Mengapa Melawan Kenyataan di Malam Hari Justru Melelahkan Jiwa

Mengapa Melawan Kenyataan di Malam Hari Justru Melelahkan Jiwa
zoom-in-whitePerbesar

Pernahkah Moms terbangun pada pukul tiga pagi, terjebak dalam lingkaran pikiran yang melelahkan tentang hal-hal yang tidak bisa diubah? Entah itu pertengkaran dengan pasangan, kekhawatiran tentang tumbuh kembang anak, atau keputusan masa lalu yang terus disesali. Psikolog Mitch Abblett, Ph.D., menggambarkan momen ini seperti sedang menyidang kenyataan di dalam ruang pengadilan mental kita sendiri. Padahal, terus-menerus menolak kenyataan yang sudah terjadi bukanlah bentuk ketangguhan, melainkan bentuk pelarian emosional terselubung yang justru menguras energi pengasuhan kita sehari-hari.

Jebakan Ilusi Perlawanan dan Penerimaan

Tak banyak yang tahu, berjuang keras menentang kenyataan pahit sering kali dikira sebagai tanda kekuatan. Namun, dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai “experiential avoidance” atau penghindaran pengalaman. Salah satu pendiri terapi ACT (Acceptance and Commitment Therapy), Steve Hayes, menekankan sebuah prinsip penting bahwa apa yang kita lawan justru akan terus bertahan. Perlawanan emosional ini bertindak layaknya hukum fisika; semakin keras kita menolak suatu kenyataan batin, semakin kuat pula hal itu mengendalikan hidup kita.

Bagi seorang ibu, mengantuk di tengah malam sambil terus merutuki mengapa anak tidak bisa tidur atau mengapa situasi berjalan tidak sesuai rencana hanya akan menambah beban stres. Dr. Abblett menjelaskan bahwa menolak kenyataan pahit adalah cara paling terhormat yang kita buat untuk melarikan diri darinya. Di sinilah pentingnya membedakan antara menerima situasi (“acceptance”) dengan menyerah (“giving up”). Menyerah berarti berjalan keluar dari ruangan tempat kehidupan kita sedang berlangsung, sedangkan menerima berarti melangkah masuk ke dalamnya dengan penuh kesadaran.

Fondasi Penerimaan Radikal untuk Kesehatan Mental Ibu

Konsep penerimaan ini juga digaungkan oleh psikolog dan guru meditasi ternama, Tara Brach, dalam bukunya “Radical Acceptance”. Beliau mendefinisikannya sebagai kesediaan untuk mengalami diri kita dan hidup kita apa adanya. Menerima kenyataan bukan berarti kita menyetujui situasi yang buruk atau bersikap pasrah tanpa usaha. Sebaliknya, penerimaan adalah sebuah tindakan aktif yang berani untuk mengakui realitas saat ini sebagai landasan kokoh tempat kita berpijak, sebelum kita menentukan langkah selanjutnya.

Sikap ini sangat krusial bagi kesejahteraan mental keluarga. Bahkan, sebuah penelitian pada tahun 2025 yang diterbitkan dalam Journal of Positive Psychology mengaitkan konsep “amor fati”—sebuah sikap merangkul takdir hidup—dengan tingkat kesejahteraan emosional yang lebih tinggi di masa depan. Tentu saja, penerimaan ini ditujukan untuk hal-hal yang memang tidak bisa kita ubah seketika, seperti diagnosis medis atau masa lalu. Untuk hal-hal yang bisa diubah, penerimaan bukanlah batas akhir perjuangan, melainkan langkah awal untuk melihat masalah dengan jernih tanpa kabut emosi.

Langkah Praktis untuk Menenangkan Pikiran di Tengah Malam

Untuk membantu para ibu melepaskan beban pikiran di jam-jam krusial, Dr. Abblett menawarkan sebuah kerangka kerja praktis yang disebut “OWN” (Only this moment, Without fixation, Noticing). Metode ini memandu kita untuk fokus hanya pada momen saat ini, melepaskan fiksasi pikiran, dan menyadari apa yang sedang terjadi tanpa menghakimi. Langkah konkretnya dimulai dari runtunan tindakan mendengar (“Listen”), melihat (“Look”), lalu melangkah (“Leap”).

Moms bisa memulainya dengan mendengarkan sensasi tubuh dan emosi yang muncul saat terbangun di malam hari. Setelah itu, cobalah melihat situasi tersebut tanpa bumbu drama atau menyalahkan diri sendiri. Salah satu tips paling efektif dari Dr. Abblett adalah dengan menyebutkan kenyataan yang sedang dihadapi dalam satu kalimat datar tanpa kata sifat, misalnya: “Anak saya sedang demam saat ini.” Cara sederhana ini terbukti ampuh membersihkan pikiran kita dari kepanikan, sehingga kita bisa mengambil tindakan atau melompat (“leap”) menuju solusi nyata dengan kepala dingin dan hati yang tenang.