Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Membentuk Karakter Siswa SD

Universitas Katolik Santo Thomas Medan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Lidya Simamora tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendahuluan
Pendidikan di sekolah dasar tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter peserta didik. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, empati, dan kerja sama perlu ditanamkan sejak usia dini karena akan menjadi dasar bagi perkembangan anak di masa depan.
Dalam proses tersebut, layanan Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran yang sangat penting sebagai sarana pendampingan bagi siswa agar mampu berkembang secara optimal, baik dari segi pribadi, sosial, maupun belajar.
Guru BK tidak hanya membantu siswa yang mengalami masalah, tetapi juga membimbing seluruh siswa agar memiliki karakter yang positif dan mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembentukan karakter menjadi perhatian yang semakin penting. Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat anak-anak semakin mudah mengakses berbagai informasi, baik yang bersifat positif maupun negatif.
Di sisi lain, perubahan pola pengasuhan, kesibukan orang tua, serta pengaruh lingkungan juga ikut memengaruhi perilaku anak. Tidak sedikit guru yang menghadapi siswa yang sulit berkonsentrasi, kurang disiplin, mudah marah, kurang mampu bekerja sama, bahkan melakukan perundungan terhadap temannya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk mendampingi perkembangan karakter peserta didik.
Di sinilah layanan Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran yang sangat penting. Sayangnya, keberadaan BK di sekolah dasar masih sering dipandang sebelah mata.
Banyak masyarakat yang masih menganggap guru BK hanya bertugas menangani siswa yang bermasalah atau memberikan hukuman kepada siswa yang melanggar aturan. Padahal, fungsi utama BK adalah membantu seluruh peserta didik berkembang secara optimal, baik dalam aspek pribadi, sosial, belajar, maupun perencanaan masa depan sesuai tahap perkembangan mereka.
Fakta di Lapangan
Apabila melihat kondisi di sekolah, kenyataannya masih banyak sekolah yang belum memiliki guru BK secara khusus. Layanan bimbingan dan konseling umumnya masih menjadi tanggung jawab guru kelas. Hal ini terjadi karena belum semua sekolah dasar memiliki formasi guru BK, terutama di sekolah negeri yang jumlah gurunya terbatas.
Guru kelas pada dasarnya sudah memiliki beban kerja yang cukup besar. Mereka harus merancang pembelajaran, mengajar berbagai mata pelajaran, melakukan asesmen, menyusun administrasi, berkomunikasi dengan orang tua, hingga mengikuti berbagai kegiatan sekolah.
Akibatnya, layanan bimbingan dan konseling sering kali hanya diberikan ketika muncul masalah tertentu. Pendampingan yang bersifat pencegahan maupun pengembangan karakter belum dapat dilakukan secara rutin.
Di sisi lain, permasalahan yang dihadapi siswa sekolah dasar semakin beragam. Masih sering dijumpai siswa yang sulit mematuhi tata tertib sekolah, kurang bertanggung jawab terhadap tugas, mudah bertengkar karena hal-hal kecil, mengejek teman, mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, hingga kurang memiliki rasa percaya diri ketika diminta tampil di depan kelas.
Ada pula siswa yang mengalami kesulitan mengendalikan emosi sehingga mudah menangis atau marah ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Pengaruh penggunaan gawai juga menjadi tantangan baru. Banyak anak yang menghabiskan waktu berjam-jam bermain gim atau menonton media sosial sehingga waktu belajar dan berinteraksi dengan keluarga menjadi berkurang.
Dampaknya mulai terlihat di sekolah, seperti menurunnya kemampuan berkomunikasi secara langsung, berkurangnya kepedulian terhadap teman, hingga sulit berkonsentrasi selama proses pembelajaran.
Selain itu, tidak semua siswa berasal dari lingkungan keluarga dengan kondisi yang sama. Ada anak yang mendapatkan perhatian penuh dari orang tua, tetapi ada juga yang kurang memperoleh pendampingan karena kesibukan orang tua bekerja atau kondisi keluarga lainnya. Perbedaan latar belakang tersebut turut memengaruhi perkembangan karakter dan perilaku siswa di sekolah.
Analisis
Menurut saya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak dapat dilakukan hanya melalui penyampaian materi pelajaran atau pemberian nasihat sesekali.
Anak usia sekolah dasar masih berada pada tahap perkembangan di mana mereka belajar melalui contoh, pembiasaan, pengalaman, dan pendampingan yang dilakukan secara terus-menerus. Oleh karena itu, layanan Bimbingan dan Konseling memiliki posisi yang sangat strategis.
Guru BK bukan hanya bertugas menyelesaikan masalah setelah masalah itu muncul, tetapi juga mencegah berbagai permasalahan melalui program-program yang mendukung perkembangan karakter siswa.
Misalnya, memberikan layanan bimbingan mengenai pentingnya saling menghargai, mengajarkan cara menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, melatih kemampuan mengendalikan emosi, serta membantu siswa mengenali kelebihan dan kekurangan dirinya.
Namun, saya melihat masih ada anggapan bahwa BK identik dengan ruang hukuman. Akibatnya, sebagian siswa merasa takut ketika dipanggil untuk mengikuti layanan BK. Pandangan seperti ini perlu diubah.
Guru BK seharusnya menjadi sosok yang mampu menciptakan rasa aman sehingga siswa tidak ragu untuk bercerita ketika mengalami kesulitan, baik dalam belajar, pergaulan, maupun masalah pribadi yang memengaruhi kehidupan mereka di sekolah.
Selain itu, pembentukan karakter tidak akan berhasil apabila hanya menjadi tanggung jawab guru BK. Guru kelas merupakan orang yang paling sering berinteraksi dengan siswa setiap hari sehingga keteladanan yang diberikan guru kelas memiliki pengaruh yang sangat besar.
Kepala sekolah juga berperan dalam menciptakan budaya sekolah yang positif, sedangkan orang tua menjadi pihak yang melanjutkan pendidikan karakter di rumah. Tanpa adanya kerja sama yang baik antara sekolah dan keluarga, nilai-nilai karakter yang diajarkan di sekolah akan sulit berkembang secara konsisten.
Solusi dan Harapan
Menurut saya, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memperkuat layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah dasar. Pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap kebutuhan guru BK di jenjang SD sehingga layanan konseling dapat berjalan lebih optimal sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta didik.
Selama jumlah guru BK masih terbatas, guru kelas juga perlu mendapatkan pelatihan mengenai layanan bimbingan dan konseling dasar. Dengan demikian, guru mampu mengenali tanda-tanda awal ketika siswa mengalami kesulitan belajar, masalah emosional, atau hambatan dalam bersosialisasi sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Sekolah juga perlu mengembangkan program pembentukan karakter yang dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya melalui kegiatan seremonial.
Misalnya, membiasakan budaya antre, membangun kebiasaan menyapa dengan sopan, melaksanakan kegiatan refleksi bersama, mengadakan pendidikan anti-perundungan, memberikan penghargaan terhadap perilaku positif, serta melibatkan siswa dalam kegiatan sosial dan kerja sama kelompok.
Di sisi lain, komunikasi antara sekolah dan orang tua harus semakin diperkuat. Orang tua perlu mengetahui perkembangan perilaku anak di sekolah, sementara guru juga perlu memahami kondisi anak di rumah. Dengan komunikasi yang baik, solusi yang diberikan kepada siswa akan lebih tepat karena mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi perkembangan mereka.
Penutup
Menurut saya, keberadaan guru Bimbingan dan Konseling di sekolah dasar bukan lagi menjadi kebutuhan tambahan, melainkan bagian penting dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas. Karakter yang baik tidak terbentuk dalam waktu singkat, tetapi melalui proses pendampingan, pembiasaan, keteladanan, dan kerja sama yang dilakukan secara terus-menerus.
Meskipun saat ini masih banyak sekolah dasar yang belum memiliki guru BK khusus, semangat untuk memberikan layanan bimbingan kepada peserta didik tidak boleh berhenti. Semua pihak memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter anak.
Apabila layanan Bimbingan dan Konseling diperkuat dan didukung oleh seluruh warga sekolah serta orang tua, maka sekolah tidak hanya akan menghasilkan peserta didik yang berprestasi secara akademik, tetapi juga generasi yang jujur, bertanggung jawab, peduli terhadap sesama, mampu menghargai perbedaan, dan siap menjadi warga negara yang baik di masa depan.
