Kata Psikolog Kenapa Ibu Sering Prioritaskan Orang Lain Ketimbang Diri Sendiri

Menjadi seorang ibu membawa banyak perubahan dalam kehidupan perempuan. Tidak hanya perubahan fisik dan rutinitas sehari-hari, tetapi juga perubahan identitas dan cara pandang terhadap diri sendiri. Tak heran jika setelah memiliki anak, banyak ibu yang lebih sering memprioritaskan kebutuhan anak, pasangan, dan keluarga dibandingkan kebutuhan pribadinya.
Menurut Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, kondisi ini sebenarnya merupakan hal yang cukup wajar terjadi. Sejak menjadi ibu, seorang perempuan tidak lagi hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap kesejahteraan anak, pasangan, dan rumah tangga.
"Secara emosional, ibu memang memiliki dorongan kuat untuk memastikan anaknya aman, nyaman, dan terpenuhi kebutuhannya,” ucap Vera kepada kumparanMOM, Senin (22/6).
Pengaruh Budaya dan Lingkungan
Selain faktor emosional, ada pula pengaruh budaya dan sosial yang membuat banyak ibu menomorduakan dirinya sendiri. Sejak kecil, sebagian perempuan dibesarkan dengan pemahaman bahwa sosok ibu yang baik adalah ibu yang selalu berkorban, selalu ada untuk keluarga, dan tidak banyak mengeluh.
Pandangan tersebut secara tidak sadar membuat kebutuhan pribadi sering dianggap kurang penting. Bahkan, tidak sedikit ibu yang merasa bersalah ketika ingin meluangkan waktu untuk dirinya sendiri.
“Akibatnya, kebutuhan diri sendiri sering dianggap nomor sekian, bahkan kadang dianggap tidak penting,” imbuhnya.
Jangan Menunggu Sampai Kelelahan
Vera juga mengingatkan bahwa ibu perlu mulai mengenali beban yang dirasakan dan mengomunikasikannya kepada pasangan maupun orang-orang terdekat.
Jangan menunggu sampai emosi menumpuk dan akhirnya meledak. Sampaikan kebutuhan secara jelas dan spesifik agar orang lain memahami bantuan yang dibutuhkan.
“Misalnya, “Aku butuh dibantu untuk atur jadwal imunisasi si kecil”. Ada sebagian ibu yang hanya berharap untuk dimengerti dan dibantu tapi kurang lugas dalam mengkomunikasikan kebutuhannya pada pasangan atau support system lainnya,” kata Vera.
Menurutnya, sebagian ibu sering berharap dipahami tanpa mengungkapkan kebutuhannya secara lugas. Padahal, komunikasi yang jelas dapat membantu pasangan dan support system memberikan dukungan yang lebih tepat.
Berbagi Tanggung Jawab, Bukan Sekadar Membantu
Dukungan dari pasangan juga memiliki peran yang sangat penting. Namun, Vera menekankan bahwa mengurangi beban ibu bukan berarti sekadar membantu pekerjaan ibu sesekali.
Yang lebih penting adalah adanya pembagian tanggung jawab keluarga secara nyata. Keluarga merupakan tanggung jawab bersama, sehingga pasangan dapat mengambil alih beberapa area secara penuh.
“Bukan hanya membantu sesekali. Misalnya urusan sekolah, belanja bulanan, administrasi rumah atau rutinitas malam anak. Bahas dan disepakati bersama pembagiannya,” tegasnya.
Selain pasangan, keluarga besar dan lingkungan sekitar juga diharapkan dapat memberikan dukungan yang lebih empatik.
"Kadang ibu bukan butuh nasihat panjang, tetapi butuh didengarkan, divalidasi, dan diberi ruang untuk beristirahat,” sambungnya.
Merawat Diri Bukan Tindakan Egois
Salah satu tantangan terbesar yang sering dihadapi ibu adalah rasa bersalah ketika ingin meluangkan waktu untuk diri sendiri. Padahal, menurut Vera, cara pandang ini perlu diubah.
Merawat diri atau self-care bukanlah bentuk keegoisan. Sebaliknya, self-care merupakan cara ibu menjaga kesehatan fisik dan mental agar tetap stabil dan mampu menjalankan perannya dengan lebih baik.
Ketika kondisi ibu terjaga, energi, kesabaran, dan kemampuan mengasuh anak pun akan lebih optimal.
Beberapa bentuk self-care yang bisa dilakukan antara lain:
-Tidur yang cukup
-Makan dengan tenang tanpa terburu-buru
-Mandi dan merawat diri dengan nyaman
-Melakukan olahraga ringan
-Bertemu teman atau orang terdekat
-Menikmati waktu sendiri sejenak
-Menjalankan hobi yang disukai
Melalui langkah-langkah sederhana tersebut, ibu dapat mengisi kembali energi dan menjaga keseimbangan dirinya.
