Mengapa Gen Z Membutuhkan Mentor, Bukan Sekadar Influencer

Praktisi Perbankan Syariah, Master of Science (M.Si) Islamic Economic And Finance Universitas Indonesia (UI)
·waktu baca 17 menit
Tulisan dari Anggit Pragusto Sumarsono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gen Z dan Hilangnya Keberanian Bermimpi
Pernahkah kita memperhatikan satu hal yang menarik?
Pagi hari belum benar-benar dimulai, tetapi pikiran kita sudah dipenuhi oleh kehidupan orang lain.
Belum sempat merapikan tempat tidur, belum sempat menikmati secangkir kopi, bahkan mungkin belum selesai menunaikan salat Subuh, tangan kita sudah refleks meraih telepon genggam. Layar menyala. Jempol mulai bergerak.
Dalam hitungan menit kita sudah mengetahui bahwa seorang atlet muda baru saja memecahkan rekor dunia. Seorang konten kreator membeli rumah miliaran rupiah. Seorang pengusaha seusia kita sukses menjual perusahaannya. Teman lama mengunggah foto wisuda di luar negeri. Influencer favorit sedang berlibur ke Eropa. Di sisi lain, video tentang perang, PHK massal, krisis ekonomi, hingga bencana alam datang silih berganti memenuhi layar.
Semuanya hadir hampir bersamaan.
Otak kita menerima lebih banyak informasi dalam tiga puluh menit pertama setelah bangun tidur dibandingkan yang mungkin diterima seseorang dua ratus tahun lalu dalam waktu berminggu-minggu.
Kita menyebutnya kemajuan teknologi.
Dan memang benar.
Namun setiap kemajuan selalu memiliki harga yang harus dibayar.
Barangkali harga terbesar yang sedang dibayar oleh Generasi Z bukanlah kurangnya informasi, melainkan hilangnya ruang untuk benar-benar mendengar dirinya sendiri.
---
Sering kali kita terlalu cepat memberi label kepada Gen Z.
Mereka disebut terlalu sensitif.
Disebut mudah menyerah.
Disebut "generasi stroberi"; tampak menarik di luar, tetapi dianggap rapuh ketika menghadapi tekanan.
Sebagian bahkan menyebut mereka sebagai generasi yang terlalu banyak mengeluh dan terlalu sedikit bekerja.
Benarkah demikian?
Saya justru melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Mungkin Gen Z bukan generasi yang lemah.
Mereka hanyalah generasi yang lahir di zaman yang paling bising dalam sejarah manusia.
Bayangkan jika setiap hari, sejak membuka mata hingga menjelang tidur, ada ribuan suara yang berebut perhatian kita.
Suara yang mengatakan bahwa kita harus sukses sebelum usia 25 tahun.
Suara yang berkata bahwa kita harus memiliki "passive income".
Suara yang menyuruh kita menjadi konten kreator.
Lalu suara lain mengatakan lebih baik menjadi programmer.
Besoknya muncul lagi video yang meyakinkan bahwa masa depan ada di kecerdasan buatan.
Beberapa menit kemudian ada yang berkata, "Kuliah tidak penting."
Tak lama setelah itu muncul video lain yang mengatakan, "Kalau tidak punya gelar, masa depanmu akan sulit."
Semua terdengar masuk akal.
Semua terdengar meyakinkan.
Namun semuanya berbicara pada saat yang bersamaan.
Akhirnya, bukan semakin jelas, kita justru semakin bingung.
---
Ada sebuah paradoks yang menarik.
Generasi orang tua kita tumbuh dalam keterbatasan.
Sulit mencari buku.
Sulit memperoleh informasi.
Sulit bertemu orang-orang hebat.
Mereka harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan kesempatan belajar.
Sementara Gen Z tumbuh di tengah kelimpahan.
Ilmu tersedia gratis.
Kuliah dari profesor universitas terbaik dunia bisa diakses dari kamar tidur.
Belajar bahasa asing hanya membutuhkan sebuah aplikasi.
Membangun bisnis bisa dimulai dengan modal sebuah telepon genggam.
Kesempatan terbuka jauh lebih luas daripada generasi mana pun sebelumnya.
Tetapi justru karena semuanya tersedia, memilih menjadi jauh lebih sulit.
Dulu orang bingung karena tidak punya pilihan.
Sekarang orang bingung karena pilihannya terlalu banyak.
Dulu orang takut gagal.
Sekarang banyak orang takut memilih jalan yang salah.
Dulu orang bertanya, "Bagaimana caranya mendapatkan kesempatan?"
Hari ini pertanyaannya berubah menjadi, "Kesempatan yang mana yang harus saya ambil?"
Perubahan itu tampak sederhana.
Namun dampaknya luar biasa.
Ketika pilihan terlalu banyak, keputusan menjadi semakin sulit.
Ketika informasi terlalu banyak, tindakan justru semakin sedikit.
Psikolog menyebutnya sebagai analysis paralysis, keadaan ketika seseorang terlalu lama menganalisis hingga akhirnya tidak melakukan apa pun.
Fenomena ini semakin diperparah oleh budaya media sosial.
Kita tidak lagi membandingkan diri dengan tetangga atau teman sekelas.
Kita membandingkan diri dengan jutaan orang yang bahkan tidak kita kenal.
Setiap hari.
Tanpa jeda.
Kita melihat seseorang seusia kita berhasil mendirikan perusahaan.
Lima menit kemudian muncul atlet muda yang meraih medali dunia.
Lalu muncul penulis yang bukunya menjadi best seller.
Kemudian muncul video seorang mahasiswa yang diterima kuliah di luar negeri dengan beasiswa penuh.
Tanpa sadar muncul pertanyaan kecil di dalam hati:
"Kenapa hidupku belum seperti mereka?"
Padahal kita hanya melihat satu menit terbaik dari kehidupan mereka.
Kita tidak melihat bertahun-tahun perjuangan yang mereka sembunyikan di balik layar.
Media sosial membuat kita membandingkan "belakang panggung" kehidupan kita dengan "panggung utama" kehidupan orang lain.
Perbandingan yang sejak awal memang tidak pernah adil.
---
Yang menarik, media sosial sebenarnya tidak pernah benar-benar berniat menyesatkan kita.
Ia hanya menjalankan tugasnya.
Masalahnya, tugas media sosial berbeda dengan kebutuhan manusia.
Kita sering lupa bahwa media sosial bukanlah ruang publik yang netral.
Ia adalah sebuah sistem bisnis.
Setiap platform hidup dari perhatian penggunanya.
Semakin lama kita berada di dalam aplikasi, semakin besar nilai ekonominya.
Karena itu, algoritma tidak bertanya,
"Apa yang paling baik untuk hidupmu?"
Algoritma hanya bertanya,
"Konten apa yang paling mungkin membuatmu tetap berada di sini?"
Perbedaan itu tampak kecil.
Padahal akibatnya sangat besar.
Bayangkan seseorang yang sedang merasa sedih.
Ia membuka media sosial lalu menonton beberapa video tentang kesedihan.
Algoritma segera bekerja.
Beberapa menit kemudian layar dipenuhi video tentang patah hati.
Tentang kehilangan.
Tentang rasa sepi.
Tentang depresi.
Tentang orang-orang yang menyerah pada hidup.
Hari berikutnya muncul lagi konten serupa.
Lalu hari berikutnya lagi.
Sedikit demi sedikit tercipta ilusi bahwa seluruh dunia sedang bersedih seperti dirinya.
Padahal belum tentu demikian.
Yang berubah bukan dunia.
Yang berubah adalah isi berandanya.
Begitu pula ketika seseorang sedang merasa gagal.
Algoritma bisa terus menyajikan kisah-kisah kesuksesan orang lain.
Lama-kelamaan ia merasa semua orang sedang berlari jauh di depan, sementara hanya dirinya yang tertinggal.
Padahal jutaan orang lain sedang berjuang dalam diam, hanya saja perjuangan itu tidak pernah menjadi konten.
Inilah mengapa media sosial sering kali bukan cermin kehidupan.
Ia lebih mirip cermin yang telah dipoles sedemikian rupa sehingga hanya memantulkan sisi-sisi tertentu dari kenyataan.
Dan jika kita terlalu lama bercermin di sana, perlahan kita mulai percaya bahwa itulah dunia yang sesungguhnya.
Padahal bukan.
Itu hanyalah dunia yang dipilihkan oleh algoritma.
---
Mungkin karena itulah begitu banyak anak muda hari ini merasa lelah, meski tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat.
Bukan tubuh mereka yang kelelahan.
Melainkan pikirannya.
Setiap hari mereka harus mencerna ribuan informasi.
Ribuan pendapat.
Ribuan standar kesuksesan.
Ribuan definisi tentang "hidup ideal".
Sementara di dalam dirinya sendiri, ada satu suara kecil yang justru semakin sulit terdengar.
Suara yang bertanya,
"Sebenarnya, apa yang benar-benar aku inginkan?"
Dan mungkin, pertanyaan itulah yang paling penting untuk dijawab sebelum kita berbicara tentang mimpi, kesuksesan, atau masa depan.
Ketika Sejarah Mengingatkan Bahwa Setiap Tokoh Besar Pernah Menjadi Anak Muda
Jika kita membaca sejarah hanya untuk menghafal nama, tanggal, dan peristiwa, mungkin sejarah memang terasa membosankan.
Tetapi jika kita membacanya sebagai cermin kehidupan, sejarah justru menyimpan satu pesan yang menenangkan.
Orang-orang yang hari ini kita sebut "tokoh besar" sesungguhnya pernah berada di titik yang sama seperti kita.
Mereka pernah bingung.
Pernah takut.
Pernah gagal.
Pernah dianggap terlalu muda.
Mereka tidak lahir sebagai legenda.
Mereka bertumbuh menjadi legenda.
---
Ada sebuah kebiasaan yang tanpa sadar kita lakukan ketika membaca kisah orang-orang sukses.
Kita selalu melihat mereka dari garis finis.
Jarang sekali kita melihat mereka dari garis start.
Kita mengenal Steve Jobs sebagai pendiri Apple.
Kita mengenal Mark Zuckerberg sebagai pendiri Facebook.
Kita mengenal Nadiem Makarim sebagai pendiri Gojek.
Kita mengenal Lionel Messi sebagai peraih Ballon d'Or.
Yang sering luput kita lihat adalah satu kenyataan sederhana:
Saat memulai, mereka juga belum tahu apakah semuanya akan berhasil.
Steve Jobs tidak pernah tahu bahwa perusahaan kecil yang ia bangun bersama Steve Wozniak di sebuah garasi akan menjadi salah satu perusahaan paling berharga di dunia.
Mark Zuckerberg tidak pernah membangun Facebook dengan keyakinan bahwa miliaran orang kelak akan menggunakannya.
Nadiem Makarim juga tidak memulai Gojek dengan jaminan bahwa idenya akan mengubah wajah transportasi Indonesia.
Mereka hanya memulai.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun justru di situlah letak perbedaannya.
Mereka berani melangkah ketika hasil akhirnya masih belum terlihat.
---
Hal yang sama juga dapat kita temukan dalam perjalanan tokoh-tokoh bangsa.
Bayangkan Soekarno pada usia 25 tahun.
Ia belum menjadi presiden.
Belum menjadi Proklamator.
Belum menjadi tokoh yang dielu-elukan jutaan rakyat.
Ia hanyalah seorang anak muda yang percaya bahwa bangsanya pantas memiliki masa depan yang lebih baik.
Karena keyakinan itulah ia mendirikan Algemeene Studie Club di Bandung, sebuah ruang diskusi sederhana yang kemudian melahirkan gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan.
Mohammad Hatta pun demikian.
Ketika dipercaya menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia pada usia 23 tahun, ia bukanlah orang yang paling tua.
Tetapi ia memiliki kedewasaan berpikir yang membuat banyak orang percaya kepadanya.
Sutan Sjahrir bahkan lebih muda lagi ketika mulai menggerakkan pendidikan politik dan membangun kesadaran kebangsaan.
Tidak ada yang langsung menjadi pemimpin besar.
Mereka memulai dengan menjadi pembelajar yang tekun.
---
Dalam sejarah Islam, kisah-kisah seperti ini bahkan lebih banyak lagi.
Usamah bin Zaid baru berusia sekitar delapan belas tahun ketika Rasulullah SAW menunjuknya sebagai panglima sebuah ekspedisi besar.
Keputusan itu sempat dipertanyakan oleh sebagian orang karena di dalam pasukan tersebut terdapat sahabat-sahabat senior yang jauh lebih tua.
Namun Rasulullah tidak sedang memilih berdasarkan usia.
Beliau memilih berdasarkan kualitas.
Bayangkan menjadi seorang pemuda belasan tahun yang harus memimpin orang-orang yang usianya hampir dua kali lipat lebih tua.
Tekanan itu tentu tidak ringan.
Tetapi kepercayaan sering kali melahirkan kedewasaan.
Begitu pula Sultan Muhammad Al-Fatih.
Sejarah sering kali hanya mengingat satu kalimat:
"Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun."
Padahal di balik satu kalimat itu terdapat proses pendidikan yang sangat panjang.
Sejak kecil ia dibesarkan dengan visi.
Guru-gurunya tidak hanya mengajarinya membaca dan berhitung.
Mereka menanamkan keyakinan bahwa suatu hari ia bisa menjadi pemimpin yang disebut dalam kabar gembira Rasulullah SAW tentang penaklukan Konstantinopel.
Ia tumbuh bukan hanya dengan ilmu.
Tetapi juga dengan tujuan hidup.
Mungkin di situlah letak pelajaran terbesarnya.
Orang yang memiliki visi biasanya mampu bertahan lebih lama dibanding orang yang hanya memiliki ambisi.
Ambisi ingin cepat berhasil.
Visi bersedia menempuh perjalanan panjang.
---
Namun ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita membandingkan generasi sekarang dengan generasi terdahulu.
Kita hanya membandingkan hasilnya.
Bukan tantangannya.
Kita berkata, "Dulu anak muda hebat-hebat."
Padahal setiap zaman memiliki ujiannya sendiri.
Generasi para pendiri bangsa menghadapi penjajahan.
Generasi orang tua kita menghadapi keterbatasan ekonomi.
Sementara Gen Z menghadapi sesuatu yang jauh lebih halus.
Distraksi.
Gangguan itu tidak berbentuk senjata.
Tidak berbentuk penjajah.
Tidak berbentuk tembok yang bisa dilihat dengan mata.
Distraksi hadir dalam bentuk notifikasi.
Dalam bentuk video berdurasi tiga puluh detik.
Dalam bentuk kebiasaan membuka media sosial "sebentar" yang berubah menjadi satu jam.
Dalam bentuk rasa takut tertinggal dari kehidupan orang lain.
Karena itu, mungkin tidak adil jika kita terus membandingkan dua generasi tanpa memahami medan perang masing-masing.
Dahulu, musuh berada di luar diri.
Hari ini, musuh terbesar sering kali berada di dalam genggaman tangan kita sendiri.
---
Meski begitu, ada satu benang merah yang menghubungkan hampir semua tokoh besar dalam sejarah.
Mereka memiliki keberanian untuk hidup di dunia nyata.
Mereka lebih banyak membangun daripada mengomentari.
Lebih banyak berdiskusi daripada berdebat di kolom komentar.
Lebih banyak menciptakan daripada sekadar mengonsumsi.
Jika mereka memiliki satu jam waktu luang, mereka menggunakannya untuk belajar, berlatih, menulis, berdialog, atau membangun sesuatu.
Bukan karena mereka tidak pernah beristirahat.
Tetapi karena mereka sadar bahwa masa muda adalah musim menanam.
Apa yang ditanam pada usia dua puluhan akan dipanen pada usia tiga puluhan, empat puluhan, bahkan mungkin sepanjang hidup.
Sebaliknya, jika masa muda habis untuk mengonsumsi tanpa mencipta, kita mungkin akan memasuki usia dewasa dengan kepala yang penuh informasi, tetapi tangan yang kosong dari karya.
---
Lalu, apakah ini berarti Gen Z harus meninggalkan teknologi?
Tentu tidak.
Teknologi bukan musuh.
Media sosial juga bukan musuh.
Bahkan internet telah membuka kesempatan yang tidak pernah dimiliki generasi sebelumnya.
Belajar tidak lagi dibatasi ruang kelas.
Membangun bisnis tidak lagi harus memiliki modal besar.
Berkarya tidak lagi harus menunggu diterima oleh penerbit atau stasiun televisi.
Masalahnya bukan pada teknologinya.
Masalahnya adalah siapa yang mengendalikan siapa.
Apakah kita menggunakan teknologi untuk membangun masa depan?
Atau justru teknologi yang perlahan mengambil alih masa depan kita?
Pertanyaan itulah yang mungkin perlu sesekali kita renungkan.
Karena masa depan seseorang jarang ditentukan oleh satu keputusan besar.
Ia lebih sering dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.
Dan tanpa kita sadari, banyak dari kebiasaan itu hari ini sedang dibentuk oleh layar yang selalu kita genggam.
Di Era Algoritma, Anak Muda Tidak Hanya Membutuhkan Informasi. Mereka Membutuhkan Seseorang yang Menuntun.
Ada satu pertanyaan yang terus menggelitik pikiran saya.
Mengapa hampir semua tokoh besar dalam sejarah memiliki seseorang yang membimbing mereka?
Ketika kita membaca biografi mereka lebih dalam, kita akan menemukan satu pola yang berulang.
Tidak ada tokoh besar yang benar-benar tumbuh sendirian.
Di belakang seorang pemimpin, hampir selalu ada seorang guru.
Di balik seorang ilmuwan, ada seorang pembimbing.
Di balik seorang negarawan, ada seseorang yang menanamkan cara berpikir.
Bahkan di balik seorang juara, selalu ada pelatih yang tidak ikut berdiri di podium.
Sayangnya, pola yang sama mulai semakin jarang kita temukan hari ini.
---
Banyak anak muda sekarang tumbuh bersama internet, tetapi tidak selalu tumbuh bersama mentor.
Mereka memiliki ribuan akun yang diikuti, tetapi sedikit orang yang benar-benar mengenal mereka.
Mereka memiliki jutaan video yang bisa ditonton, tetapi hampir tidak ada orang yang dapat berkata,
"Saya mengenalmu. Saya tahu potensi yang kamu miliki. Dan saya ingin membantumu menjadi versi terbaik dari dirimu."
Padahal dua kalimat sederhana itu sering kali jauh lebih berharga daripada seribu video motivasi.
Karena motivasi memberi semangat.
Tetapi mentor memberi arah.
---
Di sinilah kita perlu memahami satu hal yang sering luput dari perhatian.
Media sosial memang luar biasa.
Ia membuka akses ilmu yang sebelumnya hanya dimiliki segelintir orang.
Hari ini kita bisa belajar bisnis dari profesor Harvard, mendengarkan ceramah ulama dari berbagai belahan dunia, mempelajari desain dari praktisi terbaik, atau mengikuti kelas pemrograman tanpa harus meninggalkan rumah.
Semua itu adalah nikmat yang patut disyukuri.
Namun ada sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh media sosial.
Kebijaksanaan.
Mengapa?
Karena media sosial bekerja menggunakan algoritma.
Sedangkan kehidupan manusia tidak.
Algoritma tidak mengenal karakter kita.
Ia hanya mengenal pola perilaku kita.
Ia tahu video apa yang kita tonton.
Ia tahu berapa lama kita berhenti pada sebuah konten.
Ia tahu apa yang kita sukai.
Apa yang kita komentari.
Apa yang kita bagikan.
Tetapi algoritma tidak pernah tahu mengapa kita bersedih.
Ia tidak tahu apa yang sedang kita perjuangkan.
Ia tidak tahu luka apa yang sedang kita sembuhkan.
Ia tidak tahu impian apa yang diam-diam kita simpan.
Yang ia lakukan hanyalah menyajikan lebih banyak hal yang kemungkinan besar akan membuat kita terus berada di dalam aplikasi.
Karena memang itulah cara bisnis itu bekerja.
Semakin lama perhatian kita bertahan, semakin besar nilai ekonominya.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
---
Coba bayangkan seseorang yang sedang patah hati.
Ia menonton beberapa video tentang kehilangan.
Dalam hitungan menit, berandanya dipenuhi konten serupa.
Lagu-lagu sendu.
Kutipan tentang perpisahan.
Cerita orang-orang yang gagal move on.
Semua tampak begitu relevan.
Lama-kelamaan muncul kesan seolah-olah seluruh dunia sedang bersedih bersamanya.
Padahal yang berubah bukan dunia.
Yang berubah hanyalah algoritma.
Atau bayangkan seorang anak muda yang sedang cemas memikirkan masa depannya.
Ia mencari video tentang kegagalan karier.
Tentang sulitnya mencari pekerjaan.
Tentang ancaman kecerdasan buatan.
Tentang krisis ekonomi.
Beberapa hari kemudian, hampir seluruh isi berandanya dipenuhi kecemasan yang sama.
Ia mulai percaya bahwa masa depan benar-benar suram.
Padahal jutaan orang lain sedang membangun usaha, menyelesaikan kuliah, menemukan pekerjaan, atau menciptakan inovasi.
Hanya saja, algoritma tidak sedang menunjukkan keseluruhan kenyataan.
Ia hanya memperkuat apa yang sebelumnya sudah kita lihat.
Karena itu, media sosial sering kali bukan jendela yang memperlihatkan dunia apa adanya.
Ia lebih menyerupai cermin yang terus memantulkan apa yang sudah ada di kepala kita.
Semakin lama kita menatapnya, semakin kita percaya bahwa pantulan itulah kenyataan.
---
Di sinilah pentingnya seorang mentor.
Mentor bukanlah seseorang yang selalu benar.
Mentor juga bukan orang yang menentukan jalan hidup kita.
Mentor adalah orang yang membantu kita melihat apa yang tidak mampu kita lihat sendiri.
Ia berani mengatakan, "Kamu salah," ketika semua orang memilih diam.
Ia juga mampu berkata, "Kamu sebenarnya bisa lebih baik," ketika kita sendiri mulai kehilangan kepercayaan diri.
Yang paling penting, seorang mentor mengenal manusia.
Bukan sekadar data.
Algoritma mengenali kebiasaan kita.
Mentor mengenali karakter kita.
Algoritma memberikan rekomendasi berdasarkan klik.
Mentor memberikan arahan berdasarkan pengalaman.
Algoritma mengejar durasi tontonan.
Mentor mengejar pertumbuhan manusia.
Perbedaan itu sangat mendasar.
---
Jika kita kembali membaca sejarah, kita akan menemukan bahwa hampir semua tokoh besar memiliki sosok seperti itu.
Sultan Muhammad Al-Fatih tidak tumbuh sendirian.
Ia dibimbing oleh ulama-ulama besar, salah satunya Syekh Aaq Syamsuddin, yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan keyakinan, adab, dan visi hidup.
Soekarno pun mengalami hal yang sama.
Ketika tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, ia tidak sekadar menumpang tempat tinggal.
Di rumah sederhana itulah diskusi-diskusi besar berlangsung.
Gagasan dipertajam.
Cara berpikir dibentuk.
Keberanian ditempa.
Banyak tokoh bangsa lahir dari rumah itu, bukan karena bangunannya megah, tetapi karena ada seorang mentor yang percaya bahwa anak-anak muda layak dipersiapkan menjadi pemimpin.
Dalam sejarah Islam, kita melihat bagaimana Rasulullah SAW tidak hanya menyampaikan wahyu.
Beliau membina manusia.
Beliau mengenali potensi para sahabat satu per satu.
Usamah bin Zaid diberi kepercayaan.
Mu'adz bin Jabal dikirim menjadi guru.
Ali bin Abi Thalib dididik sejak kecil.
Ibnu Abbas didoakan agar memahami agama secara mendalam.
Pendidikan yang melahirkan peradaban selalu berlangsung melalui hubungan antarmanusia.
Bukan hanya melalui buku.
Apalagi hanya melalui layar.
---
Karena itu, mungkin salah satu investasi terbesar yang bisa dilakukan Gen Z hari ini bukan hanya membeli buku atau mengikuti kursus.
Tetapi mencari seorang mentor.
Seseorang yang dapat diajak berdiskusi ketika bingung.
Yang berani mengoreksi ketika keliru.
Yang mau mendengar sebelum memberi nasihat.
Yang tidak sekadar menghakimi.
Mentor tidak harus orang terkenal.
Tidak harus CEO.
Tidak harus profesor.
Mentor bisa jadi seorang guru.
Seorang dosen.
Atasan di kantor.
Ustaz.
Pelatih.
Tetangga.
Atau siapa pun yang telah lebih dahulu berjalan di jalan yang ingin kita tempuh.
Di sisi lain, generasi yang lebih senior pun memiliki pekerjaan rumah yang tidak kalah penting.
Jangan hanya meminta anak muda mendengar.
Belajarlah lebih dahulu mendengarkan mereka.
Jangan buru-buru mengatakan, "Zaman saya dulu..."
Karena zaman memang sudah berubah.
Tetapi nilai-nilai baik tidak pernah berubah.
Kejujuran.
Kerja keras.
Keberanian.
Disiplin.
Integritas.
Semua itu tetap relevan, hanya cara menyampaikannya yang perlu diperbarui.
Gen Z tidak membutuhkan lebih banyak orang yang menghakimi.
Mereka membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia membersamai.
---
Lalu, jika ada lima bekal yang layak dibawa oleh Gen Z untuk menghadapi masa depan, mungkin kelimanya sederhana.
1. Milikilah visi yang lebih besar daripada rasa nyaman.
2. Beranilah mengambil risiko sebelum penyesalan datang karena tidak pernah mencoba.
3. Masuklah ke lingkungan yang membuatmu bertumbuh, bukan hanya membuatmu merasa diterima.
4. Tekunilah satu bidang hingga benar-benar memberi manfaat bagi banyak orang.
5. Dan yang tidak kalah penting, ubahlah keresahan menjadi karya.
Karena hampir semua inovasi besar lahir dari seseorang yang melihat masalah, lalu memilih menjadi bagian dari solusinya.
---
Pada akhirnya, tulisan ini bukan ajakan untuk bernostalgia pada masa lalu.
Bukan pula upaya membandingkan siapa yang lebih hebat: generasi dahulu atau generasi sekarang.
Setiap generasi memiliki ujiannya sendiri.
Generasi kemerdekaan diuji oleh penjajahan.
Generasi orang tua kita diuji oleh keterbatasan.
Dan Generasi Z sedang diuji oleh kelimpahan.
Kelimpahan informasi.
Kelimpahan pilihan.
Kelimpahan distraksi.
Tetapi di balik setiap ujian, selalu ada peluang.
Saya percaya, di antara anak-anak muda yang hari ini masih duduk di bangku kuliah, masih bekerja dari kamar kos, masih membangun usaha kecil, atau masih diam-diam belajar setiap malam, ada calon-calon pemimpin, ilmuwan, ulama, pendidik, seniman, pengusaha, dan inovator yang kelak akan memberi warna bagi Indonesia.
Mereka tidak membutuhkan kesempurnaan untuk memulai.
Mereka hanya membutuhkan keberanian untuk mengambil langkah pertama.
Karena sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang paling banyak menggulir layar.
Sejarah ditulis oleh mereka yang suatu hari memutuskan untuk meletakkan telepon genggamnya sejenak, lalu mulai mengerjakan sesuatu yang membuat dunia menjadi sedikit lebih baik.
Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, ketika Generasi Alpha membaca sejarah Indonesia, mereka tidak akan bertanya berapa banyak pengikut media sosial yang kita miliki.
Mereka akan bertanya satu hal yang jauh lebih penting:
"Warisan apa yang ditinggalkan oleh Generasi Z untuk bangsa ini?"
Semoga jawabannya bukan sekadar jejak digital.
Melainkan jejak kebaikan yang tetap hidup, bahkan ketika nama kita telah lama terlupakan.
