Kumparan Logo

Anak Sering Menahan BAB saat Toilet Training? Ini Dampaknya

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi balita melakukan toilet training. Foto: Shinya nakamura/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi balita melakukan toilet training. Foto: Shinya nakamura/Shutterstock

Saat mulai toilet training, anak masih belajar mengenali dan mengendalikan keinginan untuk buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB). Namun prosesnya, ada anak yang sudah merasa ingin BAB, tetapi justru menahannya.

Kalau hanya sesekali, mungkin orang tua tidak perlu langsung khawatir. Namun, kebiasaan menahan BAB yang terus berulang bisa membuat feses semakin keras dan meningkatkan risiko sembelit pada anak.

Gut and Immunity Council (GIC) di Penang Bistro (9/9/2026). Foto: Dok. Istimewa

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K), menjelaskan, kemampuan tubuh menahan BAB berbeda dengan menahan BAK.

“Kalau poop, kandungnya apa? Kan usus. Bisa membesar, bisa melebar, bisa memanjang. Jadi bisa aja anak itu menahan, lalu rasa ingin itu hilang. Kalau ditahan sama dia, setelah 10 menit hilang. Nanti besoknya muncul lagi, ditahan lagi sama dia, hilang. Numpuk terus,” ujar dr. Andy dalam acara launching Gut and Immunity Council di Penang Bistro Gatot Subroto, Rabu (9/9).

Kenapa Menahan BAB Bisa Bikin Sembelit?

Ketika anak terus menahan BAB, feses akan berada lebih lama di dalam usus. Semakin lama tertahan, semakin banyak air yang diserap oleh usus sehingga feses menjadi lebih kering, keras, dan sulit dikeluarkan.

Kondisi ini kemudian dapat membuat BAB terasa sakit bagi anak. Nah, rasa sakit tersebut justru bisa membuat anak semakin takut untuk BAB dan kembali menahannya.

Ilustrasi anak sakit perut. Foto: narikan/Shutterstock

Menurut dr. Andy, dokter yang praktek di Mitra Keluarga Waru Sidoarjo ini, kondisi tersebut dapat membentuk sebuah siklus yang membuat sembelit semakin sulit teratasi.

“BAB keras menyebabkan nyeri. Nyeri menyebabkan menahan. Menahan menyebabkan bertambah keras. Jadi muter aja gitu nanti nggak selesai-selesai. Jadi pengobatannya harus dipatahkan lingkaran itu,” jelasnya.

Jika anak sudah mengalami sembelit, salah satu bagian dari penanganannya adalah membuat feses menjadi lebih lunak. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat memberikan obat pelunak feses untuk membantu proses tersebut.

Ilustrasi balita melakukan toilet training. Foto: Odua Images/Shutterstock

Namun, menurut dr. Andy, membuat feses lunak saja belum cukup. Anak juga perlu dibantu agar tidak kembali menahan BAB. Artinya, orang tua punya peran penting untuk membantu anak melewati rasa takut atau tidak nyaman saat BAB. Terutama jika sebelumnya anak pernah mengalami BAB keras dan sakit.

Jadi, Moms, kalau si kecil sering menahan BAB saat toilet training, coba cari tahu apa yang membuatnya takut atau tidak nyaman. Jangan langsung dimarahi atau dipaksa, ya. Bila anak sudah mengalami sembelit atau BAB terasa sakit, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.