Konten dari Pengguna

Melepas Rumah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua puluh sembilan Juli adalah ulang tahun pernikahanku dengan Retno, istriku. Namun, selepas subuh nada ponsel memanggil. Adikku berkata lirih, "Mas, hari ini tak usah berangkat".

Satu kalimat. Aku cukup yakin maksudnya.

Aku tak jadi memakai seragam kerja. Aku bergegas dan berkemas. Sembari tersisak-isak menyiapkan mobil. Segera melaju ke kampung di mana aku dilahirkan.

Tentu sepanjang hidup aku sudah menangis berkali-kali. Tetapi, setidaknya yang paling membekas dalam ingatan, aku menangis tiga kali.

Tentu kali pertama aku menangis adalah ketika lahir ke dunia. Bukankah setiap dilahirkan seorang bayi menangis karena ia akan merindukan kembali berada di dalam kehangatan rahim ibu?. Tempat di dalamnya ia bisa meringkuk hangat, atau sekali-kali ia menjejakkan kaki dan berakrobat.

Seperti manusia lain, menangis adalah keterampilan pertamaku. Membayangkan Ibu adalah membayangkan seorang pejuang. Setelah bersusah payah, Ibu gembira merayakan tangis pertamaku. Si bayi tak jadi bersedih kelewat lama. Hari demi hari sesudah belajar senyum dan tertawa. Sementara Ibu tak sempat mengeluh harus bersusah payah menyiapkan bekal perjalananku untuk tumbuh berkembang. Meskipun sejak sebelum aku remaja, Ayah telah berpulang.

Menangis yang kedua, adalah hari ketika aku mengucap, "Aku terima nikahnya Retno binti H.S. Pardjo untuk diri saya". Itulah hari aku akhirnya memutuskan keluar dari rumah. Berjuang selayaknya seorang laki-laki membangun keluarga baru. Tanggal yang sama dengan hari ini, dua puluh satu tahun yang lalu.

Dan ketiga, adalah hari ini. Hari terakhir Ibu. Aku jadi teringat, suatu waktu ia pernah berpesan. "Kamu bikin rumah saja di sini, agar Ibu bisa ikut tinggal bersamamu".

Ilustrasi rumah dibuat dengan AI

Ya, ada sepetak tanah di kampung. Ibu ingin aku membangun sebuah rumah di situ. Dan, ibu ingin tinggal bersama di situ. Membantu merawat hari tuanya. Sambil mengawasi Ephis, puteriku. Ephis adalah panggilan sayang puteriku yang dibuatnya, untuk menyapa anak satu-satunya dalam keluargaku. Aku tak mampu mewujudkan keinginan Ibu.

Mengingat itu air mataku bertambah deras. Dengan datar aku menyusun jawab, "Tapi aku sudah punya rumah. Tak mungkin aku tinggal di kampung sini. Lagi pula aku harus bekerja. Kalau ibu mau, tinggallah dengan kami, bersama Ephis, cucumu".

Keinginan Ibu tak bisa bertemu dengan kepentinganku.

Begitu pula aku, ingin berjuang untuk mandiri. Cita-citaku sejak remaja dulu, keluar dari rumah. Mencari kehidupan dan membangun dunianya sendiri. Mencari pasangan dan membangun rumah rumah baru, rumah sendiri.

Setelah Ibu lelah memperjuangkanku, aku pikir aku telah mendewasa. Aku pikir telah merdeka.

Aku salah. Aku baru tahu, ternyata aku selalu menjadi bayi. Aku tak pernah benar-benar pergi. Aku tak pernah benar-benar beranjak. Hingga hari Ibu harus berangkat.

Sejak hari ini, dunia tak lagi sama. Hari ini terlalu sederhana untuk disebut hari duka cita. Kata-kata terlalu kaku untuk menggantikan air mata. Hari ini harusnya hari aku merayakan rumah baru. Namun, hari ini pula aku melepaskan rumah.

Di tanah yang masih basah, bayimu ini cuma mampu bersimpuh, "Ibu, bagaimana aku mau membangun rumah, kalau kamu adalah rumahku?".

Tegal, 29 Juli 2025