Mengapa Remaja Suka Begadang? Memahami Penyebab dan Solusinya

Ilustrasi boy, teen, person. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi boy, teen, person. Foto: Pixabay

Para orang tua sering kali mendapati anak remaja mereka mendadak berubah menjadi “burung hantu” yang sangat sulit tidur sebelum tengah malam. Kebiasaan begadang ini bukan sekadar bentuk pembangkangan atau kemalasan, melainkan sebuah fenomena kompleks yang memengaruhi kesehatan fisik serta emosional mereka.

Banyak riset telah mengkaji apa sebenarnya yang membuat jam tidur remaja bergeser begitu drastis di malam hari. Penemuan terbaru menunjukkan bahwa kombinasi antara jam biologis tubuh dan kebiasaan sehari-hari menciptakan tantangan tidur yang cukup rumit bagi anak-anak usia tanggung ini.

Teori Badai Sempurna di Balik Kebiasaan Begadang Remaja

Selama lebih dari tiga dekade, para peneliti mengaitkan masalah sulit tidur ini dengan faktor biologis alami. Ketika anak memasuki masa pubertas, sekresi hormon melatonin—hormon yang memicu rasa kantuk—mengalami penundaan di malam hari. Fenomena ini dikenal dengan istilah circadian phase delay, di mana siklus tidur dan bangun remaja secara alami bergeser satu hingga dua jam lebih lambat.

Untuk menggambarkan kondisi ini, Dr. Mary Carskadon memperkenalkan istilah perfect storm atau badai sempurna. Istilah ini merujuk pada perpaduan antara perubahan biologis, tekanan psikologis, serta tuntutan sosial yang dihadapi remaja. Selain perubahan hormon, remaja juga dihadapkan pada tumpukan tugas sekolah, aktivitas ekstrakurikuler, serta keinginan untuk mendapatkan pengakuan sosial yang membuat mereka terjaga hingga larut malam.

Fakta Mengejutkan dari Penelitian Terbaru

Meskipun faktor biologis sering dituduh sebagai biang keladi utama, sebuah penelitian terbaru dalam jurnal Pediatrics yang dipimpin oleh Jääkallio pada tahun 2026 memberikan sudut pandang baru yang mengejutkan. Penelitian tersebut mengamati sekelompok remaja akhir hingga memasuki usia dewasa awal untuk mengukur kontribusi relatif antara faktor biologis dan perilaku terhadap gangguan tidur mereka.

Para peneliti mengukur suhu kulit peserta secara konsisten untuk melihat regulasi termal tubuh sebagai representasi jam biologis alami. Hasilnya cukup mencengangkan karena ukuran biologis tersebut ternyata tidak berhubungan langsung dengan fase penundaan tidur. Sebaliknya, para ahli menyimpulkan bahwa kebiasaan perilaku sehari-hari justru memegang peran yang jauh lebih dominan dalam menentukan jam tidur remaja.

Perilaku yang Menjadi Musuh Utama Tidur Malam Anak

Berdasarkan studi tersebut, para ilmuwan mengidentifikasi dua kelompok utama yang berisiko tinggi mengalami gangguan tidur. Kelompok pertama adalah remaja yang memiliki kecanduan bermain game atau compulsive gaming. Paparan cahaya biru dari layar gawai di malam hari terbukti menghambat pelepasan melatonin alami tubuh, sehingga membuat mereka tetap terjaga meski tubuh sudah lelah.

Sementara itu, kelompok kedua berkaitan erat dengan kemampuan regulasi diri yang rendah. Hal ini sering kali bermanifestasi dalam bentuk kelelahan kronis, gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD, depresi, hingga masalah perilaku lainnya. Ketidakmampuan mengelola waktu dan emosi membuat para remaja ini kesulitan untuk mematikan gawai dan memulai rutinitas tidur yang tenang.

Langkah Nyata Orang Tua untuk Memperbaiki Kualitas Tidur Anak

Kabar baiknya adalah faktor perilaku jauh lebih mudah untuk diubah dan diarahkan dibandingkan dengan faktor biologis murni. Orang tua dapat mengambil peran aktif untuk membantu anak membangun kebiasaan tidur yang sehat atau sleep hygiene. Langkah awal yang bisa dicoba adalah membuat ritual penenangan sebelum tidur, menjaga suhu kamar tetap sejuk, serta mematikan seluruh perangkat elektronik setidaknya satu jam sebelum tidur.

Penyesuaian kebijakan sekolah, seperti menunda jam masuk kelas, memang membantu, namun hal itu tidak akan pernah cukup tanpa adanya disiplin diri dari anak itu sendiri. Kerja sama antara orang tua dan remaja dalam membatasi akses media sosial serta gawai di malam hari adalah kunci utama. Dengan bimbingan yang penuh empati dan tanpa penghakiman, kita dapat membantu mereka mendapatkan istirahat berkualitas yang sangat mereka butuhkan untuk tumbuh kembangnya.