa preferensi emosional dan identitas sosial sering kali mengalahkan bukti empiris yang ada di depan mata.
Faktor Psikologis di Balik Skeptisisme Sains
Penelitian terbaru dari Veckalov dan rekan-rekannya (2024) mengungkapkan bahwa tingkat kedekatan psikologis seseorang terhadap dunia sains menjadi prediktor utama tingkat kepercayaan mereka. Jika seseorang tidak pernah terpapar pada eksperimen sains di sekolah atau tidak memiliki akses terhadap literatur ilmiah, mereka cenderung memandang sains sebagai entitas yang asing, jauh, dan tidak relevan. Kondisi ini membuat informasi ilmiah yang bersifat jangka panjang, seperti isu perubahan iklim, lebih mudah diabaikan dibandingkan isu yang berdampak langsung pada kehidupan mereka saat ini.
Selain itu, relevansi personal memainkan peran krusial. Moms perlu memahami bahwa sains akan terasa lebih nyata ketika ia menyentuh aspek keseharian, seperti kualitas udara bersih atau air minum yang sehat. Ketika sains mampu mengomunikasikan relevansinya dengan komunitas, penerimaan masyarakat terhadap temuan tersebut biasanya akan meningkat secara signifikan.
Dampak Nyata Pengikisan Kepercayaan Publik
Pengikisan kepercayaan terhadap konsensus ilmiah membawa konsekuensi kesehatan yang tidak main-main. Sebuah studi kasus yang dipaparkan dalam jurnal kesehatan menyoroti bagaimana kebijakan yang melemahkan urgensi vaksinasi di lingkungan komunitas—seperti barak militer—dapat memicu wabah penyakit menular. Ketika pengambilan keputusan didasarkan pada pertimbangan ego sektoral atau politis ketimbang pemahaman tentang konsep imunitas kelompok (herd immunity), risiko penyebaran penyakit menjadi sangat tinggi.
Penelitian Moussaoui dkk. (2024) menekankan bahwa edukasi mengenai konsep imunitas kelompok terbukti lebih efektif meningkatkan partisipasi vaksinasi dibandingkan sekadar menekankan kepentingan pribadi. Dengan memahami bahwa perlindungan diri adalah bagian dari perlindungan sesama, masyarakat cenderung lebih bijak dalam menyikapi kebijakan kesehatan yang berbasis sains.
Peran Keyakinan Pribadi dalam Menilai Sains
Secara psikologis, individu cenderung menolak informasi ilmiah yang mengancam nilai-nilai, ideologi, atau kepentingan finansial mereka. Sutton dan rekan-rekan (2026) menjelaskan bahwa ketika seseorang merasa posisi ekonomi atau identitas sosialnya terancam oleh suatu temuan ilmiah, mereka akan secara tidak sadar melakukan cherry-picking atau memilih informasi yang hanya mendukung pandangan mereka saja. Hal ini menjelaskan mengapa industri besar sering kali mendanai penelitian yang meminimalkan dampak negatif terhadap kesehatan atau lingkungan demi menjaga stabilitas bisnis.
Sebagai orang tua, kesadaran akan adanya bias kognitif ini sangat penting. Memahami bahwa sains adalah sebuah metode yang dibangun di atas keraguan sistematis—bukan sebuah dogma kaku—dapat membantu kita untuk lebih terbuka dalam memilah informasi yang tepercaya demi kesejahteraan keluarga di masa depan.

