Kumparan Logo

Anak Lebih Suka Main Sendiri di Dekat Temannya, Wajarkah? Ini Kata Psikolog

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak Lebih Suka Main Sendiri di Dekat Temannya, Wajarkah? Ini Kata Psikolog. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Anak Lebih Suka Main Sendiri di Dekat Temannya, Wajarkah? Ini Kata Psikolog. Foto: Shutter Stock

Moms, pernah melihat si kecil bermain di dekat teman-temannya, tetapi seolah sibuk dengan dunianya sendiri? Misalnya, satu anak asyik menyusun balok, sementara anak lain di sebelahnya bermain mobil-mobilan.

Meski berada berdekatan, keduanya tidak benar-benar bermain bersama. Mereka mungkin saling memperhatikan atau bahkan meniru permainan satu sama lain, tetapi belum memiliki tujuan permainan yang sama, bergantian, maupun bekerja sama. Kondisi ini dikenal sebagai parallel play atau bermain paralel.

Psikolog Anak, Fabiola Priscilla, M.Psi, menjelaskan bahwa parallel play merupakan salah satu tahap bermain ketika anak bermain berdekatan dengan anak lain, tetapi belum benar-benar terlibat dalam permainan bersama.

Fabiola Priscilla, M.Psi, Psikolog Anak dalam acara IKEA PLAY 2025: Eksplorasi, Imajinasi, Inspirasi di Jakarta Timur, Kamis (6/11/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

“Jadi, anak yang tampak “main sendiri padahal ada teman di sebelahnya” belum tentu sedang mengalami masalah sosial. Justru keberadaan dan kesadaran terhadap anak lain merupakan bagian dari proses belajar sosial. Kemenkes juga memasukkan parallel play sebagai salah satu tahapan bermain anak,” ucap Fabiola saat ditanya kumparanMOM, Jumat (21/8).

Kapan Parallel Play Terjadi?

Parallel play umumnya terlihat jelas pada usia toddler, terutama sekitar 2-3 tahun. Pada usia 2 tahun, anak memang masih banyak bermain di samping anak lain. Kemudian, memasuki usia sekitar 30 bulan, anak mulai memiliki kemampuan untuk bermain di dekat anak lain dan sesekali mulai bermain bersama.

Ilustrasi balita bermain dengan ibu. Foto: Ekkasit A Siam/Shutterstock

Sementara sekitar usia 3 tahun, anak mulai semakin memperhatikan anak lain dan perlahan belajar bergabung dalam permainan. Namun, Anda tidak perlu terpaku pada batas usia itu. Setiap anak berkembang dengan kecepatannya masing-masing.

“Yang penting, tahapan ini tidak memiliki batas yang kaku. Anak bisa masih melakukan parallel play sambil perlahan mulai belajar bermain bersama,” tegasnya.

Tanda Parallel Play yang Masih Wajar pada Anak

Menurut Fabiola, yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah anak mau bermain bersama teman atau tidak. Moms juga perlu melihat keseluruhan pola perkembangan anak dari waktu ke waktu.

Beberapa hal yang masih tergolong wajar, antara lain:

-Anak nyaman berada di dekat anak lain.

-Sesekali memperhatikan atau meniru permainan anak lain.

Ilustrasi anak bermain bersama. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

-Dapat berkomunikasi dengan orang tua atau pengasuh sesuai usianya.

-Menunjukkan minat terhadap lingkungan sekitar.

Mulai muncul interaksi secara bertahap, misalnya memberikan benda, meniru permainan, mengejar bersama, atau sesekali mengajak anak lain bermain.

Perkembangan bahasa, motorik, kognitif, dan emosinya berjalan sesuai tahap usianya.

Ilustrasi balita bermain. Foto: buritora/Shutterstock

Dengan kata lain, parallel play bukan sekadar tentang anak yang belum mau bermain bersama. Tahap ini juga menjadi bagian dari proses si kecil belajar mengamati, mengenal keberadaan orang lain, dan perlahan membangun kemampuan sosialnya.

Jadi, bila si kecil masih asyik bermain sendiri meski berada di tengah teman-temannya, Anda tak perlu langsung khawatir ya, Moms.

kumparan post embed