Mengapa Pengabaian Emosional Membuat Hidup Terasa Hampa

Mengapa Pengabaian Emosional Membuat Hidup Terasa Hampa
zoom-in-whitePerbesar

Pernahkah Moms merasa terjebak dalam pertanyaan eksistensial tentang apa sebenarnya tujuan hidup ini? Sering kali, perasaan hampa atau merasa tidak ada yang benar-benar berarti menjadi sinyal bahwa ada kebutuhan psikologis yang belum terpenuhi di masa lalu. Menurut Jonice Webb, Ph.D., seorang pakar di bidang Childhood Emotional Neglect, pengalaman diabaikan secara emosional saat masa kanak-kanak dapat menciptakan kekosongan batin yang membuat seseorang sulit menemukan makna dalam keseharian mereka saat beranjak dewasa.

Pilar Utama yang Memberi Makna pada Hidup

Dalam dunia psikologi, terdapat konsensus mengenai dua pilar fundamental yang membuat hidup terasa bermakna: emosi dan relasi. Emosi berfungsi sebagai kompas, pendorong, dan motivator yang memberi tahu kita bahwa sebuah peristiwa atau momen memiliki arti penting. Ketika kita mampu merasakan emosi—baik itu rasa sedih, bahagia, atau takjub—kita sebenarnya sedang menegaskan eksistensi diri.

Selain emosi, hubungan antarmanusia menjadi jangkar yang memberikan substansi dalam hidup. Kehadiran orang lain yang mendukung, menghibur, dan berbagi momen berharga menciptakan kedalaman emosional. Namun, bagi mereka yang tumbuh dengan pengabaian emosional, kemampuan untuk mengakses emosi dan membangun relasi yang seimbang sering kali terhambat karena mereka terbiasa memadamkan perasaan sendiri demi bertahan hidup.

Dampak Pengabaian Emosional terhadap Persepsi Diri

Ketika seorang anak tidak mendapatkan validasi emosional yang cukup, ia cenderung tumbuh dengan kecenderungan untuk mematikan atau meragukan emosinya sendiri. Kondisi ini membawa tiga tantangan besar dalam kehidupan dewasa. Pertama, individu menjadi kehilangan kontak dengan perasaan mereka, sehingga mereka merasa seolah tidak sepenuhnya hidup atau kehilangan arah. Tanpa pesan dari emosi, seseorang akan kesulitan menentukan apa yang sebenarnya mereka sukai atau apa yang menjadi gairah hidupnya.

Kedua, relasi yang terbangun sering kali bersifat satu arah. Moms yang memiliki latar belakang pengabaian emosional mungkin merasa lebih nyaman memberi daripada menerima, yang justru membatasi kedalaman koneksi tersebut. Ketiga, muncul keyakinan bawah sadar bahwa diri sendiri tidak penting. Pesan masa kecil yang tersirat adalah “perasaanmu tidak berharga”, yang dalam diri seorang anak diterjemahkan menjadi “dirimu tidak berharga”. Akibatnya, sulit bagi mereka untuk meyakini bahwa hidup mereka memiliki tujuan yang berarti.

Langkah Memulihkan Koneksi dengan Diri Sendiri

Jonice Webb menekankan bahwa salah satu cara paling efektif untuk memulihkan rasa kebermaknaan hidup adalah dengan mengundang kembali emosi ke dalam keseharian. Langkah pertama adalah dengan sengaja mencoba merasakan. Meskipun terasa asing di awal, upaya untuk memberikan perhatian pada emosi yang muncul akan membuahkan hasil seiring berjalannya waktu.

Selanjutnya, Moms bisa melakukan latihan refleksi diri dengan meluangkan waktu beberapa kali sehari untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, “Apa yang sedang saya rasakan saat ini?” Memperkaya kosakata emosi juga sangat membantu dalam proses ini. Dengan kemampuan untuk mengidentifikasi dan menamai perasaan secara spesifik, Moms sebenarnya sedang mengisi kembali tangki emosional yang kosong. Seperti yang ditegaskan Webb, “Bahan bakar kehidupan adalah perasaan. Jika kita tidak mendapatkannya saat masa kanak-kanak, kita harus mengisinya sendiri saat dewasa.”