Moms, Meminta Anak Mengajari Sesuatu Hal yang Baru Ternyata Banyak Manfaatnya!

Moms, apakah Anda sering bertanya sesuatu hal yang baru pada anak? Kebiasaan ini mungkin tampak sepele, tapi ternyata manfaatnya besar bagi anak, lho!
Menurut psikolog yang juga parent coach Alex Anderson-Kahl, mengajak anak mengajarkan sesuatu yang mereka sukai bisa menjadi cara sederhana untuk membangun kepercayaan diri sekaligus mempererat hubungan orang tua dan anak.
Sebab anak-anak lebih sering menerima arahan, dikoreksi, dan dievaluasi. Di rumah maupun di sekolah, mereka lebih sering berada dalam posisi sebagai pihak yang belajar.
Membalik posisi tersebut, meski hanya 5 menit, akan menjadi pengalaman yang berarti bagi si kecil.
Kenapa 'Menjelaskan Sesuatu' Penting Bagi Anak?
Saat orang tua menjadi murid, anak mendapat kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka juga memiliki pengetahuan dan kemampuan yang bisa dibagikan.
Anderson-Kahl mengatakan bahwa kesempatan ini dapat membantu anak, terutama mereka yang mengalami kesulitan di sekolah, untuk menunjukkan kepercayaan dirinya.
“Anda memberi anak kesempatan nyata untuk menunjukkan kepercayaan dirinya,” ujarnya, dilansir Times.
Mengajarkan sesuatu juga membantu anak memperkuat pemahaman tentang hal yang sedang dijelaskan. Mereka perlu mengingat apa yang diketahui, menyusun penjelasan, dan melihat apakah orang lain memahami maksudnya.
Lebih dari itu, momen ini dapat membantu anak belajar memahami sudut pandang orang lain. Sebab, menjelaskan sesuatu kepada orang lain tidak selalu sama dengan sekadar mengetahuinya.
Tips Meminta Anak Mengajari Sesuatu
1. Mulai dari hal sederhana yang disukai anak
Tidak harus pelajaran sekolah. Anda bisa meminta anak mengajari cara bermain game, menjelaskan karakter favoritnya, menunjukkan cara menggambar, atau bercerita tentang sesuatu yang sedang ia minati.
Misalnya, “Boleh ajari Ibu cara bikin rumah di Minecraft?” atau “Kamu bisa jelasin kenapa karakter ini jadi favoritmu?”
2. Tunjukkan ketertarikan yang benar-benar tulus
Saat anak menjelaskan, usahakan untuk menyimak, bukan sekadar menunggu giliran berbicara. Ajukan pertanyaan yang menunjukkan bahwa Anda tertarik dengan apa yang sedang ia ceritakan.
“Terus, setelah itu gimana?” atau “Kok bisa begitu?” bisa menjadi pertanyaan sederhana yang membuat anak merasa didengarkan.
3. Biarkan anak menjadi ahlinya
Tidak perlu buru-buru mengoreksi atau mengambil alih. Jika anak sedang menjelaskan sesuatu yang Anda belum pahami, biarkan ia memandu.
Sesekali, Anda juga bisa mengatakan, “Oh, Mama baru tahu!” atau “Wah, kamu lebih paham soal ini daripada Mama.”
4. Beri waktu untuk menjelaskan dengan caranya sendiri
Anak mungkin membutuhkan waktu untuk mencari kata-kata, mengulang penjelasan, atau menunjukkan contohnya. Tidak apa-apa jika penjelasannya belum rapi.
Yang penting, ia mendapat pengalaman bahwa pengetahuannya dihargai dan ada orang yang bersedia mendengarkan.
5. Jadikan momen ini sebagai kebiasaan kecil
Tidak perlu menunggu waktu khusus. Lima menit setelah makan malam, saat bermain bersama, atau ketika anak sedang menunjukkan sesuatu yang ia sukai pun bisa menjadi kesempatan.
Sesekali, biarkan anak menjadi pihak yang mengajari. Sebab, hubungan orang tua dan anak tidak selalu harus tentang siapa yang paling tahu, tetapi juga tentang memberi ruang bagi keduanya untuk saling belajar.
