Dampak Kekerasan Anak Bisa Berkepanjangan, IDAI Soroti Gangguan Fisik-Mental
·waktu baca 2 menit

Kekerasan pada anak tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga dapat berdampak panjang terhadap tumbuh kembang, kesehatan mental, hingga kehidupan sosial anak. Dampaknya bahkan bisa terus terbawa hingga anak beranjak dewasa apabila tidak segera ditangani dengan tepat.
Dalam webinar bersama IDAI, Rabu (29/4), Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, DR. dr. Fitri Hartanto, Sp.A, Subsp TKPS (K), menjelaskan bahwa child abuse dapat menyebabkan dampak serius, mulai dari gangguan fisik hingga emosional.
Dampak Langsung Kekerasan pada Anak
Beberapa dampak langsung yang dapat terjadi akibat kekerasan pada anak antara lain:
1. Sekitar 5 persen kasus berujung pada kematian.
2. Sekitar 25 persen mengalami komplikasi serius seperti patah tulang, luka bakar, hingga cacat permanen.
3. Kerusakan pada susunan saraf yang dapat menyebabkan:
-Kesulitan belajar
-Gangguan perkembangan mental
-Gangguan motorik kasar dan halus
-Kejang
-Gangguan penglihatan dan pendengaran
4. Pertumbuhan fisik anak menjadi kurang optimal dibanding anak seusianya.
5. Gangguan perkembangan mental dan emosional.
Dampak pada Anak Usia 2–5 Tahun
Pada anak usia dini, kekerasan dapat memunculkan berbagai perubahan perilaku, seperti:
1. Cemas berpisah dengan orang tua dan menjadi sangat lengket.
2. Takut tidur sendiri.
3. Tantrum atau mengamuk saat ditinggalkan.
4. Kembali ke perilaku seperti anak yang lebih kecil, misalnya:
-Mengisap jempol
-Membawa bantal atau benda kesayangan terus-menerus
5. Kembali mengompol atau sulit menahan buang air.
6. Mimpi buruk dan mengigau.
Dampak pada Anak Usia 6–12 Tahun
Sementara pada anak usia sekolah, dampaknya dapat terlihat dari sisi akademik, sosial, hingga emosional, seperti:
-Kesulitan belajar dan sulit berkonsentrasi.
-Cemas pasca trauma.
-Perilaku agresif.
-Depresi dan menarik diri dari lingkungan sosial.
-Menjadi sangat pendiam atau pasif.
-Mudah marah dan sensitif.
-Sulit tidur.
-Kembali bertingkah seperti anak yang lebih kecil, misalnya mengompol atau terus ingin dekat dengan orang tua.
-Muncul keinginan untuk bunuh diri.
dr. Fitri juga mengingatkan bahwa perubahan perilaku pada anak tidak boleh dianggap sepele. Orang tua dan lingkungan sekitar perlu lebih peka karena hal tersebut bisa menjadi tanda anak mengalami trauma atau kekerasan. Lingkungan yang aman dan suportif sangat penting untuk membantu proses pemulihan anak, Moms.
