Kumparan Logo

Pentingnya Kecerdasan Emosional Anak dan Manfaatnya bagi Tumbuh Kembang

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Ibu dan Anak Foto: Manop Boonpeng/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibu dan Anak Foto: Manop Boonpeng/Shutterstock

Setiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang pintar, percaya diri, dan mampu menghadapi berbagai tantangan. Namun, kecerdasan anak bukan hanya soal kemampuan membaca, berhitung, atau meraih prestasi akademik, Moms.

Kemampuan mengenali perasaan, mengelola emosi, dan memahami orang lain juga menjadi bekal penting bagi anak untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Kemampuan ini dikenal sebagai kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ).

Psikolog Dra. A. Ratih Andjayani Ibrahim, M.M., Psikolog menjelaskan, kecerdasan emosional membantu seseorang memahami situasi yang dihadapi, mengenali perasaan yang muncul, dan menentukan respons yang tepat.

"Kecerdasan emosional adalah kemampuan kita untuk memahami apa yang terjadi di sekitar kita, sebabnya apa, dampaknya ke kita, serta nama dari perasaan dan reaksi yang muncul, lalu meresponsnya dengan benar," jelas Ratih di diskusi media “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal”, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (8/10).

Menurutnya, kecerdasan emosional perlu diperkenalkan sejak anak masih kecil. Sebab, orang tua dan saudara menjadi lingkungan terdekat yang memberikan contoh kepada anak dalam mengenali serta merespons berbagai emosi.

Mengapa Kecerdasan Emosional Penting bagi Anak?

Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Shutterstock

Anak yang menangis ketika mainannya diambil atau marah karena keinginannya tidak terpenuhi belum tentu mampu menjelaskan apa yang dirasakannya. Pada usia dini, kemampuan bahasa dan pengendalian emosi anak masih berkembang sehingga ia membutuhkan pendampingan orang tua.

Melalui proses tersebut, anak perlahan belajar memahami perasaannya, menyampaikan kebutuhan dengan lebih baik, serta menghadapi situasi yang tidak sesuai harapannya.

Ratih mengingatkan bahwa emosi negatif bukan sesuatu yang harus selalu dihindari. Marah, cemas, dan sedih merupakan bagian normal dari kehidupan. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana emosi tersebut dikelola.

"Marah, cemas, dan sedih itu emosi yang sehat. Tapi kalau marah-marah melulu, cemas terus sampai jadi anxiety, atau sedih terus sampai tidak berdaya, itu yang tidak benar," ujar Ratih.

Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat belajar bahwa merasa kecewa atau sedih bukanlah hal yang salah. Ia juga perlu memahami cara mengekspresikan perasaannya tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

Kecerdasan emosional turut mendukung kemampuan anak dalam membangun hubungan sosial. Ketika bermain bersama teman, misalnya, anak perlu belajar bergantian, memahami perasaan orang lain, dan menyelesaikan perselisihan.

Kecerdasan Emosional Membantu Anak Bersosialisasi

Ilustrasi anak nangis. Foto: Shutter Stock

Selain membantu anak mengenali perasaannya sendiri, kecerdasan emosional juga berperan dalam membangun hubungan sosial.

Ketika bermain bersama teman, misalnya, anak perlu belajar bergantian, memahami perasaan orang lain, dan menyelesaikan perselisihan. Kemampuan tersebut membantu anak menghadapi berbagai situasi dalam interaksi sehari-hari.

Anak juga perlu memahami bahwa setiap orang bisa memiliki perasaan dan reaksi yang berbeda. Ketika temannya sedih atau kecewa, ia dapat belajar memahami situasi tersebut dan memberikan respons yang sesuai.

Proses ini tentu tidak berlangsung dalam semalam, Moms. Anak membutuhkan kesempatan untuk mengalami berbagai emosi dan belajar menghadapinya dengan pendampingan orang tua.

Karena itu, kecerdasan emosional tidak berarti anak harus selalu tenang, tidak boleh marah, atau tidak pernah menangis. Justru, anak perlu mengenali berbagai perasaan yang muncul dan belajar mengelolanya secara bertahap.

Dengan dukungan lingkungan terdekat, anak dapat mengembangkan kemampuan untuk memahami diri sendiri, berempati, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.