Mengapa Memahami Emosi Diri Sering Terasa Begitu Sulit

Banyak orang sering kali merasa terjebak dalam kondisi di mana mereka memahami situasi secara logis, namun gagal merasakan emosi yang seharusnya menyertai pengalaman tersebut. Sebagai Moms yang menjalani peran penuh tanggung jawab, mungkin kita sering menganggap ketidakmampuan merasakan emosi sebagai bentuk penghindaran atau kelemahan diri. Padahal, psikolog klinis Beatrice Ng-Kessler menyebutkan bahwa akses emosional sebenarnya jauh lebih kompleks dan tidak selalu berkaitan dengan keinginan untuk lari dari kenyataan.
Meninjau Kembali Makna Penghindaran Emosional
Selama ini, kita cenderung melabeli kesulitan dalam merasakan emosi sebagai bentuk penghindaran. Namun, riset terbaru dalam psikologi menunjukkan bahwa sulitnya mengakses perasaan sering kali berakar pada cara kita belajar berinteraksi dengan pengalaman batin kita sendiri. Ini bukan semata soal kemauan, melainkan bagaimana pikiran dan memori kita membentuk pola hubungan dengan emosi yang muncul.
Dalam dunia psikologi, terdapat perbedaan mendasar antara pengalaman emosional itu sendiri dan cara kita merespons pengalaman tersebut. Seseorang mungkin merasa sedih, namun cara mereka memandang kesedihan itulah yang sering kali menjadi penghalang. Jika sejak kecil kita terbiasa menghakimi perasaan sendiri sebagai sesuatu yang salah, otak kita akan otomatis membangun tembok pelindung sebelum perasaan itu sempat muncul ke permukaan.
Pengaruh Budaya dan Latar Belakang Keluarga
Faktor budaya memegang peranan vital dalam bagaimana kita memproses emosi. Di banyak lingkungan, terutama di Asia, menahan emosi sering kali disalahpahami sebagai sikap dingin. Faktanya, hal tersebut bisa menjadi bentuk penghormatan, perlindungan terhadap orang lain, atau cara menunjukkan kasih sayang. Budaya mengajarkan kita apa yang pantas dirasakan dan bagaimana perasaan tersebut harus dikelola.
Sejalan dengan hal tersebut, para ahli neurosains afektif kini memandang bahwa emosi bukanlah entitas tersembunyi yang menunggu untuk ditemukan, melainkan sesuatu yang dikonstruksi melalui interaksi tubuh, pengalaman masa lalu, dan lingkungan sosial. Jika seorang individu tumbuh di lingkungan yang tidak memberikan ruang aman untuk bersikap rentan, maka mengakses emosi akan menjadi tantangan yang sangat berat.
Menciptakan Ruang Aman untuk Emosi
Daripada terus menyalahkan diri sendiri karena merasa hampa atau sulit terhubung dengan perasaan, cobalah untuk bergeser menjadi lebih penasaran dengan kondisi batin sendiri. Pertanyakan pada diri sendiri, “Kondisi seperti apa yang membuat emosi ini aman untuk muncul?” atau “Apa yang telah diajarkan lingkungan saya mengenai kerentanan?”.
Hal ini ditegaskan oleh Ng-Kessler yang menyatakan bahwa “Kita perlu bertanya apakah hubungan dengan diri sendiri dan orang di sekitar sudah terasa cukup aman bagi emosi untuk muncul ke permukaan.” Mengakui bahwa akses emosional memerlukan rasa aman adalah langkah awal yang bijak bagi Moms dalam mengelola kesehatan mental keluarga, karena dengan memahami kondisi yang aman bagi diri sendiri, kita pun dapat menciptakan ruang yang sama bagi anggota keluarga lainnya.

