Kumparan Logo

Bayi 24 Hari Meninggal Dunia Usai Diberi Telur Mentah oleh Neneknya

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi makan telur. Foto: Tirachard Kumtanom/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi makan telur. Foto: Tirachard Kumtanom/Shutterstock

Bayi berusia 24 hari bernama Alena dikabarkan meninggal dunia pada 11 Oktober 2026 setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan dan menjalani perawatan intensif. Menurut keterangan tantenya, Chalista Arisha, Alena sempat diberi telur mentah oleh neneknya saat mengalami demam.

Kisah tersebut dibagikan Arisha melalui Threads dalam keterangannya, ibu Alena, Ariana, disebut tidak mengetahui pemberian telur mentah tersebut karena sedang makan saat kejadian berlangsung.

Kronologi Alena, Bayi 24 Hari yang Meninggal Dunia

Ilustrasi Bayi. Foto: Natalya Chumak/Shutterstock

Menurut keterangan Chalista Arisha, kondisi Alena awalnya ditandai dengan demam bersuhu sekitar 37 derajat Celsius. Sang nenek kemudian disebut memberikan telur mentah kepada Alena dengan tujuan menurunkan demamnya.

“Saat kejadian tersebut berlangsung, ibu Alena, Ariana, lagi makan dan dia nggak tahu kalau bayinya dikasih telur mentah,” kata Arisha dalam unggahannya di Threads.

Setelah kejadian tersebut, kondisi Alena dilaporkan memburuk hingga harus menjalani perawatan intensif. Alena menjalani pemasangan kateter vena sentral (CVC), mendapat pembiusan, dan dibawa ke ruang operasi untuk mendapatkan penanganan medis.

Di tengah kondisi kritis putrinya, Ariana menyampaikan keinginannya untuk tetap tenang dan sabar agar bisa mendampingi Alena selama menjalani perawatan.

“Adek lebih butuh aku yang berjiwa tenang, sabar, supaya adek semangat untuk sembuh,” ujar Ariana saat diwawancarai kumparanMOM, Minggu (11/10).

Namun, Alena kemudian dilaporkan mengalami kejang sebelum meninggal dunia pada 11 Oktober 2026.

Hingga informasi ini disusun, belum ada keterangan medis yang dapat memastikan bahwa pemberian telur mentah menjadi penyebab penurunan kondisi hingga kematian Alena.

Risiko Memberikan Telur Mentah kepada Bayi dan Anak

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa telur mentah atau setengah matang berisiko mengandung bakteri Salmonella. Bakteri ini dapat menyebabkan salmonellosis, yaitu infeksi yang dapat menimbulkan diare, demam, muntah, dan dehidrasi. Pada kondisi tertentu, infeksi dapat menimbulkan komplikasi serius.

Menurut IDAI, anak balita memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala salmonellosis dibandingkan orang dewasa yang mengonsumsi telur mentah atau setengah matang. Gejala dapat muncul sekitar 12–72 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Karena itu, IDAI menyarankan agar telur dimasak hingga bagian putih dan kuningnya mengeras sebelum dikonsumsi anak. Selain itu, orang tua perlu menjaga kebersihan tangan dan peralatan yang bersentuhan dengan telur mentah untuk mengurangi risiko kontaminasi.