Kenali Manfaat Parallel Play untuk Anak dan Cara Orang Tua Mendampinginya

Melihat si kecil bermain berdampingan dengan anak lain, tetapi tampak sibuk dengan mainannya masing-masing, mungkin membuat sebagian orang tua bertanya-tanya. Apakah anak sebenarnya sedang bermain bersama atau justru belum bisa bersosialisasi?
Menurut Psikolog Anak Fabiola Priscilla, M.Psi, kondisi ini dikenal sebagai parallel play. Meski terlihat seperti masing-masing anak bermain sendiri, sebenarnya ada banyak proses belajar yang sedang berlangsung.
Manfaat Parallel Play untuk Perkembangan Anak
-Pertama, anak belajar menyadari keberadaan orang lain. Si kecil mulai memahami bahwa ada anak lain di dekatnya, mengamati apa yang dilakukan temannya, dan belajar dari perilaku tersebut.
-Kedua, anak belajar melalui proses meniru. Misalnya, anak melihat temannya menyusun balok, memasukkan pasir ke dalam wadah, atau memainkan mobil-mobilan. Dari situ, ia bisa mencoba melakukan hal serupa.
-Ketiga, parallel play juga membantu membangun kemampuan sosial secara bertahap. Pada tahap ini, anak belum harus langsung mampu berbagi, bergiliran, bernegosiasi, atau bekerja sama.
“Parallel play dapat menjadi jembatan menuju bentuk permainan yang lebih interaktif dan kemudian kooperatif. Bermain memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sosial, bahasa, kognitif, serta self-regulation,” ucap Fabiola saat dihubungi kumparanMOM, Jumat (21/8).
-Selain itu, parallel play dapat melatih kemandirian dan regulasi emosi anak. Si kecil memiliki kesempatan memilih aktivitas, mencoba sesuatu dengan kecepatannya sendiri, serta belajar menghadapi rasa frustrasi saat bermain. Bermain yang dipimpin anak juga dapat mendukung kemampuan mengambil keputusan dan membangun rasa percaya diri.
Peran Orang Tua Saat Anak Mengalami Parallel Play
Menurut Fabiola, peran orang tua bukan dengan memaksa anak untuk langsung bermain bersama teman. Kalimat seperti, “Ayo, main sama teman!” justru tidak selalu perlu dilakukan. Orang tua dapat menyediakan lingkungan yang aman dan memberikan kesempatan bagi anak untuk berinteraksi secara bertahap.
“Orang tua bisa mengajak anak bermain di lingkungan yang memiliki anak sebaya, menyediakan mainan yang memungkinkan anak bermain berdampingan, seperti balok, puzzle sederhana, mobil-mobilan, atau alat menggambar,” tuturnya.
Orang tua juga bisa mengamati tanpa terlalu banyak mengatur. Orang tua dapat menjadi contoh bagaimana cara menyapa, berbagi, dan bergiliran. Ketika terjadi konflik, bantu anak menyelesaikannya sambil mengajarkan penggunaan kata-kata untuk meminta atau menolak. Yang terpenting, beri kesempatan interaksi sedikit demi sedikit sesuai kenyamanan anak.
Kapan Orang Tua Perlu Waspada?
Parallel play sendiri merupakan bagian dari proses perkembangan anak. Namun, orang tua perlu memperhatikan apabila kondisi tersebut disertai tanda perkembangan lain yang tidak sesuai dengan usia.
Misalnya, anak sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan terhadap orang lain secara konsisten, tidak menunjukkan perkembangan menuju interaksi sosial seiring bertambahnya usia, mengalami keterlambatan bahasa atau komunikasi, atau tidak menunjukkan respons sosial yang diharapkan.
Hal lain yang juga perlu menjadi perhatian adalah ketika anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki. Dalam kondisi tersebut, orang tua sebaiknya tidak ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Jadi, kalau si kecil masih asyik bermain sendiri meski berada di dekat teman-temannya, tak perlu buru-buru khawatir. Bisa jadi, ia sedang belajar banyak hal lewat parallel play.
