Mengapa Kita Takut Merasa Bahagia dan Cara Mengatasinya

Bagi sebagian orang, merasa bahagia bukanlah hal yang mudah. Meski secara logika kita memahami bahwa kebahagiaan adalah hasil dari hubungan yang sehat, karier yang memuaskan, atau aktualisasi diri, namun kenyataannya ada individu yang merasa sulit sekali untuk benar-benar merasakan sukacita. Dalam dunia medis, kondisi ketidakmampuan merasakan kesenangan ini dikenal sebagai anhedonia. Kondisi ini sering kali bukan sekadar masalah suasana hati, melainkan mekanisme pertahanan diri yang terbentuk dari pengalaman masa lalu.
Akar Penyebab Ketakutan akan Kebahagiaan
Robert Taibbi, L.C.S.W., seorang ahli keluarga, menjelaskan bahwa keengganan untuk merasa bahagia sering kali berakar dari pola asuh atau lingkungan yang penuh kecemasan. Jika Moms dibesarkan oleh orang tua yang selalu khawatir atau waspada terhadap hal buruk, otak mungkin telah merekam bahwa hidup selalu penuh bahaya. Dampaknya, Moms secara tidak sadar selalu bersikap hiperwaspada guna melindungi diri dari potensi bencana yang mungkin terjadi.
Selain itu, sikap kritis terhadap diri sendiri juga menjadi penghalang besar. Sering kali, suara otoritas atau pengasuh di masa lalu yang selalu menuntut kesempurnaan terus bergema di kepala, membisikkan bahwa Moms tidak layak untuk bahagia. Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan overthinking atau terlalu banyak menganalisis pikiran sendiri, yang membuat Moms seolah mati rasa secara emosional karena pikiran terlalu sibuk bekerja daripada merasakan momen saat ini.
Menata Ulang Pola Pikir untuk Menemukan Kembali Sukacita
Kabar baiknya, pola pikir ini bukanlah sesuatu yang permanen. Otak memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan atau rewire. Langkah pertama adalah dengan mulai mengasah preferensi dan gairah kecil. Robert Taibbi menyarankan, “Gunakan emosi positif sekecil apa pun, seperti preferensi atau ide yang menyenangkan, sebagai sinyal untuk bertindak secara spontan.” Jika Moms merasa ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan, jangan dianalisis terlalu jauh—lakukan saja untuk mematahkan siklus kecemasan.
Langkah krusial lainnya adalah belajar untuk hadir sepenuhnya di masa kini. Banyak orang terjebak dalam upaya mengontrol masa depan karena rasa takut yang berlebihan. Namun, hidup yang sesungguhnya hanya terjadi di saat ini. Dengan berhenti mencoba memprediksi skenario buruk dan mulai mempraktikkan mindfulness, Moms secara perlahan dapat melatih otak untuk lebih terbuka menerima kebahagiaan tanpa harus merasa takut akan konsekuensinya.

