Mengapa Kita Cenderung Memilih Lingkaran Pertemanan yang Serupa

Pernahkah Moms merasa bahwa lingkaran pertemanan anak, atau bahkan diri kita sendiri, cenderung diisi oleh orang-orang dengan latar belakang, minat, atau status sosial yang mirip? Fenomena ini sering kali bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari proses evolusi dan psikologis yang kompleks. Memahami dinamika ini sangat penting bagi orang tua untuk mendampingi masa remaja anak, terutama ketika mereka mulai menavigasi status sosial di sekolah dan mencari penerimaan di lingkungan sebaya.
Realitas di Balik Label Sosial Remaja
Studi yang dilakukan oleh Crabbe dan rekan-rekan pada tahun 2021 menegaskan bahwa pengelompokan berdasarkan label sosial, seperti kelompok populer atau akademis, bukanlah sekadar konstruksi film remaja. Kelompok sebaya ini memiliki dampak nyata terhadap perkembangan perilaku anak. Penelitian dari Helms dkk. (2014) menunjukkan bahwa meskipun remaja dari berbagai status sosial tidak selalu berbeda secara drastis dalam hal perilaku berisiko, persepsi mengenai status sosial rekan sebaya dapat memengaruhi tindakan mereka secara signifikan.
Jika seorang remaja menganggap teman-teman berstatus tinggi terlibat dalam penggunaan zat berbahaya, mereka cenderung mengikuti pola tersebut seiring berjalannya waktu. Hal ini menjadi pengingat bagi Moms bahwa perhatian pada siapa yang dianggap sebagai 'lingkaran pergaulan ideal' oleh anak adalah langkah krusial dalam memitigasi risiko perilaku negatif selama masa transisi remaja.
Hipotesis Homofili dan Pilihan Pertemanan
Dalam dunia psikologi sosial, terdapat dua hipotesis utama yang menjelaskan mengapa kita cenderung memiliki teman yang serupa. Pertama adalah hipotesis seleksi homofili, yang mengasumsikan bahwa kita secara aktif mencari individu yang memiliki karakteristik serupa dengan kita. Kedua adalah hipotesis seleksi default, yang menyatakan bahwa meski individu mungkin berharap menjalin pertemanan dengan seseorang yang dianggap lebih tinggi statusnya, pada akhirnya, mereka cenderung mendarat pada pertemanan dengan sosok yang memiliki kemiripan atribut dengan mereka sendiri.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam The Journal of Social and Personal Relationships (2026) oleh Sherrod, Selover, Kahn, Kaniusonyte, dan Laursen melibatkan 725 anak berusia 10 hingga 14 tahun. Peneliti menemukan fakta menarik bahwa hanya 3 hingga 13 persen dari teman yang diinginkan (desired friends) yang akhirnya benar-benar menjadi teman timbal balik (reciprocal friends) di akhir tahun ajaran. Hal ini membuktikan bahwa realitas pertemanan sering kali berbeda dengan ekspektasi atau keinginan awal seseorang.
Peran Kemiripan dalam Stabilitas Hubungan
Dari perspektif kesehatan psikologis, riset menunjukkan tiga pola utama yang konsisten dalam hubungan interpersonal: kita cenderung mencari teman yang mirip, kita akan menjadi semakin mirip dengan teman seiring berjalannya waktu, dan kemiripan menjadi kunci stabilitas hubungan. Sebaliknya, perbedaan yang terlalu mencolok sering kali memicu pembubaran atau berakhirnya pertemanan (Laursen, 2017).
Dr. Gilly Kahn menjelaskan melalui pengamatannya, “Meskipun kita sering memiliki keinginan ideal untuk masuk ke kelompok sosial tertentu, kenyataannya pertemanan yang bertahan lama cenderung terbentuk berdasarkan kecocokan atribut yang sudah ada.” Bagi Moms, memahami bahwa anak mungkin mengalami tantangan dalam mencari teman yang ideal membantu kita untuk lebih bijaksana dalam memberikan dukungan emosional, sembari menanamkan nilai bahwa kualitas pertemanan jauh lebih penting daripada status sosial yang mereka kejar.

