Mengurai Benang Kusut Antara Cinta dan Rasa Benci dalam Hubungan

Mengurai Benang Kusut Antara Cinta dan Rasa Benci dalam Hubungan
zoom-in-whitePerbesar

Dalam dinamika rumah tangga, terkadang rasa cinta dan kebencian bisa hadir secara berdampingan. Moms, fenomena ini sering kali tak disadari, padahal rasa benci yang terpendam bekerja layaknya es pada luka yang terbuka. Ia memang memberikan efek mati rasa sementara terhadap rasa sakit, namun di saat yang sama, ia menjadi penghambat utama bagi proses penyembuhan emosional yang sesungguhnya. Steven Stosny, Ph.D., seorang pakar hubungan, menekankan bahwa terjebak dalam siklus kebencian hanya akan membuat kita merasa tidak berdaya atas kesejahteraan diri sendiri.

Dampak Negatif Rasa Benci pada Kesehatan Emosional

Ketika kita menyimpan kebencian, kesadaran diri cenderung menurun. Kondisi ini terjadi karena adanya ketidakselarasan antara apa yang kita rasakan di dalam hati dengan apa yang terlihat dari luar. Kita mungkin merasa terluka atau merasa tidak dihargai, namun ekspresi wajah, ketegangan tubuh, dan nada suara kita justru menunjukkan sosok yang ketus dan tidak ramah. Orang di sekitar, termasuk pasangan dan anak-anak, akan merespons penampilan luar kita, bukan niat hati kita yang sebenarnya.

Hal senada diungkapkan oleh Stosny yang menyebutkan bahwa kebencian mengubah seseorang menjadi pribadi yang reaktif. Kita cenderung mudah tersulut emosi dan terjebak dalam kebiasaan buruk, seperti memanipulasi keadaan saat merasa terabaikan atau menghakimi pasangan saat merasa terpojok. “Kita tidak bisa melakukan proses penyembuhan sekaligus memelihara rasa benci di waktu yang bersamaan,” ujar Stosny dalam risetnya.

Mengenali Pemicu Tersembunyi di Balik Resentimen

Rasa benci yang muncul dalam hubungan sering kali bersumber dari rasa bersalah atau rasa malu yang tersembunyi. Sering kali, kita menggunakan mekanisme pertahanan diri berupa penyangkalan, penghindaran, atau menyalahkan orang lain untuk menutupi perasaan tersebut. Padahal, jika diolah dengan tepat, rasa bersalah sebenarnya adalah motivasi fungsional untuk kembali menghargai nilai-nilai dasar yang kita yakini dalam berkeluarga.

Beberapa tanda bahaya yang perlu Moms waspadai adalah ketika hal-hal kecil yang dulunya disukai dari pasangan, seperti tawa atau cara berbicaranya, justru mulai membuat merasa terganggu. Penurunan keintiman, berkurangnya kontak mata, hingga keengganan untuk berbagi pengalaman adalah indikator bahwa emosi kasih sayang sedang memudar. Stosny menegaskan bahwa cara termudah untuk mengurangi resentimen adalah dengan menginvestasikan kembali rasa percaya, minat, dan belas kasih kepada pasangan.

Memilih Identitas Penyembuh Dibandingkan Identitas Korban

Alih-alih terpaku pada pola pikir sebagai korban yang selalu merasa dirugikan, sangat penting bagi Moms untuk beralih pada identitas penyembuh. Identitas ini berfokus pada ketangguhan, kekuatan diri, dan kemampuan untuk bersimpati terhadap luka yang dirasakan. Kita akan mampu melampaui identitas korban seiring dengan bertambahnya makna dan apresiasi dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang terjebak berusaha memaafkan sebelum mereka benar-benar sembuh, padahal memaafkan secara tulus hanyalah produk sampingan dari proses penyembuhan itu sendiri. Saat kita fokus untuk memperbaiki situasi dan berupaya membangun kembali apresiasi terhadap orang terkasih, kebencian dengan sendirinya akan memudar. Pada akhirnya, yang akan kita sesali di masa depan bukanlah apa yang dilakukan pasangan kepada kita, melainkan ketidaksanggupan kita untuk menghargai kehadiran mereka saat masih bersama.