Memanusiakan Orang Tua: Saat Kita Menyadari Mereka Juga Sedang Belajar

Mahasiswa Manajemen di Universitas Putra Indonesia YPTK Padang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fitri Rusandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda duduk diam sejenak dan memperhatikan bagaimana ibu atau ayah Anda menunjukkan kasih sayang? Bagi sebagian besar dari kita yang tumbuh di lingkungan keluarga Asia, cinta jarang sekali datang dalam bentuk pernyataan verbal yang puitis seperti film-film romansa. Cinta itu justru hadir dalam wujud yang sangat pragmatis: sepiring potongan buah mangga yang tiba-tiba mendarat di meja kerja saat kita sedang di kejar tenggat waktu, atau deretan pesan WhatsApp berisi tautan artikel kesehatan yang terkadang terasa seperti “teror” di pagi hari.
Di tengah gegap gempita kampanye gentle parenting dan kesadaran kesehatan mental yang marak di media sosial hari ini, kita─generasi yang lebih melek literasi emosi─sering kali terjebak dalam satu tuntutan besar: kita ingin orang tua memahami bahasa cinta kita. Kita ingin mereka lebih terbuka, lebih mampu memvalidasi perasaan, dan lebih “modern” dalam berkomunikasi. Namun, di balik daftar keinginan itu, kita kerap lupa mengajukan pertanyaan krusial: sudahkah kita mencoba memahami mereka sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar sebagai figur otoritas atau penyokong finansial?
Benturan Dua Dunia: Antara Ketahanan dan Ekspresi
Fenomena generational gap bukan sekadar perdebatan soal selera musik atau gaya berpakaian yang berbeda ini adalah benturan filosofis antara dua dunia yang tumbuh dengan nilai yang bertolak belakang.
Generasi orang tua kita, terutama mereka yang masuk dalam kategori Baby Boomers atau Gen X, tumbuh dalam struktur masyarakat yang mengutamakan ketahanan fisik (resilience) dan kepatuhan. Bagi mereka, hidup adalah tentang bertahan: bekerja keras, memastikan dapur tetap mengepul, dan menyekolahkan anak setinggi mungkin. Dalam dunia yang keras itu, menunjukkan kerentanan emosional sering dianggap sebagai kemewahan─atau bahkan kelemahan yang membahayakan posisi mereka sebagai pelindung keluarga.
Di sisi lain, kita tumbuh di era di mana ekspresi diri adalah mata uang utama. Kita belajar bahwa perasaan harus divalidasi dan batasan (boundaries) harus ditegakkan demi kewarasan mental. Perbedaan ini menciptakan paradoks; ketidakmampuan orang tua untuk mengucap “aku bangga padamu” secara verbal sering kali kita tafsirkan sebagai sikap dingin. Padahal, bisa jadi itu adalah satu-satunya mekanisme pertahanan yang mereka punya. Mereka adalah produk dari didikan yang mungkin jauh lebih keras dan tanpa arahan kesehatan mental, namun mereka tetap mencoba memberikan yang terbaik dengan “perkakas emosional” yang sangat terbatas.
Belajar Mengerti Sebelum Dimengerti
Menjembatani jarak ini membutuhkan satu hal yang cukup sulit dilakukan: kerendahan hati untuk mengakui bahwa orang tua kita juga manusia yang bisa melakukan kesalahan. Sebelum mereka memikul beban sebagai “Ibu” atau “Ayah”, mereka adalah individu yang memiliki trauma masa kecil, kegagalan di masa muda, dan ketakutan akan masa depan yang mungkin tidak pernah mereka ceritakan karena beban peran yang mereka pikul.
Saat kita mulai memandang orang tua sebagai individu yang pernah punya mimpi─dan mungkin harus menguburnya demi membayar cicilan rumah atau biaya sekolah kita─sudut pandang kita akan bergeser. Rasa kesal perlahan akan berganti menjadi empati.
Kritik mereka yang tajam mengenai pilihan karier kita sebagai content creator atau freelancer, misalnya mungkin sebenarnya bukan bentuk ketidaksukaan. Itu adalah proyeksi rasa takut; sebuah kekhawatiran bawah sadar bahwa kita kan mengalami ketidakpastian ekonomi yang pernah mencekik mereka di masa lalu. Membangun hubungan yang lebih egaliter berarti berhenti melihat mereka sebagai sosok pahlawan yang tak boleh cacat, atau sebaliknya, antagonis yang menghalangi kebahagiaan kita. Mereka hanyalah manusia yang sama seperti kita, sedang meraba-raba mencari jalan di dunia yang semakin asing bagi mereka.
Menghapus Standar Kesempurnaan yang Melelahkan
Salah satu hambatan terbesar dalam hubungan anak dan orang tua dewasa adalah ekspektasi akan kesempurnaan. Kita berharap mereka menjadi sosok yang selalu tahu jawaban atas semua masalah, sementara di balik layar, mereka mungkin sedang berjuang melawan rasa cemas di hari tua dan penurunan fungsi fisik.
Dalam berbagai perspektif psikologi populer mengenai pemulihan hubungan keluarga, langkah pertama untuk merasa terhubung adalah dengan berhenti menuntut mereka menjadi orang lain. Kita mungkin tidak perlu memaksa mereka memahami istilah teknis seperti gaslighting atau inner child jika itu terasa terlalu asing bagi mereka. Sebaliknya, kita bisa menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan nyata yang lebih membumi.
Kita bisa menerapkan boundaries dengan tetap santun, atau mencoba memvalidasi perasaan mereka terlebih dahulu sebelum meminta divalidasi. Mengajak mereka mengobrol tentang masa muda mereka─bukan sebagai anak yang sedang diinterogasi, melainkan sebagai teman yang ingin tahu─bisa membuka pintu-pintu komunikasi yang selama ini terkunci rapat.
Ruang Refleksi: Memulai Kalimat Pertama
Pada akhirnya, menyadari bahwa orang tua kita adalah manusia yang juga sedang “belajar” menjadi dewasa untuk pertama kalinya adalah sebuah titik balik yang membebaskan. Ini membebaskan kita dari rasa sakit hati yang berkepanjangan dan membebaskan mereka dari beban ekspektasi yang mustahil untuk dipenuhi.
Kita tidak lagi melihat mereka sebagai tembok yang menghalangi kemandirian, melainkan sebagai rekan perjalanan yang sama-sama memiliki luka, harapan, dan kebingungan. Hubungan ini tidak harus sempurna untuk menjadi bermakna. Kadang, penerimaan bahwa “mereka memang begitu” adalah bentuk cinta yang paling dewasa yang bisa kita berikan.
Mari berhenti sejenak dan tarik napas. Mungkin hari ini adalah waktu yang tepat untuk tidak hanya menunggu dimengerti, tetapi mulai mencoba mengerti. Di balik setiap perbedaan logat, budaya, atau pola pikir yang kolot, ada keinginan yang sama untuk tetap merasa memiliki dan dimiliki. Kita tidak sendirian dalam perjuangan ini; hampir setiap rumah menyimpan dialog yang belum selesai. Dan mungkin, kitalah yang harus memiliki keberanian untuk memulai kalimat pertamanya.
