Anak Saksikan Orang Dewasa Bertengkar, Apa Dampaknya bagi Psikologis?

Viral di media sosial soal persoalan parkir yang berujung keributan dan membuat seorang anak kecil ketakutan. Cerita tersebut dibagikan pengguna Threads @radityarusydi. Ia menceritakan pengalaman ketika dirinya bersama keluarga terlibat konflik dengan pasangan suami istri di area parkir yang awalnya dipicu persoalan memperebutkan tempat parkir.
Dalam unggahannya, situasi semakin panas hingga salah satu pihak disebut membuka baju dan menantang untuk berkelahi. Sementara itu, dua keponakannya masih berada di lokasi. Keponakannya yang berusia 7 digendong ayahnya, sedangkan keponakannya yang berusia 6 tahun berada dalam pelukannya dan ketakutan melihat situasi tersebut.
“Di titik itu gue baru benar-benar mikir, ini bukan cuma soal parkir. Kita sebagai orang dewasa mungkin bisa pulang, tidur, lalu besok lupa. Tapi anak kecil belum tentu memproses kejadian seperti itu dengan cara yang sama,” tulisnya dalam Threads.
Dampak Konflik Orang Dewasa pada Anak
Menanggapi hal tersebut, Psikolog Pendidikan, Madeline Jessica, M.Psi., Psikolog menjelaskan, ketika anak melihat orang dewasa berteriak, membentak, saling menantang, atau hampir melakukan kekerasan, hal pertama yang dapat muncul adalah rasa takut dan tidak aman. Anak mungkin tidak memahami persoalan yang sedang diperdebatkan, tetapi dapat menangkap bahwa situasinya tidak terkendali.
“Bagi anak, yang paling penting bukan memahami siapa yang benar, tetapi ‘Apakah saya aman?’” tutur Madeline saat dihubungi kumparanMOM, Selasa (18/8).
Hal ini berkaitan dengan Emotional Security Theory, yang menjelaskan bahwa anak membutuhkan rasa aman dari orang dewasa di sekitarnya. Anak dapat merespons konflik dengan menangis, kaget, diam, ingin dipeluk, atau menjadi lebih waspada.
Namun, satu kejadian ketika anak menangis atau ketakutan tidak berarti langsung mengalami trauma. Orang tua perlu memperhatikan kondisi anak setelah kejadian, misalnya jika anak terus membicarakan peristiwa tersebut, sulit tidur, semakin menempel pada orang tua, takut melihat orang bertengkar, atau mengalami perubahan perilaku yang menetap.
“Kalau perubahan tersebut menetap dan mulai mengganggu aktivitas anak, barulah orang tua dapat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog anak,” ujarnya.
Apakah Anak Bisa Meniru Cara Orang Dewasa Menyelesaikan Konflik?
Menurut Madeline, anak belajar banyak hal dengan mengamati perilaku orang dewasa. Hal ini dijelaskan melalui Social Learning Theory, bahwa anak belajar dengan melihat, meniru, dan mengamati akibat dari suatu perilaku.
Jika anak sering melihat orang dewasa menghadapi kemarahan dengan berteriak, membentak, mengancam, atau melakukan kekerasan, anak dapat belajar bahwa cara tersebut merupakan salah satu cara menghadapi konflik. Terlebih jika perilaku itu membuat orang lain akhirnya mundur atau mengalah.
Tetapi, melihat perilaku tersebut tidak berarti anak pasti akan menirunya. Banyak hal lain yang memengaruhi, seperti:
-Pola pengasuhan
-Hubungan anak dengan orang tua
-Seberapa sering anak melihat konflik
-Dan apakah anak memiliki contoh orang dewasa lain yang menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih sehat
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Setelah anak menyaksikan konflik, orang tua dapat membantu mengembalikan rasa aman dengan memberikan penjelasan sederhana. Misalnya:
-“Tadi memang ada orang yang marah dan suaranya keras. Kamu pasti kaget. Sekarang kamu sudah aman”
-”Kalau kita marah atau tidak setuju dengan orang lain, kita boleh menyampaikan perasaan, tapi tidak perlu berteriak, mengancam, atau menyakiti.”
“Dengan begitu, anak belajar bahwa marah itu boleh, kecewa itu boleh, dan tidak setuju juga boleh. Tetapi bagaimana kita bertindak ketika sedang marah tetap menjadi tanggung jawab kita,” tegas Madeline.
Konflik dalam kehidupan sehari-hari memang tidak selalu bisa dihindari. Yang terpenting, anak mendapatkan contoh bahwa masalah dapat diselesaikan tanpa harus berakhir dengan menyakiti orang lain ya, Moms.
